Tuesday, August 25, 2015

Inside Out : It's okay to be sad

Baru Senin kemarin saya nonton Battle of Surabaya, kemarin sore saya kembali duduk manis di dalam studio menatap layar lebar. Kali ini saya nonton film yang memang sudah saya tunggu kedatangannya. Tak lain dan tak bukan adalah Inside Out. Saya pertama kali tahu Inside Out ketika nonton Ant-Man. Seperti biasa, sebelum film utama main kan ada teaser film yang akan tayang. Nah, di situ saya lihat teaser Inside Out. And my first reaction was : “ I need to watch this movie!! The idea of the story is so cool!!” Buat saya, ide cerita dari Inside Out itu keren banget. Pixar try to explain how our brain works through an animation movie. How cool is that?! Saking penasarannya sama film ini, saya rela volume dompet menipis gara-gara nonton dua film dalam dua hari berturut-turut L
Oke, setelah merelakan sisa uang berpindah tangan ke mbak-mbak penjual tiket, saya duduk manis di dalam studio. Studio lumayan penuh, ga kaya pas nonton Battle of Surabaya L Baru beberapa menit duduk manis, saya sudah dikejutkan oleh film pendek yang diputar sebelum Inside Out. To be honest, this is my first time to watch a short movie before the main movie itself. Judulnya, Lava. A short story about a lonely volcano who dreaming of companion. He sings a hawaiian beautiful song everyday, waiting for his dream come true. Singkat cerita, dengan sedikit drama akhirnya si lonely volcano get his companion. They stand side by side and wish they could grow up together. Keadaan dompet yang udah tipis abis langsung terlupakan begitu saja. This short movie is so cool!! I just can’t wait for the main movie!!
It's a good short movie!!
Film dibuka dengan “Do you ever look at someone and wonder : What is going on inside your head?” Kemudian diikuti dengan scene dimana Riley dilahirkan, bersamaan dengan munculnya Joy di dalam pikirannya. Joy yang bertanggung jawab atas tawa pertama Riley di dunia yang fana ini. Joy thought it will be only Riley and her. And she’s right for 33 seconds. After that, sadness, disgust, fear and anger just come. Inside out is about the struggle of Joy, Sadness, Disgust, Fear and Anger to overcome Riley’s problem. Riley has problem since she moved from Minnesota to San Francisco. You can imagine how it feels if you need to move in a young age. You need to adapt with the new environment, new friend, new school. You’ll miss your old friend, your old home, old city and all the memories you left behind. Joy, merasa bahwa Riley harus tetap bahagia untuk bisa keluar dari masalahnya ini. Anger, Fear dan Disgust mengamini pendapat Joy. So, they put all their best shot just to make Riley happy. And it’s not working well. While they’re working like there’s no tomorrow, sadness come and mess everything up. Semua yang dilakukan oleh Sadness membuat Rilley semakin sedih. It makes Joy upset. Joy tries to fix everything, and suddenly bad thing happened. Joy and Sadness accidentally got dumped to the long term memory. Without Joy, Riley turn into blue. So, Joy and Sadness try to make their way back to headquarter (the place where they belong). And so the journey began!! Saya jatuh cinta dengan cara Pixar mengintepretasikan sistem kerja otak kita dalam sebuah film kartun. Kenangan digambarkan seperti sebuah gundu besar dengan warna berbeda. Core memories yang membentuk pribadi individu digambarkan seperti pulau-pulau. Ada juga imagination land yang bertanggung jawab terhadap semua imajinasi dan khayalan yang pernah kita lakukan. Dan bagian terfavorit saya adalah dream production. Bagian yang berfungsi memproduksi mimpi ini digambarkan seperti studio film di Universal Studio. Ada setting yang biasa digunakan untuk take adegan mimpi. Ada para artis yang sibuk membaca script mimpi. Ada seorang program director, cameraman, floor director. Lengkap, seperti lokasi produksi film pada umumnya.
Seperti film kartun pada umumnya, karakter utama akhirnya berhasil melewati rintangan untuk mencapai tujuannya. Joy dan Sadness berhasil kembali ke headquarter. Yang menarik adalah, selama perjalanannya Joy menyadari fungsi penting dari Sadness. Joy, Anger, Disgust, Fear dan Sadness selalu berpikir bahwa Sadness tidak berguna. Sadness hanya membuat Riley sedih. Sadness hanya membuat emosi Riley memburuk. Sadness mengutuk keberadaan dirinya yang tidak berguna bagi Riley. Dia iri dengan Joy yang selalu bisa membawa senyum dan kebahagiaan untuk Riley. Justru Joy yang menyadari arti penting dari Sadness ketika ia melihat kembali kenangan terindah Riley. Dimana Riley dielu-elukan oleh anggota grup hoki dan kedua orangtuanya. That’s one of the best moment in Riley life. Namun ternyata, sebelum Riley merasakan momen terbaik di dalam hidupnya itu, ia dilanda kesedihan yang luar biasa. Riley merasa sedih karena ia gagal mencetak gol penentu kemenangan grup hokinya. When Riley is sad, her parents and friends come to cheer her up. Joy realized, you can feel happiness if you’ve felt sadness before. On that moment Joy knew how important Sadness is. Right after they back to headquarter, Joy let Sadness to take control. Joy believe Sadness is the answer for Riley’s problem. And Joy’s right. Riley finally cried, she expressed what she felt to her parent. She couldn’t hold it anymore. After all tears and hugs, Riley felt much more better. We’ve been in this situation, haven’t we? Sometimes all we need is cry. Just let all the pain and sadness go with tears. It’s okay to feel sad, it’s okay to cry. Crying doesn’t make you weak. Crying makes you feel better. Just like Joy thought, we will never know what happiness is if we never felt what sadness is. That’s the importance of Sadness. Jujur, di scene Riley nangis sambil berpelukan dengan orangtuanya ini saya sedikit menitikkan air mata. Rasanya saya ikut merasakan beban Riley yang hilang bersama tangisannya :’)

