Tuesday, December 23, 2014

Brand awareness, Brand Equity dan Hubungannya dengan Probabilitas Kamu di Friendzone

Kalo ada yang bilang ibu tiri itu paling kejam dari segala kekejaman yang ada, berarti dia belum pernah ngalamin kuliah semester 7. Semester dimana para mahasiswa mengemban tugas yang sama beratnya kaya perjalanan biksu Tong ke barat untuk mengambil kitab suci. Laporan magang, tugas akhir adver, video, jurnalistik, proposal skripsi + proposal KKN bisa bikin kepala nyut-nyutan selama beberapa bulan ~

Buat sebagian besar orang, semester 7 mungkin berat. Tapi buat saya, biasa aja tuh B) *ditampol*. Buktinya adalah di semester 7 yang katanya berat ini, saya masih bisa iseng-iseng ikutan bantu penelitian dosen. Iya, cuma iseng kok. Iseng aja bantuin penelitian dosen terus datanya dipake buat bahan skripsi, deh. Huehehehehe. Oke, penelitian dosen saya ini meneliti tentang merk terbaik. Penelitian ini mau kepo, apa sih merk dari produk tertentu yang dianggap terbaik menurut orang Solo & Jogja.

Postingan ini ga bakal ngebahas soal metodologi penelitiannya. Tapi selama saya bantuin penelitian ini, saya menemukan suatu hal yang ternyata bisa diaplikasikan di dalam kehidupan cinta kita. Let me explain you one simple thing. Jadi, penelitian dosen saya ini pake teorinya Aaker (Building Strong Brand by David A. Aaker) sebagai landasan teori. Si Aaker ini bilang kalo kekuatan merk terbaik (brand equity) dibangun dari brand loyalty, brand awareness, perceived quality & brand association. Masing-masing faktor ini punya kontribusinya masing-masing dalam membentuk kekuatan merk. Bisa jadi brand awareness yang berkontribusi paling besar dalam membentuk brand equity, atau justru faktor lainnya. Bisa jadi seseorang aware terhadap suatu merk, tapi bukan merk itu yang menurut dia sebagai merk terbaik.

Ok, masuk ke pengimplementasian konsepnya si Aaker ini ke dalam kehidupan cinta kita. Yang menarik dari konsep brand equity ini adalah kita ga bisa menggeneralisir faktor apa sajakah yang berkontribusi paling banyak dalam membentuk brand equity. Contohnya adalah bisa jadi merk yang masih baru dan belum dikenal tapi justru jadi merk terbaik, atau merk yang dikenal banyak orang belum tentu merupakan merk terbaik. Pahit kaaaan.

Nah, coba kita analogikan konsep ini ke dalam kehidupan cinta kita. Anggap diri kita adalah sebuah merk yang cukup dikenal dengan baik oleh teman-teman kita. Kita punya banyak kenalan cowok dan cewek yang gebetable (preferensi jenis kelamin yang mau digebet kembali ke diri masing-masing). Setelah kita menentukan pilihan siapa yang mau kita gebet, pasti kita akan memberikan effort serta perhatian lebih ke gebetan kita. Nah, karena gebetan kita terterpa oleh keberadaan dan perhatian kita secara terus menerus, logis kalau gebetan kita aware sama kita. Artinya brand awareness gebetan kita tentang diri kita udah terbangun nih. Tapi, apa brand awareness doang cukup untuk membuat kita jadi merk terbaik? Balik lagi ke konsep dan teori Aaker, ada banyak faktor yang membentuk brand equity.

Gebetan sudah aware sama kita, dan proses PDKT terus berjalan dengan intens. Kita udah optimis dengan awareness gebetan kita terhadap diri kita selama ini. Dan tiba-tiba dia jadian sama orang lain!!!! DUAAAAAR!!!!!!! Di titik ini  kita bakal bertanya, “apa yang kurang dari saya?”. Padahal gebetan udah aware banget tuh sama kita, tapi kenapa yang jadi merk terbaik buat gebetan kita adalah orang lain? Dan kenapa gebetan kita memilih orang lain sebagai future brand (merk yang akan digunakan / dalam konteks ini orang yang dijadiin pacar)? Ternyata awareness doang ga cukup buat membentuk sebuah kekuatan merk, persis kaya apa yang udah diterangin sama si Aaker.

Jadi kalau kita mau jadi merk terbaik sekaligus jadi future brand, kita ga boleh puas cuma gara-gara udah jadi merk yang dikenal. It’s never enough, bro and sis. Buat apa dikenal dengan amat sangat baik tapi ujung-ujungnya gebetan jadian ama orang lain? Kalau kita cuma terjebak di dalam zona awareness doang, kayanya kita sudah resmi terindikasi terjebak friendzone ~ Kalau cuma dikenal dengan baik doang, nanti jatuhnya cuma dapet kata-kata “kita cukup temenan aja, ya J” Beda cerita kalo yang level awareness kita udah sampai awareness nya orang tua. Nah, masih mungkin kita bakal jadi merk terbaik. Ingat, restu dan ridho orang tua itu penting banget. Nggak percaya? Coba inget-inget ceritanya Malin Kundang, deh.

