Monday, November 13, 2017

CONNECT (?)

Connect: verb
bring together or into contact so that a real or notional link is established.

We are all connected everyday. We are wired to enormous number of people out there. Thanks to social media.

But, do we really connect?
For some reasons, I think that social media connection is sometimes overrated. Let me explain why

First, in my perspective, the connection made on social media, mostly are superficial. You post something, people see your post, and if you are lucky you will get engagement (likes, comments, shares). As a person who’s diving in social media stuff, I can say that engagement is easy. It only needs less than 2 seconds to tap the like button. It only needs less than 5 seconds to think for a while and hit the share buttons. It maybe need more than a minute to post a comment (depend on the context. If it only: cool, it is less than 3 seconds). Let me ask you a question. “What is the last post you liked?” I bet, only few of you can answer this simple question.

And we are all in the standard where that how a connection supposed to be done. We are all focusing only on social media, and forget the essence of a connection.

Like is easy, getting a real connection is the real deal. It is the real connection that matters. Not how many likes you get or how many followers you have now. If there is no real connection, then what is the point? Social media is good for raising awareness, make people know that you are exist. But you need more effort if you want to make a real connection. Here’s a few things you can do:

  1. Try to make a real engagement.
    No, it is not only about likes. It is about making a real connection with whoever it is on your social media. Try to make a conversation. Try to create a meaningful content and reply any feedback in a good manner. Do not just reply with OK, Yes, thank you, and another end word. Reply and give your followers another feedback. Make it like a real conversation in a real life.
  2. Do not seek number. 1000 likes are good, but you need more than just a number. It is always quality over quantity. As a digital consultant, I prefer working with influencer with less than 2000 followers to influencer with massive number of followers (let’s say 100.000). Because influencer with less than 2000 followers tend to have a real connection with its followers. I do not say this is always happening like this, but moslty it happens like this. Brand will also find more value in influencer with real connection. Because they build a relation with their followers. Their followers have trust on the influencer.
  3. Do not put all your effort only on social media. There is another media that quite effective. It is called a meeting. Go offline, do a real connection, meet a person in real life. Have a coffee together, talk, get to know each others. Thus, you will get a real connection.


That is all. Go, make a real connection now.

Wednesday, November 8, 2017

COMPETITION (?)

Competition is a natural thing. I think it comes naturally in life. Everything will have its competition. And so does businesses. No, I need to revise my last word. It suppose to be: especially in businesses.

Now, it is easier to make a business. Feels like everyone can set up a new business on any field. Everyone deserve the same chance to do anything, anytime with anyone. Especially on the field where no specific requirement needed, example: social media agency, photography, videography, etc. It will be different if we’re talking about architect or industrial engineering. Somehow, there are few degrees needed if you want to claim yourself as an expert on those things. 

Since I’m running my business on branding and digital field, I’m having huge competitor. Anyone can do the same thing as I do. Everyone have the same chance to do the same as I do. As long as you know social media, it is like you are capable to have a social media agency. It is what it is.

I always try to embrace competition. For me, it is a good thing to happens. It will keep the game strong and interesting. It will push everyone to do more, to innovate more. Every time I see a new competition, it always remind me to think about WHY I’M DIFFERENT? WHY I’M MORE VALUABLE THAN OTHERS? WHY IT IS A WORTH TO HAVING ME? I will check my secret sauces once again. Just to make sure I can survive the game and the competition. Don’t do anything negative in winning competition. Just show the reason why you exist and worth. The rest will works for you. I think this premise will works on everything we do in life.

Friday, October 20, 2017

Yang Bisa Dipelajari Seorang Creative Worker dari Dokter

Beberapa hari ini, badan saya lagi nggak karuan rasanya. Kelelahan yang terlalu lelah disinyalir jadi biang keroknya. Sebagaimana orang-orang merespon sakit yang hadir, pun saya melakukan self diagnosis. Hasilnya adalah,”Ah, paling batuk pilek aja, nih. Istirahat paling juga sembuh. Nggak perlu ke dokter.” Padahal, kurang dari 200 meter dari rumah, ada praktik dokter yang sebetulnya sudah jadi langganan keluarga saya.