This made me cry :')
Well, overall Inside Out is a very good movie to watch!! Good animation (dude, you can’t doubt Pixar), good story, good interpretation about our minds. Cuma menurut saya, meskipun Inside Out ini film animasi, rasanya kurang cocok untuk ditonton anak kecil. Karena ada konsep-konsep tentang pikiran, kenangan dan perasaan yang mungkin sulit dipahami oleh anak kecil. 

Remember, it's okay to be sad. It's okay to cry :)

Monday, August 24, 2015

BATTLE OF SURABAYA : No Glory In War

            Semalam saya dan dua teman saya memutuskan untuk nonton sebuah film karya anak bangsa yang sempat jadi buah bibir di dunia maya. Battle of Surabaya, sebuah film animasi bertemakan perjuangan yang digarap oleh mahasiswa-mahasiswa AMIKOM Jogjakarta. Cerita film ini diadaptasi dari kisah Perang 10 November 1945 di Surabaya yang jadi cikal bakal hari Pahlawan. Ketika pertama kali diajak teman untuk nonton film ini, saya ngerasa sangat excited. Penasaran seperti apa sih film animasi lokal yang bisa ikutan mejeng di bioskop-bioskop. Bahkan sebelum nonton saya sempet googling tentang film ini, dan banyak komentar positif tentang film ini di dunia maya. Saya makin semangat!! Saya berencana nonton jam 18:30. Karena melihat animo yang amat positif di dunia maya tentang film ini, saya dan teman saya berasumsi pasti bakal banyak banget yang mau nonton Battle of Surabaya. Karena kami adalah generasi yang penuh perhitungan, maka kami memutuskan untuk datang satu jam sebelum film dimulai. Supaya kebagian tiket dan bisa milih tempat yang strategis. Heheheheh
            Tepat 18:30 saya masuk ke studio. Ekspektasi saya tentang jumlah penonton film ini salah besar. Studio cuma berisikan kurang dari 30 orang. Rasanya sedih banget melihat film lokal yang menurut saya (berdasarkan riset di dunia maya) berkualitas ini sepi penonton. Yah, nampaknya orang Indonesia masih memandang sebelah mata karya anak bangsanya sendiri L Rasa sedih saya langsung terhapuskan ketika film dibuka dengan logo AMIKOM Jogjakarta. Jujur, rasanya merinding banget ketika logo AMIKOM Jogjakarta terpampang di layar lebar. Ada perasaan bangga bercampur ga nyangka kalau film yang akan saya tonton ini merupakan buah tangan teman-teman di kota sebelah. Adegan dibuka dengan peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki, kemudian diikuti dengan penjelasan singkat kronologis kemerdekaan RI. Saya cuma bisa melongo. GAMBARNYA BAGUUUUS BANGET!!!! GAMBARNYA MELEBIHI EKSPEKTASI SAYA!!!! Buat perbandingan, menurut saya gambar Battle of Surabaya ini 11-12 dengan gambar kartun Avatar the Legend of Aang. Serius, gambarnya bagus banget!! Ada salah satu adegan yang memperlihatkan armada kapal perang Inggris mendekati pelabuhan Tanjung Perak yang langsung mengingatkan saya pada adegan ketika kapal perang Negara Api mau menyerang suku Air di Avatar Aang!! Secara visual, Battle of Surabaya layak diacungi jempol!!
