Monday, October 16, 2017

The Right Man on The Right Place

Semua orang memiliki pelariannya sendiri-sendiri, ketika dunia terasa terlalu berat, pengap, dan gelap untuk dinikmati. Ada yang memilih untuk berdiam diri di kamar. Mengurung diri, menikmati sepi sendiri, tanpa interupsi. Ada yang lebih suka nongkrong bareng teman-teman. Sebat, dua bat bersama sahabat, bisa jadi mood booster paling hebat. Saya, lebih memilih untuk ke toko buku. Toko buku, bagai taman bermain untuk saya. Ada begitu banyak buku yang siap sedia dijamah, dibaca, tanpa menuntut untuk dibawa pulang. Nggak kaya orang, yang suka rewel nuntut ini itu ini itu.


Entah sudah berapa kali saya melakukan pelarian ke toko buku. Mungkin beberapa ratus kali.
Entah, sudah berapa kali saya ke toko buku tanpa beli buku. Mungkin jutaan kali.
Dan kali ini, saya mengunjungi toko buku dengan dua misi mulia. Yang pertama, untuk memulihkan mood. Yang kedua, mencari buku (pas tanggal muda).


Anyway, sudah ada beberapa list buku yang ingin saya beli. Salah satunya adalah buku Indiepreneur karya Pandji Pragiwaksono. Memang jodoh sudah ada yang mengatur, buku Indiepreneur kosong di toko buku yang saya kunjungi. Sedih. Tak mau tenggelam dalam kesedihan yang terlalu mendalam, saya mencari alternatif. Memang mimpi perlu diperjuangkan. Setelah ngetwit ke Pandji - scroll timeline twitter - pindah Instagram - twitnya dibales Pandji - scroll Instagram lagi tanpa tujuan, akhirnya saya berkunjung ke wsydnshop.com untuk meminang buku yang saya idam-idamkan. Beberapa hari kemudian, datang juga yang saya tunggu-tunggu.


Indipreneur



Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik dengan Indiepreneur. Pertama, di mata saya, Pandji adalah orang yang bisa survive dari hal-hal yang dicintai. Pandji bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari karya-karyanya. Satu hal yang mungkin belum bisa dilakukan banyak orang di Indonesia. Kedua, untuk bisa survive dari hasil berkarya, orang harus paham gimana caranya untuk jualan. And he did it. He know about brand, creative, marketing. The things that I love too. Yang ketiga, saya sudah pernah baca versi gratisannya, dan merasa bahwa buku ini sangat menarik untuk orang-orang yang ingin terus hidup dari karyanya. So, I bought one.

Seperti buku-buku Pandji lainnya, Indiepreneur ditulis dengan gaya bahasa yang ringan. Rasanya kaya lagi ngobrol sama temen, dan dia cerita suatu hal. I really enjoy it. Hingga di salah satu bagian buku, ada kalimat yang bikin saya sedikit kaget. Kaget, hingga harus membaca ulang kalimat tersebut. Begini kalimatnya:




Wait, saya berusaha mencerna kalimat barusan. Pandji, yang menurut saya paham tentang brand, promosi, marketing, dan aktif di digital, masih hire Think.Web sebagai konsultan online personal branding? Well. Setelah berhenti sejenak beberapa saat, saya mulai paham poin utama dari kalimat di atas. Saya berasumsi, Pandji menganut asas the right man, on the right place. Kredo anak manajemen ini punya premis bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang kompeten akan menghasilkan output optimal. Mungkin, Pandji merasa bahwa dia kurang paham banget soal per-digital-an, maka dia butuh Think.Web sebagai the right man on the right place.

Jujur, ini sangat membuka mata saya. Pandji, yang di mata saya sangat mumpuni soal tetek bengek dunia marketing dan branding, masih hire konsultan untuk online personal branding. Pandji, yang selama ini jadi salah satu referensi saya dalam mencari ilmu, masih merasa butuh bantuan orang lain. LAH, TERUS APA KABAR SAYA? Langsung berasa kecil dan malu. Malu, kalo masih sok merasa bisa apa-apa. Malu, karena mungkin masih sering memandang pekerjaan orang lain lebih gampang. Kalo Pandji- yang sudah bikin beberapa buku, bikin tour stand up comedy, pernah punya acara TV sendiri, follower social media-nya banyak, udah pernah main film- masih merasa butuh orang lain yang lebih expert, TERUS KITA YANG MASIH GITU-GITU AJA HARUSNYA MALU DONG KALO NGERASA BISA APA-APA SENDIRI!