Sok tau memang mahal harganya. Beberapa hari setelah sok membuat diagnosis, ternyata sakit justru semakin menjadi-jadi. Harusnya, sejak awal saya sadar kalau saya itu mahasiswa komunikasi, bukan kedokteran. Bisanya bikin press release, headline, script, atau soft news, bukan diagnosis penyakit. Akhirnya saya memutuskan untuk ke dokter. Sepulang kerja, saya langsung mampir ke dokter. Karena sudah langganan, ruang periksa sudah tidak asing buat saya. Kira-kira lima menit saya menunggu, bu dokter pun muncul. Sesi pemeriksaan diawali dengan tanya jawab. Sama sekali tidak ada pemeriksaan menggunakan stetoskop atau cek tensi. Saya cuma ditanya keluhannya apa? Sudah berapa hari sakit? Sudah minum obat apa? Kapan lulus? Oke, pertanyaan keempat itu fiktif. Setelah sesi tanya jawab selesai, baru bu dokter memeriksa tensi, nafas, dan tenggorokan (eh, atau kerongkongan, ya? Saya taunya cuma beda Arial ama Helvetica soalnya :( )saya.


Baru setelah seluruh ritual dilakukan, bu dokter mulai membuat sebuah summary akan penyakit saya ini. Ternyata, saya radang dan tensinya tinggi. Pantesan tenggorokan buat nelen sakit banget rasanya. Sedangkan tensi tinggi karena kecapekan dan efek obat yang sudah saya minum sebelum ke dokter. Singkat cerita, saya membawa pulang 5 jenis obat yang harganya lumayan mahal. Tapi, meski mahal, saya pulang dengan hati lebih gembira. Karena saya yakin, obat ini akan membuat saya segera sembuh.


Obat langsung saya minum ketika sampai di rumah. Ternyata, minum 5 jenis obat sekaligus itu lumayan bikin kenyang juga. Sembari menunggu efek obat yang katanya bikin ngantuk semua itu, saya merenungi lagi ke-kampretan saya yang sok self diagnosed. Kemudian saya mencerna proses bu dokter memeriksa saya. Tiba-tiba saya menyadari sesuatu. Ada pendekatan dokter dalam memeriksa pasien yang bisa digunakan para pekerja kreatif (designer, copywriter, web developer, dll).


Mari kita ibaratkan bahwa client adalah pasien dan pekerja kreatif adalah dokter. Proses pertemuan pertama relatif sama. Client/pasien datang ke pekerja kreatif/dokter karena merasa punya masalah/sakit. Banyak kampret-kampret seperti saya, yang sudah bikin self diagnosis dulu sebelum ke dokter. Pun, sama dengan client. Berapa kali teman-teman kreatif sudah ketemu client dengan keluhan berikut:
  • Penjualan saya stuck, pasti ini karena social media saya nggak jalan
  • Bisnis saya sepi, pasti ini karena ada kompetitor
  • Kompetitor saya berkembang terus, saya harus bikin produk baru
  • Saya perlu ganti logo, soalnya kurang kekinian.


Kalau direnungkan, client model gini sama seperti pasien kampret bernama Daniel Revelino yang sudah yakin cuma sakit batuk pilek. Berdasarkan pengalaman, rata-rata pekerja kreatif akan menelan mentah-mentah brief yang berdasarkan asumsi dari client. Ibarat kata, saya ke dokter, bilang kalau saya batuk, minta obat batuk. Terus sama dokter langsung dikasih obat batuk tanpa diperiksa sebetulnya sakit apa. Bahaya, kan?


Bagaimana jika, kita, para pekerja kreatif melakukan hal yang sama dengan dokter? Ada proses diagnosis tentang permasalahan client yang sesungguhnya. Bisa jadi, client yang yakin bahwa bisnisnya sepi karena kompetitor itu ternyata masalahnya ada di promosi. Bisa aja, client yang merasa socmed-nya bapuk itu, sebetulnya masalahnya ada di packaging. Bisa aja, kan?
Kenapa pekerja kreatif tidak menanyakan beberapa poin sebelum menentukan core problem? Misal


“Bisnis saya sepi, pasti karena kompetitor.”
“Maaf, pak. Kalau boleh tahu, selama ini program promosi apa saja yang pernah dilakukan?”
“Nggak pernah, mas.”


Naaah, bisa jadi masalahnya bukan di kompetitor, tapi di strategi promosi. Seandainya hal ini dilakukan, mungkin client pun akan pulang dengan hati gembira, meski harus merogoh kocek cukup dalam. Karena, mereka yakin, apapun yang akan mereka dapatkan pasti menyelesaikan masalah mereka. Sama seperti saya yang pulang dari dokter dengan gembira sembari menggenggam erat kantong plastik berisikan obat :)

Pelajaran moral: let the expert do the right thing. There's reason why expert called expert. 