            Battle of Surabaya menceritakan seorang penyemir sepatu bernama Musa yang bekerja merangkap sebagai kurir pesan rahasia. Maklum, jaman itu belum ada LINE atau BBM. Sepanjang film Musa akan ditemani oleh dua sahabatnya, Yumna (Maudy Ayunda) & Mas Danu (Reza Rahardian). Yumna harus kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil karena dibunuh oleh tentara Jepang. Mas Danu lah yang merawat Yumna sejak kecil. Di dalam film ini dikisahkan ada sebuah organisasi bawah tanah bentukan Jepang yang bernama Kipas Hitam. Saya ga tau apakah ini hanya rekaan fiktif belaka atau memang ada organisasi bernama Kipas Hitam. Organisasi Kipas Hitam ini memiliki tujuan untuk melindungi kepentingan Jepang. Dan ternyata Mas Danu dan Yumna adalah anggota dari organisasi ini!! Musa mengetahui fakta tentang mas Danu dan Yumna, kemudian menganggap mereka sebagai pengkhianat bangsa. Namun setelah melewati beberapa konflik dan drama, mas Danu dan Yumna kembali berpihak pada Indonesia. Menurut saya, dari segi alur cerita, film ini masih kurang kuat. Saya sempat bingung di beberapa bagian karena ada sedikit bagian yang jumping. Perpindahan dari tiap scene juga masih kurang baik, menurut saya. Ketika saya masih mencoba memahami satu scene, saya sudah diajak berpindah ke scene selanjutnya. Oh iya, meskipun ini film tentang perang, tapi justru adegan perangnya kurang begitu banyak. Plus ada bumbu romansa di film ini. Seperti layaknya FTV, Musa, Yumna dan Mas Danu terlibat dalam cinta segitiga. Musa dan mas Danu jatuh hati pada Yumna. Yumna, menyayangi mas Dani, tapi hanya sebagai seorang kakak. Dan entah bagaimana perasaan Yumna ke Musa.
            Selain aspek visual, satu hal yang patut diacungi jempol untuk film ini adalah aspek humornya!! Saya ga berhenti ketawa terpingkal-pingkal dengan humor yang dibawakan oleh Cak Soleh, seorang tentara dengan logat Surabaya yang kental. Humor di dalam film ini membawa kearifan lokal, menurut saya. Beberapa humor memanfaatkan logat-logat yang ada di Indonesia. Saya sebagai orang Jawa spontan tertawa ketika pada suatu adegan mas Danu berseloroh menggunakan frasa “Mbahmu!” kepada Cak Soleh. Secara keseluruhan saya puas membelanjakan uang saya untuk menonton film ini. Tapi menurut teman saya, pengisi suara untuk Yumna dan Mas Danu kurang cocok. Mungkin karena Reza Rahardian dan Maudy Ayunda memang ga terbiasa jadi dubber. Teman saya berpendapat akan lebih baik kalau saja dubbernya menggunakan tenaga ahli yang sudah terbiasa mengisi suara film animasi. Yah, kehadiran Reza Rahardian dan Maudy Ayundya kan memang dijadikan sebagai nilai jual dari film ini. Yang saya lihat dari setiap promosinya memang Reza Rahardian dan Maudy Ayundya menjadi bahan “jualan” utama film ini. Ironis, ketika sebuah film lokal harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat. Jujur, saya pribadi nonton film Battle of Surabaya karena film ini dibuat oleh anak bangsa. Bukan produk Hollywood.

