Saturday, February 25, 2017

Make Positivity Louder by Gary Vee


I just  recently become Gary Vaynerchuk’s listener.  It was started when one  of my friend gave me Gary’s video about “what to do after college”.

"Wow, this guy is crazy but true. Enough said, he just told us all the truth. Not in the most convenient way, but in the most striking way. He did not sugar coating the ugly truth. Because it is what is."


That was my first impression on him. And so, yeah, I regularly check on his content. All his content is great. It’s clear. It’s straight to the point. It is sound real. He will tell you every single aspect that will come to you in this rough life. Well, nobody said that life is easy. 

And a few weeks ago, I watch this  and it blown my mind. 

Gary reminds me that the world today is surrounded by negativity. We can find it around the corner. Your work mates spread the negative vibes, your school buddy does the same. Simply said, everybody do the thing, and social media make it event worst. Social media is filled with hate speech, endless complain about almost anything, mean comment or argument.  The worst thing about bad vibes is, it is damn contagious.

Here’s what Gary said about negativity:

“Everybody get their own stuff, and nobody cares. You are complaining to an empty air. Once you realized that you are complaining to an empty air, you will go to another direction”


Yeah, we all do post some shitty complain in our social media. We just don’t realize that NOBODY CARES ABOUT OUR SHITTY LIFE. Excuse my language, but it is the truth. If you complain about how your company treat you, no one will do anything for you. It is all on you. If you feel you deserve a better company, all you need to is submit your resign letter and find a new company. DONE. Just do something, instead of complaining.

Gary gives me a new perspective in living my life. 

First. Bad vibes only give you bad effect. If you are filled with negativity, it will affect on how you feel during the day. Well, you will never be able to smile when you are filled with tons of negativity.

Second. Bad vibes is contagious. Your negative co-worker could make you negative too.  But, when you are positive, you can also make another become positive.

Third. We all need to be louder in shouting positivity on social media. Well, social media is quite negative now, and it is our fault. It is because we allow negative people louder in social media. It is us that should spreading positivity on social media. 

Fourth. Instead of cursing or complaining, you can just do something to change it. There is no need to spend your time, energy and positivity on complaining to an empty air.

Spread the positivity :)

Sunday, January 8, 2017

Free Time (?)

“Waktunya lebih fleksibel,” adalah salah satu alasan terbesar orang untuk memulai usahanya sendiri.

Dengan memulai usaha sendiri, memang kita sendiri yang memiliki wewenang penuh untuk mengatur waktu. Mau mulai kerja jam 10:00, boleeeeh. Mau pulang jam 12:00, juga boleeeeh. Bebas. Namanya juga yang punya, bukan karyawan. But, let me explain something to you.

Fleksibilitas waktu yang dielu-elukan itu tidak hanya bersifat positif. It can be fun, but it also can fuck you really hard. Blogpost kali ini terinspirasi dari obrolan saya dengan salah satu teman yang kebetulan beruntung bisa terjun di dunia usaha. Dia bilang kalau dia baru aja balik dari kerja. Waktu itu jarum menunjukkan pukul 22:00. Waktu saya sering lembur di Jakarta aja nggak sampai jam segitu amat pulangnya. Di akhir percakapan, teman saya berujar, “Owner pulang terakhir hal biyasa.”

“OWNER PULANG TERAKHIR HAL BIYASA.”

Kadang orang mengira, dengan memiliki posisi sebagai owner dari sebuah usaha, maka ia akan terbebas dari jeratan waktu. Mau tau-tau liburan, bisaaaa. Lagi males kerja, pengen di rumah aja juga bisaaaaa. SALAH BESAAAR. Yang bener adalah, lebih bebas mengatur waktu. Mengatur, ya, bukan membebaskan diri. Beberapa waktu yang lalu, saya harus mendatangi Malaysia, dalam rangka menengok Upin, Ipin, serta Kak Ros. Karena saya adalah owner, saya tidak perlu ijin siapapun. Saya tidak perlu membuat surat ijin yang menerangkan alasan saya untuk tidak masuk dan segala keribetan lainnya. Stop. Privilege yang saya dapatkan dengan menjadi seorang owner hanya sampai di situ. Sembari nengok Upin Ipin, saya masih harus memantau pekerjaan yang saya tinggal. Kalau saya berposisi sebagai karyawan, pekerjaan yang saya tinggal mungkin hanya memiliki kontribusi sebesar 10% bagi kantor. But, thanks to “co-founder” title on my business card, kontribusi saya ke kantor bisa jadi 80%-100%. So, I can’t completely leave work.