Monday, October 16, 2017

The Right Man on The Right Place

Semua orang memiliki pelariannya sendiri-sendiri, ketika dunia terasa terlalu berat, pengap, dan gelap untuk dinikmati. Ada yang memilih untuk berdiam diri di kamar. Mengurung diri, menikmati sepi sendiri, tanpa interupsi. Ada yang lebih suka nongkrong bareng teman-teman. Sebat, dua bat bersama sahabat, bisa jadi mood booster paling hebat. Saya, lebih memilih untuk ke toko buku. Toko buku, bagai taman bermain untuk saya. Ada begitu banyak buku yang siap sedia dijamah, dibaca, tanpa menuntut untuk dibawa pulang. Nggak kaya orang, yang suka rewel nuntut ini itu ini itu.


Entah sudah berapa kali saya melakukan pelarian ke toko buku. Mungkin beberapa ratus kali.
Entah, sudah berapa kali saya ke toko buku tanpa beli buku. Mungkin jutaan kali.
Dan kali ini, saya mengunjungi toko buku dengan dua misi mulia. Yang pertama, untuk memulihkan mood. Yang kedua, mencari buku (pas tanggal muda).


Anyway, sudah ada beberapa list buku yang ingin saya beli. Salah satunya adalah buku Indiepreneur karya Pandji Pragiwaksono. Memang jodoh sudah ada yang mengatur, buku Indiepreneur kosong di toko buku yang saya kunjungi. Sedih. Tak mau tenggelam dalam kesedihan yang terlalu mendalam, saya mencari alternatif. Memang mimpi perlu diperjuangkan. Setelah ngetwit ke Pandji - scroll timeline twitter - pindah Instagram - twitnya dibales Pandji - scroll Instagram lagi tanpa tujuan, akhirnya saya berkunjung ke wsydnshop.com untuk meminang buku yang saya idam-idamkan. Beberapa hari kemudian, datang juga yang saya tunggu-tunggu.


Indipreneur



Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik dengan Indiepreneur. Pertama, di mata saya, Pandji adalah orang yang bisa survive dari hal-hal yang dicintai. Pandji bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari karya-karyanya. Satu hal yang mungkin belum bisa dilakukan banyak orang di Indonesia. Kedua, untuk bisa survive dari hasil berkarya, orang harus paham gimana caranya untuk jualan. And he did it. He know about brand, creative, marketing. The things that I love too. Yang ketiga, saya sudah pernah baca versi gratisannya, dan merasa bahwa buku ini sangat menarik untuk orang-orang yang ingin terus hidup dari karyanya. So, I bought one.

Seperti buku-buku Pandji lainnya, Indiepreneur ditulis dengan gaya bahasa yang ringan. Rasanya kaya lagi ngobrol sama temen, dan dia cerita suatu hal. I really enjoy it. Hingga di salah satu bagian buku, ada kalimat yang bikin saya sedikit kaget. Kaget, hingga harus membaca ulang kalimat tersebut. Begini kalimatnya:




Wait, saya berusaha mencerna kalimat barusan. Pandji, yang menurut saya paham tentang brand, promosi, marketing, dan aktif di digital, masih hire Think.Web sebagai konsultan online personal branding? Well. Setelah berhenti sejenak beberapa saat, saya mulai paham poin utama dari kalimat di atas. Saya berasumsi, Pandji menganut asas the right man, on the right place. Kredo anak manajemen ini punya premis bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang kompeten akan menghasilkan output optimal. Mungkin, Pandji merasa bahwa dia kurang paham banget soal per-digital-an, maka dia butuh Think.Web sebagai the right man on the right place.

Jujur, ini sangat membuka mata saya. Pandji, yang di mata saya sangat mumpuni soal tetek bengek dunia marketing dan branding, masih hire konsultan untuk online personal branding. Pandji, yang selama ini jadi salah satu referensi saya dalam mencari ilmu, masih merasa butuh bantuan orang lain. LAH, TERUS APA KABAR SAYA? Langsung berasa kecil dan malu. Malu, kalo masih sok merasa bisa apa-apa. Malu, karena mungkin masih sering memandang pekerjaan orang lain lebih gampang. Kalo Pandji- yang sudah bikin beberapa buku, bikin tour stand up comedy, pernah punya acara TV sendiri, follower social media-nya banyak, udah pernah main film- masih merasa butuh orang lain yang lebih expert, TERUS KITA YANG MASIH GITU-GITU AJA HARUSNYA MALU DONG KALO NGERASA BISA APA-APA SENDIRI!