Karena pada akhirnya, orang yang bilang,”Ah, desain doang kan gampang!” kalo disuruh bikin desain sendiri paling disuruh bikin layer di photoshop bingung. Pun dengan orang yang nyeletuk,”Ah, ngoding buat website kan gampang!” pasti taunya Python itu cuma ular yang lilitannya kuwat. Apalagi orang yang bilang,”Bikin copy/tulisan doang, susahnya apa sih?” pasti seumur hidup cuma pernah nulis di buku catatan pas SD. SMP, SMA, Kuliah nggak punya buku catatan.

Pada akhirnya, kredo the right man on the right place memang dilandasi oleh fakta bahwa kita nggak bisa jago di semua hal. Dan oleh karena itu, kita pasti butuh bantuan orang yang lebih ngerti di suatu bidang yang kita perlukan. Terima kasih, mas Pandji, sudah mengingatkan karena saya bukan Doraemon yang punya segudang alat buat ngapain aja, saya masih butuh orang lain yang lebih paham dari saya.

Monday, September 25, 2017

Alasan Kenapa Bawa Kamus Setiap Hari itu Baik. No 8 Paling Mencengangkan!

“Anak jaman sekarang udah susah banget lepas dari smartphone” - seorang teman saya

    Rasanya, banyak orang yang menyetujui pernyataan salah seorang teman saya itu. Tapi, kalau boleh, saya mau revisi sedikit. Sepertinya lebih cocok begini kalimatnya,

“Hampir tiap orang, susah banget lepas dari smartphone”

    Mau generasi millennial, generasi X, generasi Y, generasi Z, semua sudah terlanjur punya keintiman dengan smartphone-nya masing-masing. Cuma 1 dari 10 orang yang akan cuek aja ketika sadar HP nya ketinggalan di rumah pas mau  pergi. Yang 9 orang, memutuskan untuk pulang lagi, meskipun sudah sangat dekat dengan destinasi. Demi sebuah smartphone.

    Smartphone, dengan segala fiturnya, digadang-gadang memiliki banyak manfaat positif bagi penggunanya. Iya, yang menggunakan secara positif. Yang kerjaannya kepo akun gosip di IG tiap hari juga banyaaak. Lebih banyak, mungkin, dibanding yang tiap hari baca berita bermanfaat di CNN atau BBC. Yang mengakses jurnal internasional bisa dihitung dengan jarinya Doraemon, alias jarang banget. Smartphone, bikin attention span kita jadi sangat pendek. Udah bukan short term lagi, tapi very very short term.

    Dan celakanya, saya pun mulai merasakan kencaduan smartphone, atau social media lebih tepatnya. Kecemasan ini muncul karena saya mulai terlalu sering meraih smartphone untuk mengakses social media tanpa tujuan yang jelas. Rasanya tangan ini sudah punya jalurnya sendiri, seperti bus transjakarta. Otomatis mencari smartphone, menggenggamnya dengan mesra, dan mulai scrolling timeline. Cemas, gelisah, karena saya nggak mau kencaduan social media. Bisa bahaya. Waktu, tidak bisa diputarbalik. Saya nggak mau di umur 40an saya menyesali waktu yang terbuang karena kepo baca berita terhangat Line Today atau kepo IG story selebgram yang sebetulnya saya nggak kenal juga. Saya harus berbuat sesuatu.

    Menurut asumsi saya, sebetulnya tangan ini suka sok inisiatif meraih smartphone karena kita nganggur, bengong, bosen, dan merasa butuh sesuatu untuk mendistraksi perasaan itu. Dan media yang paling dekat, menyenangkan, dan egois adalah smartphone. Jadi, saya memiliki hipotesa bahwa yang kita butuhkan cuma alternatif pengganti smarphone ketika nganggur, bengong, bosen mulai melanda. Jika dipikir-pikir, sebetulnya banyak hal yang bisa kita jadikan alternatif, mulai dari baca buku, menghafalkan nama latin jenis-jenis padi, merencanakan hidup, atau merenungi nasib yang gini-gini aja. Karena saya anak IPS yang sudah bosan merenungi nasib, saya memilih buku sebagai media alternatif saya.
   
Belakangan, saya sering bawa buku kemana-mana. Di tas, pasti selalu ada buku bacaan. Bukunya nggak selalu sama, bisa ganti-ganti tiap hari. Tapi, pasti selalu ada buku yang siap saya hampiri ketika smartphone terasa sangat menggoda. Metode ini lumayan berhasil, meskipun belum 100%. Karena saya punya pilihan, antara smartphone atau buku. Kadang-kadang buku yang menang, tapi nggak jarang juga smartphone yang menang.