Seperti yang saya bilang di awal, fleksibilitas waktu ini punya dua sisi. Sebuah pandangan yang jarang disadari oleh orang-orang yang kebelet punya usaha supaya waktunya lebih bebas. Jam kerja fleksibel itu bisa berarti:
a. Jam kerja lebih singkat. Kurang dari 8 jam
b. Jam kerja lebih puanjaaaaaaaaang. Bisa jadi 24/7, 365 a year. Nggak sepanjang itu sih. Tapi tetep aja lebih panjang.

Saya lebih sering ngerasain yang opsi B, nih. Boro-boro pulang jam 17:00, tiap hari saya pasti pulang di atas jam 18:00 atau 19:00. Jarang banget saya pulang masih melihat matahari. Tiap pulang pasti hari sudah gelap. Matahari sudah turun dari langit. Weekend? Kalau emang masih ada yang harus dikerjakan, nggak jarang weekend saya serasa weekday. Capek? Ya, capek emang. Tapi emang ini yang harus dilakukan. Harga yang harus dibayar atas tulisan “co-founder” di business card saya. Toh, kalau seluruh pekerjaan berhasil diselesaikan dengan baik, saya sendiri yang merasakan hasilnya.


Jadi, masih yakin dengan konsep FREE TIME seorang pengusaha? Nggak sepenuhnya free memang, tapi worth to try :)

Sunday, January 1, 2017

2k17!!

HAPPY NEW YEAR!!

Well, this is my first post in 2017. I will not write much. I just want to recap how 2016 was for me. Simply as a note for myself.

Basically, 2016 was great for me. It was just like another years, but with different responsibility to hold.
Early in 2016, I came back to Solo after spending almost 7 months working in Jakarta. My top priority was: working on my final assignment and starting my own company. 

So, yeah, I finally had my own company - It’s Banana and Solocult - running this year. It’s Banana is a digital agency, and Solocult is a new media about Solo. Unfortunately, Solocult has to stop for a while. I hope Solocult will be active again early in 2017.

2016 has taught me things. How to maintain a company, how to manage people, how to negotiate with client, how to manage time. For me, 2016 was a real proof of “Experience is the best teacher”. I had no experience on running a company, so I need to learn every single day. Because every single day, there’s a problem welcoming me :)

2016 has taught me that if you have a plan, just do it! Do it by yourself! Don’t wait for others! Some said, “If you want to go far, go together. But if you want to go quick, go by yourself”. But for me, “If you want to start something, start it by yourself”. Don’t wait the others. One man show is far more flexible.  One man show is far more efficient. Do it by yourself for a while, at least until everything is steady. Later on, you can recruit others in order to help you.

2016 has taught me that show must go on, no matters what. I need to make sure that my team in It’s Banana could survive month after month. No matter what, show must go on.

2016 has taught me that sometimes network is far more important than your skill. Sometimes, network could take you to places that you never imagined. Just by spending a couple hours with your colleague.

2016 has taught me that it’s okay to make the wrong move. I did make wrong moves. But it’s okay. It’s not about to prevent the wrong move, it’s about what you do after you make the wrong move.  2016 has taught me how precise your plan is, there is always be some shits that will ruin it. Trust me.

That was my 2016 in a wrap. What’s for 2017? I need to have my final assignment done and execute some ideas in my mind.

We’ll see how it goes :)

Tuesday, December 27, 2016

Buzzer: It Comes With Great Responsibility (?)

Well, dunia digital membuka banyak jenis pekerjaan baru. Digital strategist, digital media planner, dan buzzer. Buzzer mulai menjadi suatu hal yang common di masyarakat. Bahkan mungkin sekarang adik-adik kita banyak yang pengen jadi buzzer. Iya lah, dengan rate selangit, bisa dibayangkan berapa banyak penghasilan seorang buzzer.