Well, ternyata teori marketing macam punya si Aaker gini bisa dijelaskan dengan mudah melalui kehidupan cinta kita. Sudah siap bersaing untuk jadi merk terbaik? J
Lagi-lagi ini adalah postingan hasil quick writing dari random thought seorang research assistant. Jangan dianggep serius-serius banget. Kalo mau serius ya dilamar, dong. Ah, sudahlah………

Oh, dan tulisan ini tidak dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Jadi jangan mengasumsikan kalo saya ini lagi curhat terselubung menggunakan embel-embel teorinya om Aaker. Sekian….........

Sunday, December 21, 2014

Damn you, Taurus!!

" You can't do everything, you are not Superman . . . . . "

Well, it's sound a lil bit sarcastic, but we have to admit it that's true. We can't handle every single thing by ourselves, even If we'd like to. Have you ever been in that situation? When you think everything's under your control, but then you realize everything's not under your control. I know how it feels, because I've been in that situation for many times. Let's say I'm well experienced in this stuff. Hahahahaha. My problem is I always think and quite sure that I can handle all the stuff around me. Unfortunately, sometimes I'm wrong. I have to admit that my ego is bigger than my brain. I just want to be the leader, I want to be the problem solver. If I were in the DC COMICS, I want to be the Batman, not the Joker. I don't know if it's related or not, but my zodiac is Taurus, and some people told me that Taurus are lil bit arrogant and - like what I've said - always want to be the best one. Taurus only know one number, which is numero  uno. They hate being in the second place, this is how Taurus behave. Taurus and of course me often think " If the others can do this, so do I. " or " I will be the best ". Call me selfish :)

The other bad thing from Taurus is, we sometimes jealous with other's achievement. Even if it's our friend who get those achievement, we still hate it. I feel like such a bad guy :( That's the reason why I always want to handle anything by myself. I want to get the attention. Nobody can take the attention away from me. In some cases, it drives my crazy. I often take my mind to highest point, or let's say the boiling point. It happens when I think that everything's ok but suddenly I realize everything's just messed up :(  At this moment I feel so stupid and just blaming my bad idea. And there's nothing I can do but finish all the stuff by myself whatever it takes. 

From now, I learn that I can't do everything cause I'm not Superman

It's just a quick writing about my random thought.
Happy Monday!!!


Thursday, October 9, 2014

Games of Life

Hai! Postingan kali ini ditulis di sela-sela deadline tugas kuliah yang menanti dengan setia, seperti aku setia menanti kehadiranmu ~ Yah, namanya mahasiswa semester nggak muda. Tugasnya lumayan banyak, ditambah mau ngajuin proposal skripsi, laporan magang. Kenapa udah mau ngajuin proposal skripsi? Karena saya berniat untuk segera lulus dari kampus tercinta ini, untuk kemudian segera nyicil jalan menuju masa depan yang cerah. Cukup sudah curhat terselubungnya. Let’s get to the point!
 Jadi, postingan ini terinspirasi dari video berikut ini :

           

Buat yang males buffering, saya jelasin apa isi videonya. Simple, isinya ada orang yang lagi main games dengan predikat MOST DIFFICULT GAME EVER. Dan emang game nya susah beneraan. Buat yang ngaku anak gamer, cobain deh gamenya di sini . Dan rasakan betapa susah dan frustatingnya game itu. Have some fun! Jangan misuh-misuh mainnya XD

Udah, postingannya cuma soal game itu doang?! Tenaang, masih ada petuah lain di balik postingan ini. Dari kecil saya termasuk anak yang doyan ngegame. Concole game pertama saya adalah sega, saya mainnya pas masih umur 3 tahun kalo ga salah. Game favorit : Sonic, Toy’s Story sama Mortal Kombat. Iyaa, masih kecil saya udah main game Mortal Kombat yang adegan fatality nya bisa bikin nafsu makan hilang seketika. Console selanjutnya adalah PS 1. Di jamannya, PS1 ini udah mutakhir banget. Grafisnya udah termasuk canggih dibanding console-console sebelumnya. Game favorit : BANYAK!! Huehehehe. Yang jelas, saya sering ngambek gara-gara kalah main Winning Eleven lawan kakak saya XD FYI : Winning Eleven ini cikal bakalnya Pro Evolution Soccer. Cuma ya grafisnya masih cupu gitu lah. Yang pernah main Wining Eleven 4, pasti sekarang umurnya udah di atas 20 tahun :p

Oke, kita masuk ke inti dari postingan kali ini. Pas kita main game, kita pasti berusaha banget nyelesein level atau tantangan yang ada di game itu. Kaya di video di atas tuh. Udah tau game nya susah parah, tapi masih nekat aja dimainin. Pernah ga berpikir apa yang bikin kita kekeuh berusaha mati-matian pas main game? Karena kita yakin, level atau tantangan di setiap game itu bisa diselesein. Kita yakin, creator game ga mungkin bikin level yang mustahil diselesein. Kenapa? Ya kalo level nya ga bisa diselesein, ga bakal laku lah game nya. Bener ga? Nah, keyakinan kita bahwa “Ah level ini pasti ada jalan keluarnya” bikin kita berusaha mati-matian. Main-game over-retry-repeat. Gitu melulu sampai akhirnya kita bisa nyelesein satu level :’) Karena kita yakin pasti bisa diselesein.