Setelah film habis diputar, saya masih duduk termenung di kursi empuk berwarna merah menyala. Mata saya masih belum lepas dari credit title yang terus berjalan. Perasaan bangga menyelimuti hati saya diiringi dengan merinding di area tengkuk. Rasanya sungguh terharu bisa menjadi saksi salah satu karya anak bangsa. Saya yakin, ke depannya masih banyak produk lokal bekualitas yang akan muncul. Tidak hanya pada ranah film saja. Semoga, ketika waktu itu datang, masyarakat lebih bisa menghargai karya keringat anak bangsa. Semoga, ketika ada film seperti Battle of Surabaya lagi, studio akan penuh sesak oleh penonton. Sama seperti ketika kita menonton film-film milik Hollywood J

Thursday, July 30, 2015

INSIDE OUT : CAN'T WAIT TO WATCH THIS MOVIE

2015 ini tahunnya film. Avengers : Age of Ultron, Furious 7, Jurassic World, Ant-Man, Kingsman : The Secret Service, Pitch Perfect 2 adalah segelintir film yang sudah tayang hingga pertengahan tahun 2015 ini. Belum lagi film-film yang masih duduk manis di dalam waiting list : Mission Impossible, Fantastic Four, Hitman : Agent 47, Maze Runner : The Scorch Trials, Spectre dan The Hunger Games : Mockingjay part 2. Dari sekian banyak film yang menggoda untuk ditonton, ada satu film yang secara pribadi pengen banget saya tonton. Tak lain dan tak bukan : Inside Out.

Inside Out bukan fillm sequel seperti Maze Runner atau Hunger Games yang sudah punya nama dan penggemarnya sendiri. Saya sendiri baru tahu keberadaan film garapan Disney Pixar ini pas nonton Ant-Man. Yap, ada trailer Inside Out sebelum film Ant-Man diputar. Lalu, apa yang bikin saya ngebet banget buat nonton film ini? Bukan karena film ini dikerjakan oleh Disney Pixar, bukan pula karena aktornya, bukan pula karena ini film kartun. Tapi karena premisnya. Premis atau ide cerita dari Inside Out ini menarik banget! Dan bisa dibilang mind-blowing!! Idenya merupakan hal yang sangat dekat dengan kehidupan setiap orang di muka bumi. Semua orang pasti pernah mengalaminya, tapi mungkin hanya sedikit yang tertarik dengan hal ini. Inside Out is a movie about our feeling and emotion!!