Oke, sebetulnya apa yang diperlukan untuk menjadi seorang buzzer? Apakah hanya sekedar follower? Atau ada faktor lain. Kebetulan hari ini, saya ngelihat ada produk buzz yang bikin hati ini agak tertohok. Mari kita perhatikan seksama:



Hal apa yang terlintas di pikiran Anda pertama kali ngelihat postingan ini? Nggak ada? Semua terlihat normal? Semua baik-baik saja? Oh, Big Ben nya kok miring, ya?

Di benak saya, yang pertama kali kepikiran adalah: “INI APA HUBUNGANNYA ANTARA SUNLIGHT AMA BIG BEN?”
Yang kemudian berlanjut ke: “INI NGEBUZZ YA NGEBUZZ, TAPI TOLONG DONG AGAK KREATIF DIKIT?”
Saya sebel. Sebel setengah mati sama postingan ini. Tapi rasa sebel ini pelan-pelan berganti menjadi: “Ini kalo ada buzzer yang postingnya sembarangan begini, sebetulnya siapa yang salah? Apakah audiencenya yang katrok? Agencynya yang kurang cermat? Atau brand yang ga terlalu picky?”

Kemudian saya merenung.

Buzzer emang menjadi sebuah pilihan bagi brand untuk membantu mereka menyuarakan apapun yang ingin mereka suarakan.  Saya pernah beberapa kali menggunakan bantuan teman-teman buzzer juga. Dan hasilnya memang sangat efektif. Karena memang waktu itu saya kerjasama dengan buzzer yang sudah terjamin kualitasnya. Sebut saja The Popoh, Clara Devi, Cameo Project, dan sebagainya. Satu hal yang saya salut dengan para influencer ini (saya lebih suka menggunakan istilah ini) adalah dedikasi mereka dalam membuat konten. They craft it with their best effort. Bukan yang sembarangan posting. Bukan yang “Ah, penting brandnya keliatan!” Saya sendiri sempat takjub dengan dedikasi dan effort yang mereka berikan dalam mengerjakan sebuah konten untuk ngebuzz suatu brand. Pundi-pundi yang harus dikeluarkan setimpal dengan rasa senang melihat konten berkualitas.

Tapi semakin hari, saya melihat banyak yang mulai mengclaim dirinya sebagai buzzer dengan bermodalkan followers semata. They think because they have massive number of followers, they can be a buzzer. They think being a buzzer means they could post any kind of content. They don’t think about any further aspects. Di posisi ini, saya merasa sedih. 

Entah siapa yang salah? Apakah audience sebegitu ‘bodoh’nya sehingga dianggap akan baik-baik saja menerima postingan buzz seperti itu?
Apakah brand sudah tutup mata dengan kualitas promotional tools yang menyangkut nama mereka sendiri?
Apakah buzzer yang memang juga tidak peduli dengan konten dan pertanggungjawaban mekera sebagai influencer?

Uncle Ben once said, “With great power, come great responsiblity.” And massive followers means great power.


Fin.

Gojek, the Art of Enjoying a Lil Freedom

Saya berkenalan dengan Gojek kurang lebih setahun yang lalu, ketika saya merantau untuk bekerja di Jakarta. Saat itu, Gojek baru tenar-tenarnya, thanks to promo 15.000 untuk 20km!! Rasanya di setiap lampu merah selalu dipenuhi jaket ijo khas milik Gojek. Saat itu, saya benar-benar terpana dengan keberadaan Gojek. It’s a simple thing with a massive impact for people in big and busy city like Jakarta. I do love Gojek. It is simple and efficient.

Bahkan hingga saya sudah kembali ke Solo, Gojek masih menjadi pilihan bagi saya. Kalau kendaraan di rumah sedang tidak available, saya akan langsung order Gojek sebagai moda transportasi ke kantor. Jujur, bagi saya, Gojek bukan hanya sebuah sarana transportasi yang bisa mengantarkan saya dari titik A ke titik B. Gojek is more personal for me. Buat saya, Gojek memberikan sensasi tersendiri. Gojek gives me minutes to enjoy my ride. Gojek gives me a short espace. A short escape from taking any decision. I don’t have to worry about which way I need to take. I don’t have to worry about insane driver. All I need to is just sit and enjoy the ride. 