Karena pada akhirnya, orang yang bilang,”Ah, desain doang kan gampang!” kalo disuruh bikin desain sendiri paling disuruh bikin layer di photoshop bingung. Pun dengan orang yang nyeletuk,”Ah, ngoding buat website kan gampang!” pasti taunya Python itu cuma ular yang lilitannya kuwat. Apalagi orang yang bilang,”Bikin copy/tulisan doang, susahnya apa sih?” pasti seumur hidup cuma pernah nulis di buku catatan pas SD. SMP, SMA, Kuliah nggak punya buku catatan.

Pada akhirnya, kredo the right man on the right place memang dilandasi oleh fakta bahwa kita nggak bisa jago di semua hal. Dan oleh karena itu, kita pasti butuh bantuan orang yang lebih ngerti di suatu bidang yang kita perlukan. Terima kasih, mas Pandji, sudah mengingatkan karena saya bukan Doraemon yang punya segudang alat buat ngapain aja, saya masih butuh orang lain yang lebih paham dari saya.

Monday, September 25, 2017

Alasan Kenapa Bawa Kamus Setiap Hari itu Baik. No 8 Paling Mencengangkan!

“Anak jaman sekarang udah susah banget lepas dari smartphone” - seorang teman saya

    Rasanya, banyak orang yang menyetujui pernyataan salah seorang teman saya itu. Tapi, kalau boleh, saya mau revisi sedikit. Sepertinya lebih cocok begini kalimatnya,

“Hampir tiap orang, susah banget lepas dari smartphone”

    Mau generasi millennial, generasi X, generasi Y, generasi Z, semua sudah terlanjur punya keintiman dengan smartphone-nya masing-masing. Cuma 1 dari 10 orang yang akan cuek aja ketika sadar HP nya ketinggalan di rumah pas mau  pergi. Yang 9 orang, memutuskan untuk pulang lagi, meskipun sudah sangat dekat dengan destinasi. Demi sebuah smartphone.

    Smartphone, dengan segala fiturnya, digadang-gadang memiliki banyak manfaat positif bagi penggunanya. Iya, yang menggunakan secara positif. Yang kerjaannya kepo akun gosip di IG tiap hari juga banyaaak. Lebih banyak, mungkin, dibanding yang tiap hari baca berita bermanfaat di CNN atau BBC. Yang mengakses jurnal internasional bisa dihitung dengan jarinya Doraemon, alias jarang banget. Smartphone, bikin attention span kita jadi sangat pendek. Udah bukan short term lagi, tapi very very short term.

    Dan celakanya, saya pun mulai merasakan kencaduan smartphone, atau social media lebih tepatnya. Kecemasan ini muncul karena saya mulai terlalu sering meraih smartphone untuk mengakses social media tanpa tujuan yang jelas. Rasanya tangan ini sudah punya jalurnya sendiri, seperti bus transjakarta. Otomatis mencari smartphone, menggenggamnya dengan mesra, dan mulai scrolling timeline. Cemas, gelisah, karena saya nggak mau kencaduan social media. Bisa bahaya. Waktu, tidak bisa diputarbalik. Saya nggak mau di umur 40an saya menyesali waktu yang terbuang karena kepo baca berita terhangat Line Today atau kepo IG story selebgram yang sebetulnya saya nggak kenal juga. Saya harus berbuat sesuatu.

    Menurut asumsi saya, sebetulnya tangan ini suka sok inisiatif meraih smartphone karena kita nganggur, bengong, bosen, dan merasa butuh sesuatu untuk mendistraksi perasaan itu. Dan media yang paling dekat, menyenangkan, dan egois adalah smartphone. Jadi, saya memiliki hipotesa bahwa yang kita butuhkan cuma alternatif pengganti smarphone ketika nganggur, bengong, bosen mulai melanda. Jika dipikir-pikir, sebetulnya banyak hal yang bisa kita jadikan alternatif, mulai dari baca buku, menghafalkan nama latin jenis-jenis padi, merencanakan hidup, atau merenungi nasib yang gini-gini aja. Karena saya anak IPS yang sudah bosan merenungi nasib, saya memilih buku sebagai media alternatif saya.
   