    Ada satu buku yang selalu saya bawa kemana-mana. Judulnya, “Oxford Learner’s Pocket Dictionary”. Iya, saya bawa kamus. Kenapa kamus? Karena kamus ini kepake terus setiap hari. Sebagai insan yang suka sok baca artikel berbahasa Inggris, saya sering menemui vocab yang nggak tau artinya. Berangkat dari kebutuhan ini, saya coba alihkan kebiasaan nyari di google translate jadi aktivitas buka-buka halaman kamus. Di saat bosen, bisa juga iseng nyari perbendaharaan vocab baru. Setidaknya, otak saya punya alternatif kebiasaan selain nyamber smartphone. Sekarang bisa juga nyamber kamus Oxford. Oh iya, entah kenapa, vocab yang saya cari secara manual di kamus lebih nempel di otak daripada yang dicari di google translate.

Source: Google


Mungkin, metode saya bisa digunakan oleh teman-teman yang membaca tulisan singkat ini.

Ps:
Tulisan ini ditulis setelah membaca tulisan teman saya yang ini.
Sorry for the title. Can't resist the temptation to make such a bombastic title.

Wednesday, September 13, 2017

Thank You



By writing this, I just want to say “thank you”.

To everyone who involved in my whole life. For almost 24 years wandering around in this journey called life, I’ve been meeting tons of peoples.

All I can say is, everyone who have come to my life just make me who I am today. No matter how and why they fill my life.

We can’t deny that our society, our colleague, our friend, our circle will bring some impact into our personality and life.

Maybe, we become someone better because we’re dumped. Maybe, we learned something new because we’re rejected. Maybe, we learned to fight because we’re intimidated. Maybe, we tried our best because we’re loved.

Every each person who come into your life, shape who you are.

So, don’t forget to thank them. All of them.

They who support you.
They who hate you.
They who put you in a trouble.
Or they who give you joy.

Tell yourself, “I wouldn’t be who I am today, I they weren’t exist.”

Saturday, February 25, 2017

Make Positivity Louder by Gary Vee


I just  recently become Gary Vaynerchuk’s listener.  It was started when one  of my friend gave me Gary’s video about “what to do after college”.

"Wow, this guy is crazy but true. Enough said, he just told us all the truth. Not in the most convenient way, but in the most striking way. He did not sugar coating the ugly truth. Because it is what is."


That was my first impression on him. And so, yeah, I regularly check on his content. All his content is great. It’s clear. It’s straight to the point. It is sound real. He will tell you every single aspect that will come to you in this rough life. Well, nobody said that life is easy. 

And a few weeks ago, I watch this  and it blown my mind. 

Gary reminds me that the world today is surrounded by negativity. We can find it around the corner. Your work mates spread the negative vibes, your school buddy does the same. Simply said, everybody do the thing, and social media make it event worst. Social media is filled with hate speech, endless complain about almost anything, mean comment or argument.  The worst thing about bad vibes is, it is damn contagious.

Here’s what Gary said about negativity:

“Everybody get their own stuff, and nobody cares. You are complaining to an empty air. Once you realized that you are complaining to an empty air, you will go to another direction”


Yeah, we all do post some shitty complain in our social media. We just don’t realize that NOBODY CARES ABOUT OUR SHITTY LIFE. Excuse my language, but it is the truth. If you complain about how your company treat you, no one will do anything for you. It is all on you. If you feel you deserve a better company, all you need to is submit your resign letter and find a new company. DONE. Just do something, instead of complaining.

Gary gives me a new perspective in living my life. 

First. Bad vibes only give you bad effect. If you are filled with negativity, it will affect on how you feel during the day. Well, you will never be able to smile when you are filled with tons of negativity.

Second. Bad vibes is contagious. Your negative co-worker could make you negative too.  But, when you are positive, you can also make another become positive.

Third. We all need to be louder in shouting positivity on social media. Well, social media is quite negative now, and it is our fault. It is because we allow negative people louder in social media. It is us that should spreading positivity on social media. 

Fourth. Instead of cursing or complaining, you can just do something to change it. There is no need to spend your time, energy and positivity on complaining to an empty air.

Spread the positivity :)

Sunday, January 8, 2017

Free Time (?)

“Waktunya lebih fleksibel,” adalah salah satu alasan terbesar orang untuk memulai usahanya sendiri.