I believe we all have a responsibility. We all do. An employee, owner of a company, student, wife, husband. Well, that is life. As I’m starting my own little company, I always face problems. Every single day, I need to find the best solution. Every single day, I need to take decisions. Every single day, I need to make sure this company will survive. And it’s quite exhausting at some points. I need a short break. I need time. I need to be in the position where I don’t need to think just for a while. And Gojek gives me those things.

Berkendara di jalan raya adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Hanya saja, kita seringkali tidak merasakannya. Konsentrasi amat sangat terkuras selama di jalan. Pengendara motor yang main selap-selip di lampu merah, pengayuh becak yang suka nerobos lampu merah, dan insan-insan yang suka belok tanpa ngasih tanda membuat kita harus ekstra hati-hati di jalan. Boro-boro bisa mengistirahatkan pikiran, meleng dikit bisa-bisa kita udah nyundul kendaraan orang lain. Somehow, I find driving a vehicle is exhausting. Gojek, membebaskan saya dari segala hal melelahkan itu. Yang perlu saya lakukan hanyalah order Gojek, setting lokasi tujuan, tunggu driver datang, duduk manis, dan saya tinggal menikmati perjalanan saya!! Bahkan saya baru menyadari ada beberapa bangunan baru di kota Solo, ketika saya menggunakan Gojek. Padahal setiap hari saya melewati jalur itu untuk ke kantor!! I just realize it when I’m using Gojek.


Thank you, Gojek, for giving me a time to enjoy my ride :)

Notes: This is not a paid promote. Simply a honest writing from a Gojek user :)

Monday, December 5, 2016

HUSTLE ALL DAY, EVERYDAY!!

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Jarum panjang baru beberapa waktu yang lalu melewati angka 12 ketika saya sampai di rumah. Yak, saya baru aja pulang dari kantor. Orang-orang terdekat saya pasti tahu kebiasaan saya ngantor sampai malem begini. Beberapa bahkan ngomel, “Kerja di Jakarta ama di Solo kok sama aja sering pulang malem?” Memang beberapa waktu yang lalu saya sempat bekerja di ibukota. Mencoba mencari ilmu dan pengalaman di kota yang sering disebut sebagai barometer hal apapun di Indonesia. Baru awal 2016, saya kembali ke Solo untuk menuntaskan kewajiban skripsi sembari merintis sebuah usaha sendiri.

Saya menulis blogpost kali ini karena dua hal. Yang pertama karena nggak ngantuk-ngantuk padahal capek, yang kedua untuk sedikit berbagai pengalaman seputar memulai usaha sendiri. Sekilas, kegiatan pulang larut yang sering saya lakoni ini nggak ada bedanya dengan apa yang sering saya lakukan di Jakarta dulu. Jam kerja dimulai dari jam 10 pagi hingga tak terhingga. Hehe. Di Jakarta dulu, sebagai Account Executive, paling cepet saya pulang dari kantor jam 8 malem. Kayanya pulang sebelum jam itu haram hukumnya. Nah, hal ini terulang lagi di Solo. Iya, di Solo. Kota yang katanya masih santai dan bersahabat dengan waktu. Kok bisa? Bisa dong. Nah, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan kenapa saya bisa sampai pulang malem dan kenapa justru pulang malem itu harus saya lakukan.

Sebelum lebih jauh, perlu digarisbawahi bahwa ada perbedaan yang amat sangat signifikan antara pekerjaan saya di Jakarta dan di Solo. Di Jakarta, saya bekerja sebagai seorang Account Executive di salah satu digital agency. Di Solo, saya punya digital agency sendiri, dimana saya berperan sebagai owner sekaligus managin director. Here we go!