Coba kita analogikan kalo hidup kita ini kaya game. Ada creator, ada tokoh utama (ya kita ini) dan ada level/tantangan yang harus kita selesein. Sama kan sebetulnya hidup kita sama game? Tapi kenapa kita ga bisa seyakin kalo kita pas ngegame, dalam menjalani hidup? Kalau lagi ada halangan atau cobaan, langsung pesimis duluan. Bukannya dihadapin cobaannya, malah menghindar. Terus, selesai gitu cobaannya? Ga bakalan. Kemana semangat “Ah level ini pasti ada jalan keluarnya” yang biasa kita aplikasikan pas ngegame? Kalau kita bisa yakin bahwa creator game ga mungkin bikin level yang ga bisa diselesein, kenapa kita ga bisa yakin bahwa creator kita melakukan hal yang sama.

Saya bukan orang yang expert di bidang agama. Ilmu agama saya masih cupu banget, masih perlu banyak belajar soal agama. Tapi saya tahu dan yakin bahwa Allah sebagai creator kita ga akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan kita. Hidup kita ini kaya game yang di setiap levelnya pasti ada jalan keluarnya. Ga ada level atau masalah yang ga bisa dilewatin. Sama seperti game, kuncinya adalah seberapa kuat keinginan kita untuk terus mencoba nyelesein level itu. Kalo misal lagi ngegame, gameover terus kita ga nyoba lagi, yaudah kita bakal stuck di level itu aja. Hal yang sama terjadi di kehidupan kita. Begitu kita menyerah untuk nyelesein satu level, ya masalah kita ga akan selesai. Yang ada justru mungkin masalah kita jadi makin parah. Yakin deh, semua masalah yang ada di kehidupan kita ini udah di setting dengan kemampuan kita. Jadi, ada baiknya setiap kali kita nemuin masalah di kehidupan kita, langsung terapkan prinsip berikut, sampai akhirnya kita berhasil nyelesein masalah kita dan masuk ke level yang lebih tinggi.

Main-game over-retry-repeat

Friday, October 3, 2014

TIME?

Setelah sekian lama ga ngeblog, finally ngeblog lagi!

Pada awalnya sempat berencana tiap hari ngeblog, at least nulis sesuatu yang singkat lah. Niatnya buat latihan nulis, karena ternyata skill nulis saya masih cupu banget. Apalagi setelah kemarin dapet wejangan dari mas Akbar, MD saya yang punya basic copy. Baru terbuka mata ini bahwa kemampuan nulis saya masih jauh dari kata bagus. Perlu banyak latihan. Oh iya, ada yang punya referensi blog atau buku yang bagus buat belajar nulis?

Manusia emang cuma bisa berencana, pun begitu dengan niat ngeblog tiap hari. Cuma jadi sekedar rencana. Bukannya ga mau merealisasikan, cuma pasti ada aja yang mendistraksi keinginan ngeblog. (Oke, ini pembelaan diri sendiri sih. Harusnya kalo niat sih mau nulis kapan aja bisa kok). Ada dua jenis kegiatan yang sering menghilangkan hasrat dan niat untuk ngeblog : kuliah (dan tugas-tugasnya. Kalo cuma kuliah doang sih nyantai, tugasnya yang kurang nyantai) sama kerja. Kerja? Yap, sekarang saya kerja nyambi kuliah. Eh, atau kuliah nyambi kerja? Ah, sudahlah. Daripada nanti jadi polemik kaya 4x6 atau 6x4. Jadi intinya selepas magang di Pop Cult yang emejing beberapa bulan lalu, saya ditawarin kerja freelance sebagai content writer. Dan dengan senang hati saya terima tawaran itu. Kan lumayan buat beli nasi liwet J Maka jadilah saya sekarang punya kewajiban untuk kuliah dan memenuhi tugas sebagai content writer.
   
Ternyata kuliah dan kerja itu cukup menguras tenaga, pikiran dan waktu. Tapi uang di rekening nambah. Huehehehe. Rasanya kuliah sambil kerja itu capek. Serius, ga bohong deh. Nih perbandingan siklus aktivitas mahasiswa yang nyambi kerja dan yang tidak :

Mahasiswa yang nyambi kerja : bangun pagi – kuliah sampe sore – balik rumah – kerja sampe malem – malem kerja lagi sampe dini hari – dini hari baru tidur – repeat ( ini kalo ga ada tugas kuliah yang ga kalah menyita waktu). Kalo ada tugas jadi gini siklusnya : bangun pagi – kuliah sampe sore – balik rumah – nugas – kerja sampe malem – malem kerja lagi sampe dini hari – dini hari baru tidur – bangun pagi hari sekali untuk nyelesein tugas – repeat. Huuuuft L