Dengan memulai usaha sendiri, memang kita sendiri yang memiliki wewenang penuh untuk mengatur waktu. Mau mulai kerja jam 10:00, boleeeeh. Mau pulang jam 12:00, juga boleeeeh. Bebas. Namanya juga yang punya, bukan karyawan. But, let me explain something to you.

Fleksibilitas waktu yang dielu-elukan itu tidak hanya bersifat positif. It can be fun, but it also can fuck you really hard. Blogpost kali ini terinspirasi dari obrolan saya dengan salah satu teman yang kebetulan beruntung bisa terjun di dunia usaha. Dia bilang kalau dia baru aja balik dari kerja. Waktu itu jarum menunjukkan pukul 22:00. Waktu saya sering lembur di Jakarta aja nggak sampai jam segitu amat pulangnya. Di akhir percakapan, teman saya berujar, “Owner pulang terakhir hal biyasa.”

“OWNER PULANG TERAKHIR HAL BIYASA.”

Kadang orang mengira, dengan memiliki posisi sebagai owner dari sebuah usaha, maka ia akan terbebas dari jeratan waktu. Mau tau-tau liburan, bisaaaa. Lagi males kerja, pengen di rumah aja juga bisaaaaa. SALAH BESAAAR. Yang bener adalah, lebih bebas mengatur waktu. Mengatur, ya, bukan membebaskan diri. Beberapa waktu yang lalu, saya harus mendatangi Malaysia, dalam rangka menengok Upin, Ipin, serta Kak Ros. Karena saya adalah owner, saya tidak perlu ijin siapapun. Saya tidak perlu membuat surat ijin yang menerangkan alasan saya untuk tidak masuk dan segala keribetan lainnya. Stop. Privilege yang saya dapatkan dengan menjadi seorang owner hanya sampai di situ. Sembari nengok Upin Ipin, saya masih harus memantau pekerjaan yang saya tinggal. Kalau saya berposisi sebagai karyawan, pekerjaan yang saya tinggal mungkin hanya memiliki kontribusi sebesar 10% bagi kantor. But, thanks to “co-founder” title on my business card, kontribusi saya ke kantor bisa jadi 80%-100%. So, I can’t completely leave work.

Seperti yang saya bilang di awal, fleksibilitas waktu ini punya dua sisi. Sebuah pandangan yang jarang disadari oleh orang-orang yang kebelet punya usaha supaya waktunya lebih bebas. Jam kerja fleksibel itu bisa berarti:
a. Jam kerja lebih singkat. Kurang dari 8 jam
b. Jam kerja lebih puanjaaaaaaaaang. Bisa jadi 24/7, 365 a year. Nggak sepanjang itu sih. Tapi tetep aja lebih panjang.

Saya lebih sering ngerasain yang opsi B, nih. Boro-boro pulang jam 17:00, tiap hari saya pasti pulang di atas jam 18:00 atau 19:00. Jarang banget saya pulang masih melihat matahari. Tiap pulang pasti hari sudah gelap. Matahari sudah turun dari langit. Weekend? Kalau emang masih ada yang harus dikerjakan, nggak jarang weekend saya serasa weekday. Capek? Ya, capek emang. Tapi emang ini yang harus dilakukan. Harga yang harus dibayar atas tulisan “co-founder” di business card saya. Toh, kalau seluruh pekerjaan berhasil diselesaikan dengan baik, saya sendiri yang merasakan hasilnya.


Jadi, masih yakin dengan konsep FREE TIME seorang pengusaha? Nggak sepenuhnya free memang, tapi worth to try :)

Sunday, January 1, 2017

2k17!!

HAPPY NEW YEAR!!

Well, this is my first post in 2017. I will not write much. I just want to recap how 2016 was for me. Simply as a note for myself.

Basically, 2016 was great for me. It was just like another years, but with different responsibility to hold.
Early in 2016, I came back to Solo after spending almost 7 months working in Jakarta. My top priority was: working on my final assignment and starting my own company. 

So, yeah, I finally had my own company - It’s Banana and Solocult - running this year. It’s Banana is a digital agency, and Solocult is a new media about Solo. Unfortunately, Solocult has to stop for a while. I hope Solocult will be active again early in 2017.