Banyak orang bilang, “Ilah, kerja melulu ngapain, sob?! Jangan gila harta, deh!” Ini kalimat yang paling sering saya temui selama ini. Jujur, di awal membangun usaha, saya juga sering mikir gini. Setiap pulang malem selalu mikir, “Kok kerja melulu, ya? Kapan istirahatnya?” Saya sempat mempertanyakan apa bedanya kerja di Jakarta dan di Solo? Padahal katanya Solo lebih nyantai dan lebih bersahabat dengan waktu. Rupanya saya melupakan suatu hal yang amat sangat mendasar. Di Jakarta, saya bekerja sebagai karyawan. Di Solo, saya berperan sebagai owner!! Di Jakarta dulu, setiap lelah bekerja, saya sering mikir, “Udah, ah! Kerja melulu buat kantor. Besok lagi ah!” Sebuah pemikiran yang wajar, sih. Sebab, mau saya kerja sampai gimana juga, gaji saya tetap akan segitu-segitu aja. Perusahaan lah yang akan mendapatkan benefit secara langsung dan signifikan dari apa yang sudah saya kerjakan. Tapi, ketika saya menjadi owner sebuah usaha. Apa yang saya dapatkan akan sebanding dengan apa yang saya kerjakan. Jika saya bekerja 20 jam bisa menghasilkan 20 juta, maka ketika saya lembur untuk menghasilkan 25 juta, saya adalah orang pertama yang menikmati margin sebesar 5 juta itu. Perbedaan yang sungguh sangat signifikan bukan?

Alasan kedua adalah karena sayalah nahkoda yang menentukan kemana usaha saya ini akan berlabuh. Sebagai owner dan managing director, saya bertanggung jawab atas keselamatan serta kesuksesan usaha saya ini. Bak sebuah kapal, saya adalah nahkodanya. Jika bukan saya, siapa lagi yang akan mengarahkan kapal ini? Bisa-bisa kapal justru akan karam tanpa pernah mencapai tujuannya. Betul? Salah satu teman saya, owner dari Death Pomade pernah berujar, “Ini usaha kita. Kalau bukan kita yang berjuang buat usaha ini, siapa lagi? Ya emang harus kerja keras!” Kalimat itu terus saya ingat hingga saat ini. Terutama ketika saya sedang merasakan lelah yang teramat sangat dalam menjalankan usaha ini.

Alasan yang terakhir ini mungkin kesannya penting nggak penting. Terkadang saya pulang malam tidak hanya karena masih ada kerjaan yang menuntut diselesaikan, tetapi untuk membangun network. Kantor yang berlokasi di Muara, sebuah creative space di Solo, memungkinkan saya untuk bertemu banyak orang setiap harinya. Bagi saya, orang-orang ini adalah prospek bisnis yang sangat menjanjikan. Mungkin tidak secara langsung. Tetapi bisa dikatakan sebagai investasi. Networking adalah sebuah faktor yang sering dilupakan oleh orang-orang. Kita sering lupa bahwa network yang baik bisa saja menjadi pintu masuk untuk rejeki bagi kita. Beberapa kali saya mendapatkan project hanya bermodalkan ‘kenalan’ semata. Hanya karena client saya mendapatkan rekomendasi dari seseorang yang kenal dengan saya. The power of networking is so true!! Networking bukanlah hal sepele yang bisa dipandang sebelah mata. Bagi saya, justru network yang baik adalah modal yang cukup penting dalam mengarungi dunia bisnis. 

Saya nggak pernah mengeluh karena sering pulang larut. Saya menikmat segala proses yang sebetulnya cukup melelahkan ini. Karena saya yakin, pada akhirnya sayalah yang akan menikmati hasil dari seluruh kerja keras ini :)


HUSTLE ALL DAY, EVERYDAY!!

Monday, November 28, 2016

YOU HAVEN’T BEEN THERE. STOP COMPARING

“Wah, dia keren, ya bisa begitu!”
“Kok dia bisa begini, ya?”
“Aku juga pengen dong kaya dia yang bisa ini itu!”

Kalimat di atas sering saya denger dari siapapun yang lagi sama saya ketika kebetulan mengagumi seseorang. To be honest, saya ga jarang juga melontarkan kalimat begitu. Yah, setidaknya di dalam hati yang tulus dan penuh cinta ini ~

Buat saya, kepengen jadi kaya anu, kepengen bisa itu, kepengen punya ini itu nggak masalah. Not a big deal. Selama masih relevan dan realistis sih fine. Kecuali kalo kepengen bisa jadi Super Saiya 4 macem Goku ~

But it become a problem after we’re saying we want to be like someone. We start comparing ourselves with anyone bigger or greater than us. Dengan batasan tertentu, hal ini sunggu sangat baik karena bisa jadi motivasi buat diri sendiri. But if you take comparing to the next level, it could be destructive. Saya sering menemui beberapa orang melakukan komparasi tidak secara menyeluruh dan berimbang. Kebanyakan orang cuma ngeliat ketika orang udah jadi besar. Kita jarang ngeliat ketika orang itu berdarah-darah. Kita nggak menyadari apa yang udah dia korbankan untuk bisa sampai di titik tertingginya saat ini. 