Mahasiswa yang cuma mahasiswa aja : bangun pagi – kuliah sampe sore – balik rumah – tidur / ngegame / nongkrong sama temen / pacaran (kalo punya pacar) – malemnya nugas (kalo sadar ada tugas) – tidur - repeat

* kok di siklus yang nyambi kerja ga ada pacaran? Karena . . . karena . . . *

Well, begitulah perbandingannya. Meskipun agak lebay (saya ga kerja sampe dini hari gitu kok), tapi ada perbedaan antara mahasiswa yang kerja dan ga. Yang paling kerasa sih di perbedaan waktu luangnya. Waktu buat istirahat juga jadi lebih sedikit kalo kita nyambi kerja. Capek? Ya lumayan. Mungkin beberapa orang mikir “ngapain udah harus kerja keras? Kan masih kuliah” Hmmm, kalo emang kita udah bisa memulai dari sekarang, kenapa ga. Kalo udah ada kesempatan kerja sekarang kenapa ga. Toh nanti akhirnya kita juga akan kerja kan. Mendingan udah nyicil start dari sekarang, karena waktu itu berjalan terus.

Pernah ngerasa waktu yang berjalan begitu cepat? Misalnya, kayanya baru kemarin ikutan OSPEK, eh ini udah digolongkan sebagai angkatan tua aja XD Waktu berjalan dengan begitu cepat dan ga mungkin diulangin. Cuma sekali dalam seumur hidup kita merasakan jadi mahasiswa umur 21 tahun, dalam sekejap tahu-tahu udah umur 25 tahun. Ga kerasa udah 27 tahun, dan mungkin udah berkeluarga, it means makin banyak tanggungan kita. Dan mungkin baru di titik itu kita mikir “Ah, coba dulu gini” atau “Ah, coba dulu gitu” Tapi sayangnya waktu udah ga bisa diulang lagi. Yang ada ya tinggal penyesalan tentang masa lalu. Jangan sampai kita menyesali sesuatu karena waktu yang udah ga bisa diulang lagi. Hal ini berlaku dalam hal apapun, ga cuma soal kerja. Waktu juga yang jadi alasan saya buat kerja sambil kuliah. Saya sadar masa muda ini cuma saya alamin satu kali, kenapa ga dimaksimalkan aja. Kalo ternyata hasilnya kurang maksimal, setidaknya saya udah mencoba. Kalo hasilnya manis, nanti saya juga yang merasakan dan menikmatinya J Waktu terus berlalu, ada baiknya kita manfaatkan waktu yang ada sekarang ini sebaik mungkin.

If somebody ask me, “What motivates you being a hard worker now?”

My answer would be, “The fact that I can’t turn back time, it does motivate me” J

Friday, September 19, 2014

SNMPTN Alam?

Ga kerasa sekarang udah hampir masuk tahun ke 4 saya kuliah di Komunikasi UNS. Yap, sekarang saya semester 7, artinya udah ada 3 generasi di bawah angkatan saya, yang artinya angkatan saya udah termasuk angkatan tua. Tapi tenang, masih banyak anak 2010 & 2009 yang berkeliaran di sekitar ruang dosen :p *ditampol 2 angkatan*

Hampir 4 tahun yang lalu saya berjuang ikutan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri) demi untuk bisa kuliah di UNS. SNMPTN ini bisa dibilang sistem untuk memfilter siapa aja yang pantas mengenyam pendidikan di PTN di Indonesia. Kenapa harus difilter? Ya karena PTN punya quota dan standarnya masing-masing. SNMPTN susah ga sih? Ga susah kok, asal selama beberapa bulan sebelum SNMPTN kita menghabiskan waktu di dunia yang fana ini dengan belajar. Huehehehe. Anyway, barang siapa yang lolos seleksi berhak kuliah di PTN tujuannya. Dan Alhamdulillah saya lolos (meski dengan perjuangan yang tidak mudah) dan bisa kuliah di Komunikasi UNS.

Jadi, ini mau bahas SNMPTN? Bukan, ini bukan postingan tentang tips dan trik ngerjain soal TPA di SNMPTN. Apalagi tips dan trik nyontek di SNMPTN ~

Ada yang sadar kalo alam juga punya 'SNMPTN' nya sendiri? Disadari atau tidak, sebetulnya selama proses kehidupan ini kita selalu mengalami proses 'SNMPTN' yang diadakan oleh alam. Kalo saya nyebutnya SELEKSI ALAM. Bukan, ini bukan SNMPTN yang diadakan di alam terbuka. Sama seperti PTN, setiap orang punya standar nya masing-masing. Ada yang ga suka berenang, ada yang suka main bola, ada yang suka orang lain tapi orang yang disuka ga suka dia :(

Karena standar tiap orang beda-beda, maka alam akan menyeleksi orang dan mengelompokkannya ke dalam lingkungan dengan standar yang sama. Yang suka main bola nanti berkumpul sama yang suka bola. Yang suka orang lain tapi orang yang disuka ga suka dia akan berkumpul dengan orang-orang yang senasib.