Belakangan, saya sering bawa buku kemana-mana. Di tas, pasti selalu ada buku bacaan. Bukunya nggak selalu sama, bisa ganti-ganti tiap hari. Tapi, pasti selalu ada buku yang siap saya hampiri ketika smartphone terasa sangat menggoda. Metode ini lumayan berhasil, meskipun belum 100%. Karena saya punya pilihan, antara smartphone atau buku. Kadang-kadang buku yang menang, tapi nggak jarang juga smartphone yang menang.

    Ada satu buku yang selalu saya bawa kemana-mana. Judulnya, “Oxford Learner’s Pocket Dictionary”. Iya, saya bawa kamus. Kenapa kamus? Karena kamus ini kepake terus setiap hari. Sebagai insan yang suka sok baca artikel berbahasa Inggris, saya sering menemui vocab yang nggak tau artinya. Berangkat dari kebutuhan ini, saya coba alihkan kebiasaan nyari di google translate jadi aktivitas buka-buka halaman kamus. Di saat bosen, bisa juga iseng nyari perbendaharaan vocab baru. Setidaknya, otak saya punya alternatif kebiasaan selain nyamber smartphone. Sekarang bisa juga nyamber kamus Oxford. Oh iya, entah kenapa, vocab yang saya cari secara manual di kamus lebih nempel di otak daripada yang dicari di google translate.

Source: Google


Mungkin, metode saya bisa digunakan oleh teman-teman yang membaca tulisan singkat ini.

Ps:
Tulisan ini ditulis setelah membaca tulisan teman saya yang ini.
Sorry for the title. Can't resist the temptation to make such a bombastic title.

Wednesday, September 13, 2017

Thank You



By writing this, I just want to say “thank you”.

To everyone who involved in my whole life. For almost 24 years wandering around in this journey called life, I’ve been meeting tons of peoples.

All I can say is, everyone who have come to my life just make me who I am today. No matter how and why they fill my life.

We can’t deny that our society, our colleague, our friend, our circle will bring some impact into our personality and life.

Maybe, we become someone better because we’re dumped. Maybe, we learned something new because we’re rejected. Maybe, we learned to fight because we’re intimidated. Maybe, we tried our best because we’re loved.

Every each person who come into your life, shape who you are.

So, don’t forget to thank them. All of them.

They who support you.
They who hate you.
They who put you in a trouble.
Or they who give you joy.

Tell yourself, “I wouldn’t be who I am today, I they weren’t exist.”

Saturday, February 25, 2017

Make Positivity Louder by Gary Vee


I just  recently become Gary Vaynerchuk’s listener.  It was started when one  of my friend gave me Gary’s video about “what to do after college”.

"Wow, this guy is crazy but true. Enough said, he just told us all the truth. Not in the most convenient way, but in the most striking way. He did not sugar coating the ugly truth. Because it is what is."


That was my first impression on him. And so, yeah, I regularly check on his content. All his content is great. It’s clear. It’s straight to the point. It is sound real. He will tell you every single aspect that will come to you in this rough life. Well, nobody said that life is easy. 

And a few weeks ago, I watch this  and it blown my mind. 

Gary reminds me that the world today is surrounded by negativity. We can find it around the corner. Your work mates spread the negative vibes, your school buddy does the same. Simply said, everybody do the thing, and social media make it event worst. Social media is filled with hate speech, endless complain about almost anything, mean comment or argument.  The worst thing about bad vibes is, it is damn contagious.

Here’s what Gary said about negativity:

“Everybody get their own stuff, and nobody cares. You are complaining to an empty air. Once you realized that you are complaining to an empty air, you will go to another direction”


Yeah, we all do post some shitty complain in our social media. We just don’t realize that NOBODY CARES ABOUT OUR SHITTY LIFE. Excuse my language, but it is the truth. If you complain about how your company treat you, no one will do anything for you. It is all on you. If you feel you deserve a better company, all you need to is submit your resign letter and find a new company. DONE. Just do something, instead of complaining.

Gary gives me a new perspective in living my life. 

First. Bad vibes only give you bad effect. If you are filled with negativity, it will affect on how you feel during the day. Well, you will never be able to smile when you are filled with tons of negativity.

Second. Bad vibes is contagious. Your negative co-worker could make you negative too.  But, when you are positive, you can also make another become positive.

Third. We all need to be louder in shouting positivity on social media. Well, social media is quite negative now, and it is our fault. It is because we allow negative people louder in social media. It is us that should spreading positivity on social media. 

Fourth. Instead of cursing or complaining, you can just do something to change it. There is no need to spend your time, energy and positivity on complaining to an empty air.

Spread the positivity :)