2016 has taught me things. How to maintain a company, how to manage people, how to negotiate with client, how to manage time. For me, 2016 was a real proof of “Experience is the best teacher”. I had no experience on running a company, so I need to learn every single day. Because every single day, there’s a problem welcoming me :)

2016 has taught me that if you have a plan, just do it! Do it by yourself! Don’t wait for others! Some said, “If you want to go far, go together. But if you want to go quick, go by yourself”. But for me, “If you want to start something, start it by yourself”. Don’t wait the others. One man show is far more flexible.  One man show is far more efficient. Do it by yourself for a while, at least until everything is steady. Later on, you can recruit others in order to help you.

2016 has taught me that show must go on, no matters what. I need to make sure that my team in It’s Banana could survive month after month. No matter what, show must go on.

2016 has taught me that sometimes network is far more important than your skill. Sometimes, network could take you to places that you never imagined. Just by spending a couple hours with your colleague.

2016 has taught me that it’s okay to make the wrong move. I did make wrong moves. But it’s okay. It’s not about to prevent the wrong move, it’s about what you do after you make the wrong move.  2016 has taught me how precise your plan is, there is always be some shits that will ruin it. Trust me.

That was my 2016 in a wrap. What’s for 2017? I need to have my final assignment done and execute some ideas in my mind.

We’ll see how it goes :)

Tuesday, December 27, 2016

Buzzer: It Comes With Great Responsibility (?)

Well, dunia digital membuka banyak jenis pekerjaan baru. Digital strategist, digital media planner, dan buzzer. Buzzer mulai menjadi suatu hal yang common di masyarakat. Bahkan mungkin sekarang adik-adik kita banyak yang pengen jadi buzzer. Iya lah, dengan rate selangit, bisa dibayangkan berapa banyak penghasilan seorang buzzer.

Oke, sebetulnya apa yang diperlukan untuk menjadi seorang buzzer? Apakah hanya sekedar follower? Atau ada faktor lain. Kebetulan hari ini, saya ngelihat ada produk buzz yang bikin hati ini agak tertohok. Mari kita perhatikan seksama:



Hal apa yang terlintas di pikiran Anda pertama kali ngelihat postingan ini? Nggak ada? Semua terlihat normal? Semua baik-baik saja? Oh, Big Ben nya kok miring, ya?

Di benak saya, yang pertama kali kepikiran adalah: “INI APA HUBUNGANNYA ANTARA SUNLIGHT AMA BIG BEN?”
Yang kemudian berlanjut ke: “INI NGEBUZZ YA NGEBUZZ, TAPI TOLONG DONG AGAK KREATIF DIKIT?”
Saya sebel. Sebel setengah mati sama postingan ini. Tapi rasa sebel ini pelan-pelan berganti menjadi: “Ini kalo ada buzzer yang postingnya sembarangan begini, sebetulnya siapa yang salah? Apakah audiencenya yang katrok? Agencynya yang kurang cermat? Atau brand yang ga terlalu picky?”

Kemudian saya merenung.

Buzzer emang menjadi sebuah pilihan bagi brand untuk membantu mereka menyuarakan apapun yang ingin mereka suarakan.  Saya pernah beberapa kali menggunakan bantuan teman-teman buzzer juga. Dan hasilnya memang sangat efektif. Karena memang waktu itu saya kerjasama dengan buzzer yang sudah terjamin kualitasnya. Sebut saja The Popoh, Clara Devi, Cameo Project, dan sebagainya. Satu hal yang saya salut dengan para influencer ini (saya lebih suka menggunakan istilah ini) adalah dedikasi mereka dalam membuat konten. They craft it with their best effort. Bukan yang sembarangan posting. Bukan yang “Ah, penting brandnya keliatan!” Saya sendiri sempat takjub dengan dedikasi dan effort yang mereka berikan dalam mengerjakan sebuah konten untuk ngebuzz suatu brand. Pundi-pundi yang harus dikeluarkan setimpal dengan rasa senang melihat konten berkualitas.

Tapi semakin hari, saya melihat banyak yang mulai mengclaim dirinya sebagai buzzer dengan bermodalkan followers semata. They think because they have massive number of followers, they can be a buzzer. They think being a buzzer means they could post any kind of content. They don’t think about any further aspects. Di posisi ini, saya merasa sedih. 

Entah siapa yang salah? Apakah audience sebegitu ‘bodoh’nya sehingga dianggap akan baik-baik saja menerima postingan buzz seperti itu?
Apakah brand sudah tutup mata dengan kualitas promotional tools yang menyangkut nama mereka sendiri?
Apakah buzzer yang memang juga tidak peduli dengan konten dan pertanggungjawaban mekera sebagai influencer?

Uncle Ben once said, “With great power, come great responsiblity.” And massive followers means great power.


Fin.