Bentuknya seleksi alam kaya apa sih? Ada soal TPA ama matematika juga? Waktu adalah soal utama di seleksi alam. Kenapa waktu? Karena seiring berjalannya waktu sifat asli orang akan makin keliatan. Oke, pake contoh deh biar jelas. Ada yang pernah masuk organisasi? Di awal-awal masuk organisasi pasti orang-orang yang 'baru' masih semangat banget. Tiap hari ke sekre, main sama sesama amggota organisasi lainnya, dll. Tapi coba diliat setelah 3-4 bulan. Bakal keliatan mana orang yang emang commit di organisasi itu. Pasti ada orang yang dulunya tiap hari ke sekre jadi jarang keliatan, terus lama-lama menghilang. Pasti pernah mengalami kan?

Hal ini berlaku juga buat pertemanan. Coba list down semua teman kita, jumlahnya pasti ratusan. Tapi dari ratusan itu mana teman yang serimg main sama kita? Makin dikit kan? Terakhir coba list down teman terdekat kita. Mungkin cuma ada 2-5 orang. That's how nature works. Karena ga semua teman kita punya standar yang sama dengan kita.


Seleksi alam ini berlaku di segala hal di dalam kehidupan kita. Jadi, semisal kita dihadapi dengan banyak pilihan, yakin deh seiring dengan berjalannya waktu alam akan menyeleksi dan menyisakan pilihan terbaik buat kita. Buat para wanita yang galau karena dideketin banyak lelaki secara bersamaan, yakinlah orang yang terus bertahan menunggumu adalah orang yang tepat bagimu :) Kenapa wejangannya ke cewek? Karena cewek itu yang pusing menentukan pilihan. Kata orang jawa "lanang menang nembung, wedok menang milih" Kalo ga ngerti googling gih. Oke, ini cuma intermezo aja

Jadi, good luck untuk seleksinya & selamat bermalam Minggu :)

Monday, September 15, 2014

REPOT?


Repot, adalah alasan yang sering digunakan orang untuk ngeles dari suatu pekerjaan. Misal : “Wah, aku ga bisa dateng rapat nih. Lagi repot bersih-bersih rumah” atau “Maaf ya yang, aku ga bisa ngapel ke rumah kamu malem ini. Aku lagi repot selingkuh.”
See? Repot adalah opsi nomor satu dalam menolak pekerjaan J

Tapi, dari  penggunaan ‘repot’ sebagai alasan ngeles kerjaan, yang aneh adalah alasan ‘takut repot’. Kalo contoh di atas tadi adalah contoh orang ngeles karena ‘lagi repot’, berikut akan dibahas contoh orang ngeles karena ‘takut repot’. Contoh :
A: “Besok ikut naik gunung yuk”
B: “Males ah. Repot persiapannya. Mesti nyari carrier, sleeping bag, dll”

Contoh lainnya :
A: “Kamu saya kasih kepercayaan sebagai ketua panitia lomba 17an ya”
B: “Jangan saya, Pak. Pasti repot banget kalo jadi ketua panitia. Kan harus nyiapin ini itu, begana begini”

Ngerti kan bedanya alesan “lagi repot” sama “takut repot”. Orang yang menggunakan alesan “takut repot” ini ga sadar kalo sebetulnya di sepanjang kehidupan kita itu sebetulnya selalu dipenuhi kerepotan. Semua pilihan dan tindakan kita di dunia yang fana ini akan membawa berbagai kerepotan ke dalam kehidupan kita. Ga percaya? Buat yang kuliah silahkan jawab pertanyaan ini.
“Kuliah itu repot ga?” “Skripsi repot kan? “Nemuin dosen pembimbing repot abis kan?”

Buat yang udah kerja, silahkan jawab ini
“Jadi karyawan repot kan?” “Duit udah habis, tapi belum gajian itu repot banget kan?”

Yang udah jadi orang tua, silahkan jawab ini
“Punya anak repot banget kan?”

See? Setiap fase kehidupan kita pasti dipenuhi dengan segala macam kerepotan. Cuma bentuknya aja yang beda. Kalo mahasiswa ya repot belajar, ngerjain tugas, bimbingan skripsi. Kalo karyawan repot meeting, bikin report, dimarahin atasan. Kalo pengangguran repot nyari kerjaan. Huehehehe

Terus kenapa kita sering ga sadar kalo sebetulnya hidup ini repot? Karena kita menikmati kerepotan yang kita hadapi. Pernah pacaran? Repot ga? Yang jawab ga repot pasti bohong. Jawabannya pacaran itu REPOT. Repotnya apa? Masa ga tau repotnya pacaran? Jomblo abadi ya? Huehehehehe

Intinya, pacaran itu repot, tapi karena kita sayang ama pacar kita jadinya kita ga ngrasa kerepotan. Bener ga? Oke, saya cari contoh selain pacaran supaya yang belum pernah pacaran bisa ngerti. Buat saya yang kuliah di Ilmu Komunikasi, ngeliat mata kuliah dan tugasnya anak Teknik Kimia ya pasti komentar “Dih, repot amat tugasnya”. Pun begitu anak Teknik Kimia ngeliat tugas dan mata kuliah anak Komunikasi. “Dih, mata kuliah ama tugasnya ngerepotin banget!” Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena minat dan kesukaannya beda. Anak Komunikasi disuruh ngitung reaksi kimia ya mabok juga. Anak Teknik Kimia disuruh bikin script berita ya pasti frustasi.