Contoh: Darmin adalah seorang mahasiswa Ilmu Fisika saat ini berhasil menjadi pengusaha ternak lele dengan jumlah tambak mencapai ribuan di seluruh Indonesia. Orang-orang hanya akan melihat Darmin sebagai pengusaha lele sukses. Stop. Period. But we don’t see it deeper. Kalo kita mau menggali lebih dalam lagi soal kesuksesan Darmin, kira-kira seperti ini jadinya.

Darmin adalah seorang mahasiswa Ilmu Fisika yang sukses menjadi peternak lele. Darmin menjadi peternak lele setelah pada tahun keduanya kuliah, dia menyadari bahwa ilmu Fisika bukanlah passionnya. Darmin sadar bahwa selama ini ia telah tersesat. Ilmu Fisika adalah pilihan mantannya, bukan pilihan hatinya. Darmin jatuh cinta pada industri ternak lele karena hobinya jajan pecel lele semasa kuliah. Hampir setiap malam Darmin jajan pecel lele belakang kampusnya. Setelah mengamali pergolakan batin yang amat dahsyat, Darmin memutuskan untuk berhenti kuliah. Darmin merasa sudah cukup jauh ia tersesat. Kini saatnya ia menggeluti hal yang ia cintai. Maka, keluarlah ia dari dunia kuliah. Darmin dicap sebagai mahasiswa gagal karena DO. Hal ini tentunya membuat Darmin frustasi. Belum lagi kenyataan pahit yang baru ia sadari bahwa untuk memulai peternakan Lele, Darmin memerlukan modal yang cukup banyak. Bermodalkan menjual vespa kesayangannya, Darmin memulai usaha ternak lelenya. Rugi, ditipu pelanggan, gagal panen sudah menjadi makanan sehari-hari Darmin. Di suatu malam, Darmin pernah berpikir untuk menghentikan usahanya. Darmin menyesal dulu meninggalkan kuliah Ilmu Fisika pilihan mantannya. Darmin sedih. Lagi-lagi Darmin mengalami pergolakan hati yang teramat dahsyat. Cinta yang menang. Maka Darmin tetap melanjutkan usaha ternak lelenya. Berlahan tapi pasti, usaha Darmin mulai berbuah manis. Hingga akhirnya setelah 7 tahun lamanya, Darmin benar-benar memanen hasil manis dari jerih payahnya selama ini. Sekarang ini Darmin memiliki ribuan tambak lele di seluruh Indonesia. 

Nah, jadi cukup panjang dan penuh derita kan? Ternyata Darmin DO. Ternyata Darmin sering rugi. Ternyata Darmin berulangkali ditipu. Ternyata Darmin nyaris mengubur mimpinya. Hal-hal ini yang jarang kita sadari ketika kita melihat kesuksesan seseorang. 

Saya, saat ini masih belum kelar studinya. Saya tercatat sebagai mahasiswa semester dua digit. Pokoknya semester saya bisa membuat orang tua, dosen atau bahkan mahasiswa lainnya memandang saya sebelah mata. But well, that is the price I need to pay for everything I’ve got. Now, I’m running my own agency. Still a small business tho. But I have my faith in this way. Bahkan sempat mendapat kesempatan untuk berbicara di Pinasthika 2016 mengenai seluk beluk mendirikan agency sendiri. Sesuatu yang bahkan dulu tidak pernah saya impikan. Saya pernah hijrah ke ibukota meninggalkan studi untuk bekerja sementara kawan-kawan saya sibuk menyelesaikan studinya di Solo. Saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Karena saya sadar, keputusan-keputusan itulah yang membentuk saya saat ini. Tetapi justru itu yang jarang disadari orang. To be where I stand now, I sacrificed many things. My study, my time, my energy, my thought. You may see me as an owner of digital agency. But you need to know my story behind it. No, we need to know story behind great person. There must be price to paid. Now, every time you see great person, keep this in mind, 


“You haven’t been there. You never know what it takes to be like him or her. You are not him or her. You have your own story and way. So, stop comparing!”