Jadi, sebetulnya hidup ini udah repot banget. Cuma karena kita ‘repot’ untuk hal yang kita suka, jadi ga berasa repot. Hal ini berlaku buat apapun, kerjaan, kuliah, organisasi, pacar, dll. Kita ga bisa menghindar dari repot. Kita cuma bisa memilih repot di hal atau orang yang tepat dan worth it. Dan tiap orang punya alasannya sendiri dalam mempertimbangkan mau repot untuk apa atau untuk siapa J

LAGI REPOT APA ANDA SEKARANG?

tulisan ini dibikin karena sebuah percakapan hari ini :)

Saturday, September 13, 2014

Saya Fans Baru Anda :)

Pernah ga bosen sama koleksi lagu di laptop, smartphone, ipod, atau di media lainnya? Beberapa minggu belakangan ini saya lagi mengalami fase bosen ama koleksi lagu sendiri. Lama-lama bosen juga denger lagu yg itu-itu aja, meskipun lagu yang ada di laptop saya cuma lagu yang emang saya suka aja. Alhasil tiap buka laptop jadi jarang buka music player. Karena saya adalah tipe orang yang suka kerja sambil denger musik, keadaan kaya gini lumayan frustrating juga. Tiap mau kerja, play lagu di laptop bukannya terhibur malah  bosen.

Di tengah keadaan yang frustrating ini saya dipertemukan dengan deezer . Jadi, deezer ini adalah situs musik online dimana kita bisa langsung dengerin lagu secara GRATIS!! Sekali lagi, GRATIS!! Kita bisa searching artist atau lagu yang kita pengen. Ada fitur yang cocok buat orang-orang semacam saya (lagi bosen sama koleksi lagu sendiri), yaitu RECOMMENDED FOR YOU & EXPLORE. Via 2 fitur ini kita bisa nyoba dengerin lagu-lagu baru yang belum pernah kita denger sebelumnya. Pokoknya sip deh. Oh iya, deezer ini available buat IOS ama Android juga :) Tapi di postingan ini saya bukan ngebuzz deezer lho ya, dan deezer bukan inti dari postingan ini. Huehehehe

Selama saya kenalan sama deezeer ini belum ada lagu atau artist yang rasanya klik di telinga dan hati. Sampai Sabtu kemarin saya ga sengaja dengerin salah satu stasiun radio lokal Solo pas lagi di jalan. Di acara itu ada semacam interview ama seorang penyanyi yang lagi promo albumnya di Solo, namanya Danilla. Saya langsung tertarik sama si Danilla ini, karena namanya mirip sama saya. Daniel sama Danilla kan mirip tuh. Huehehehe

Sebelumnya saya belum pernah denger nama Danilla sih, tapi langsung tertarik aja buat dengerin lagunya. Alhasil saya pantengin tuh siaran radio. Saya bela-belain naik mobilnya pelan-pelan biar bisa dengerin sampai selesai. Dan, saya langsung jatuh cinta begitu lagu Buaian di play sama si penyiar. Lagunya enak banget buat telinga saya. Aransemen lagunya mengingatkan saya sama lagu-lagu jazz tahun 50-60an, semacam lagunya Frank Sinatra, Nat King Cole, dan kawan-kawannya. Jarang ada penyanyi yang berani jualan lagu kaya gini, apalagi sekarang yang lagi trend di pasar adalah music bergenre pop. Menurut saya, orang-orang yang suka dengerin lagunya Tulus , Karen Souza atau lagu-lagu semacam Autumn Leaves, Misty, I Won’t Dance, I’ve Got You Under My Skin, pasti bakal jatuh cinta ama Danilla.

Begitu sampai rumah, saya langsung browsing video Danilla di Youtube. So far, saya suka banget sama lagu Buaian, Senja di Ambang Pilu & Terpaut Oleh Waktu. Di Lagu Terpaut Oleh Waktu aransemen pianonya syahdu banget J Sebetulnya malemnya Danilla bakal main live di salah satu acara di Solo, tapi sayang saya ga bisa datang. Oh iya, ada yang tau albumnya Danilla udah available di Solo belum ya? Atau bisa beli online? Mau dong beli albumnya. Sekarang baru bisa dengerin lagunya via Youtube nih. 

Jadi, saya cuma mau bilang, “Danilla, saya fans baru anda!” J


Yang penasaran sama Danilla, bisa langsung cek nih :)



Monday, September 8, 2014

Sudahkah anda bersenang-senang?

Ciyee ngeblog mulu ciye. Ah, paling karena masih baru blognya. Huehehehe. Yah, semoga meski waktu terus berlalu blog ini tak akan dipenuhi debu.

Now I’m 21. Udah bisa dikategorikan sebagai lelaki dewasa. Ya, paling ga mulai mencoba menjadi dewasa lah. Perilaku dan pola pikir mulai berubah, mulai menyiapkan masa depan, mulai nyicil laporan magang dan mulai mikir judul skripsi, mulai menyiapkan strategi milih pembimbing skripsi juga. Huehehehe

Status dewasa selalu datang bersamaan dengan tuntutan dan tekanan. Begitu kita disebut dewasa, semacam ada beberapa hal tak tertulis yang harus kita patuhi. Misalnya, orang dewasa itu harus serius, orang dewasa itu ga boleh main-main lagi, harus kerja keras supaya masa depannya cerah, dll, dsb, dst. Well, emang sih itu kewajiban seseorang yang udah dewasa. Tapi bukan berarti di setiap detik kehidupannya orang ‘dewasa’ harus memenuhi semua to do list tadi. Mungkin saya masih terlalu muda untuk ngomong kaya gini, tapi kadang orang dewasa perlu kembali jadi anak-anak lagi. Capek juga kan serius terus-terusan ~

Jadi anak-anak bukan berarti kemulan pake selimut waktunya Doraemon terus balik jadi balita lagi. 
sumber : google.com




Cukup merasakan lagi tugas dan kewajiban kita pas masih kecil dulu, yaitu HAVE SOME FUN J Lho, saya udah bersenang-senang kok. Tiap weekend hangout, punya gadget banyak, punya pacar banyak (lho), dll, dsb, dst. Yakin udah bersenang-senang kaya anak kecil? Pas kecil kita ga peduli sama lingkungan, ga peduli diomongin orang. Nah, yang kaya gitu baru bisa disebut bersenang-senang!!

Ask this to yourself, “hal apa yang bisa saya lakukan tanpa takut dikatain orang lain?” Kalo dalam bersenang-senang kita masih takut dikatain orang, takut dibilang ga dewasa, artinya bersenang-senang itu Cuma label aja. Tapi, hati kita ga bersenang-senang.

Banyak cara untuk bersenang-senang ala anak kecil gini. Dan tiap orang punya metodenya masing-masing. Metode saya adalah : having a jam session with my crew, kumpul sama old friends, ngobrol sama ibu dan orang yang spesial buat saya. Gimana caranya kita tau kalo kita udah bener-bener bersenang-senang? When you really have fun, you will show your other side. Tiap orang punya kepribadian yang disimpan demi kepentingan menjadi orang dewasa. Bisa aja orang yang sehari-hari tegas, galak dan nyebelin ternyata aslinya manja banget. People have their other side. Nah, kalo kita bisa menunjukkan sisi sebenarnya dari diri kita, itu baru bisa dihitung bersenang-senang.

Jadi, bagaimana caramu bersenang-senang?


By the way, hari Minggu kemarin saya habis bersenang-senang. Caranya? Kumpul sama temen SMP, ketawa cekikikan mengenang masa lalu, sampai curhat tentang orang yang ditaksir dulu. Jadi temen saya SMP ada yang naksir temen sekelas selama 9 tahun. Ya, 9 tahun. Dari SMP sampe sekarang kuliah semester 7 dia masih menyimpan rasa gitu. Ah, temen saya ini jadi korban 'jatuh cinta diam-diam'. Cinta emang kejam, apalagi yang ga sempat diungkapkan. I really had some fun.

Jadi anak gaul McD. Ini belum full team.
Dan oknum yang curhat soal penderitaan cintanya belum dateng

Friday, September 5, 2014

Magang? Bukan!! Bersenang-senang? IYA!!

Holla!! This is my first blog post!! And this is about my last holiday. Mmm, sebetulnya bukan liburan juga sih. Karena libur kuliah selama beberapa bulan kali ini diisi dengan MAGANG!! Jadi memang udah jadi kewajiban untuk seluruh mahasiswa dan mahasiswi Ilmu Komunikasi UNS semester 6 untuk magang. Tujuannya? Kalo dari sisi akademis sih untuk menyelesaikan salah satu mata kuliah, tapi kalo buat saya pribadi magang ini waktunya buat cari ilmu, pengalaman dan kenalan baru J

Selama dua bulan, dari 7 Juli – 5 September saya magang sebagai Account Executive di Pop Cult, salah satu digital agency di Jakarta.  Tugasnya AE ini menghubungkan client sama agency. Kaya mak comblang ya? Huehehehe. Dan selama dua bulan itu banyaaak banget pengalaman yang saya dapet. Mulai dari meeting sendirian sama orang Jepang, lembur cuma berdua sama mas Deny sampe malem banget di kantor, ga tidur bikin deck presentasi yang di pagi harinya masih harus direvisi lagi, belajar materi presentasi di taksi, tewas di taksi sama mbak Oliv gara-gara belum makan sampe sore, ikutan pitching, banyak pokoknya!! Oh, yang paling unforgettable adalah nyaris mau dicemplungin ke kolam yang ada di kantor pas hari terakhir magang. Saya dikeroyok beberapa lelaki dewasa yang posturnya gede-gede. Tapi mereka ga kuasa nyemplungin saya yang badannya imut gini. Huehehehe.

Banyak banget ilmu yang saya dapet selama magang di Pop Cult ini. Di bawah bimbingan mas Akbar, mas Dito, mas Indra dan mbak Oliv yang sabar dan baik hati, saya belajar banyak hal tentang gimana cara kerja di sebuah agency. Dulu awalnya saya kepengen banget magang di agency multi nasional. Kan keren tuh kalo ditanya, “Magang dimana?” bisa jawab dengan sedikit congkak “Di Lowe!” atau “Di Leo Burnnet!” Tapi ternyata magang di agency lokal itu lebih seru daripada magang di agency multi. Kenapa? Karena di agency lokal, anak magang bener-bener dapet porsi kerjaan yang sama kaya karyawan tetap. Ga ada tuh ceritanya saya dapet kerjaan yang ecek-ecek. Bahkan sampe harus lembur-lembur segala :p

Bahkan di Pop Cult ini saya dipercaya megang 2 brand, Lotte Toppo ama Danar Hadi. Awalnya takut juga kalo ga bisa apa-apa atau kalo bikin kesalahan. Tapi namanya belajar kan pasti dari ga bisa dulu, jadi yaudah saya jalanin aja. Dan ternyata I really enjoyed it!! Pelan-pelan ngerti apa yang harus dilakuin sebagai AE, meski sempet kena tegur dari mas Akbar karena suatu kesalahan. Huehehe. Pas itu udah siap banget kalo bakalan diomelin atau dimarahin, eh ternyata malah dijelasin salahnya dimana dan seharusnya gimana. Wah, jarang-jarang nih ada pimpinan yang ga marah-marah atau ngomel pas bawahannya salah tapi malah ngajarin gimana yang bener. Thank you ya, mas Akbar!! J
Selama 2 bulan ini kayanya saya ga magang deh, tapi bersenang-senang!! Karena lebih kerasa senengnya daripada capek magangnya J Apalagi orangnya pada baik semua. Rasanya sedih juga harus balik Solo, habis udah akrab sama orang satu tim sih. Tapi mau gimana lagi, saya harus balik ke Solo karena masih harus kuliah. Tapi kalo kuliah udah kelar dan masih ada kesempatan, saya mau kok balik lagi ke Pop Cult!!

Thank you for all the memories and experiences, Pop Cult!! Kalo ada yang mau ke Solo, saya siap menemani puter-puter Solo yang bebas macet itu J

Oh iya, kalo ada yang tanya “Magang dimana?” bakal saya jawab dengan mantap, “Di Pop Cult!!” J


Sosok-sosok yang saya temui selama 2 bulan ini :)
Barisan atas kiri-kanan : mas Surya, mas Ray, mas Akbar, mas Raindy, mas Deny, Udin
Barisan bawah kiri-kanan : mas Indra, mas Dito, saya sendiri, Nana, Regia, Fai, Denis
(ini beberapa saat setelah percobaan nyemplungin saya ke kolam gagal)

Akhirnya ngeblog juga!!

Salam!!

Saya adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS semester 7 yang pada akhirnya tertarik buat nge blog :)
Oh, perkenalkan nama saya Daniel :)

Ngapain ikut-ikutan ngeblog? Jujur, awalnya saya kepengen ngeblog gara-gara blog temen deket saya ini. Terus kepikiran, kayanya asyik juga ya ngeblog. Tapi bukan berarti saya ikut-ikutan temen saya ya. Karena kalo saya ikut-ikutan dia pasti postingan ini bakal jadi kaya gini  :


Dan blog ini akan berjudul jurnaldaniel ~ 
Jadi, saya ga ikut-ikutan temen saya, cuma emang kepengen ngeblog gara-gara buka blog punya dia. Kepengennya udah lama sih, tapi baru terealisasi sekarang. Kenapa baru sekarang? Karena kadang kenyataan ga sesuai dengan keinginan. Kaya misalnya kita sayang ama orang, tapi dia malah sayang orang lain :(
Mmmmm, sudah ah malah galau

Terus,mau diisi apa blognya? Apapun :) Buat saya blog ini fungsinya sebagai reminder atas pengalaman, pemikiran, karya, atau hal apapun yang terjadi di dalam perjalanan hidup saya. Mungkin beberapa tahun lagi blog saya ini bisa jadi media nostalgia saya sendiri :) Tokoh-tokoh terkenal bisa bikin buku biografi sebagai catatan hidupnya, kalo saya ya pake media blog ini dulu aja. Tapi kalo ada orang lain yang khilaf buka blog ini dan merasa suka bacanya, itu bonus buat saya :)

Yaah, jadi intinya mulai sekarang blog ini akan diisi dengan catatan-catatan tentang perjalanan hidup saya yang mungkin akan saya rindukan di masa yang akan datang :)