Everybody got their own feeling and emotion. Since their first day on earth until their time’s up. Dan Inside Out ini coba menjelaskan bagaimana sebetulnya sistem kerja emosi dan perasaan di dalam kepala manusia. Have you ever wonder who’s speaking inside your head? Is there someone there? Who’s responsible for random thought like : I think I want pizza or what if people’s around me hate me? If you are really curious about it, maybe you should watch Inside Out!! Saya langsung tertarik dengan film ini setelah trailernya dibuka dengan kalimat “Do you ever look at someone and wonder : What is going on inside your head?” Pikiran yang terlintas pertama kali di pikiran adalah : FILM INI KEREN BANGET IDE CERITANYA!! Ide yang mungkin sama sekali ga kepikiran oleh orang, tapi justru sangat dekat dengan kehidupan kita. Dalam hati saya langsung berencana untuk googling film ini selepas nonton Ant-Man. Dan ternyata Inside Out ini dapet rating yang tinggi dari Rotten Tomatoes! Beberapa situs psikologi juga memberikan review bagus mengenai Inside Out. Salah satunya reviewnya bisa dicek di sini

Inside Out bercerita tentang isi kepala dari Riley, seorang gadis kecil berumur 11 tahun. Di film ini digambarkan bahwa emosi dan perasaan manusia dipengaruhi oleh lima karakter : joy, disgust, sadness, anger dan fear
Semua orang memiliki lima karakter ini, dan setiap emosi yang terjadi pada diri kita dipengaruhi oleh mereka-mereka ini. The main character is Joy, not Riley, one of the emotion inside our head. Inside Out juga menggambarkan bagaimana sistem kerja otak kita. Bagaimana kita berimajinasi, bagaimana mimpi dibuat atau bagaimana kita mengingat kenangan. Semua digambarkan dengan cara ringan dan colorful. Sesuai dengan karakter Disney Pixar selama ini. Well, kurang lebih itu gambaran yang saya dapat setelah browsing sana-sini tentang Inside Out ini. Sekarang satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah duduk manis menanti tayangnya Inside Out di Indonesia. Kabarnya sih film ini akan mulai tayang 19 Agustus 2015. Semoga nggak telat. Btw, adakah yang mau nonton Inside Out sama saya? Karena di dalam kepala sudah mulai ada yang bertanya, “MAU NONTON AMA SIAPA WOY? DASAR JOMB………” 

Monday, July 27, 2015

Adu Jotos atau Adu Jempol?

Jaman udah berubah. Banyak hal yang berubah. Sama kaya orang pacaran yang dulunya sayang-sayangan, begitu putus jadi musuhan. Yang ga berubah hanya rasa cintaku padamu ~ Baiklah, abaikan yang terakhir. Tapi emang beneran jaman udah banyak berubah. Terutama setelah dunia ini diinvasi oleh teknologi bernama smartphone dan internet. Sekarang baca berita ga perlu beli koran, nyatet materi kuliah buat contekan juga ga perlu pake kertas. Semua bisa dikerjakan secara digital. Thanks to our smartphone for making all those possible. Berita tentang krisis Yunani bisa diakses sama anak SMP di kota Sleman secara instan. Thanks to internet for making it possible.
Smartphone dan internet. Pasangan ini membawa perubahan yang dahsyat banget buat kehidupan kita. Banyak pergeseran nilai dan perilaku yang terjadi gara-gara kehadiran pasangan maut ini. Salah satunya adalah : ciri-ciri orang yang ditakukin. Di sekolah pasti ada satu anak bengal yang hobi banget bikin onar. Anak macam ini pasti terkenal baik di kalangan guru  maupun siswa. Bukan, bukan karena prestasinya. Tapi karena dia pasti sering keluar masuk ruang guru. Dan yang pasti spesies kaya gini ditakutin banyak siswa. Rata-rata pada takut diajak berantem atau tiba-tiba dibegal di jalan kalau macem-macem ama si bengal ini. Coba ingat-ingat karakter anak bengal di sekolah dulu, deh. Pasti tipikal alias hampir sama. Badan tinggi gede, seragam ga pernah dimasukin, jarang bawa tas (kalau bawa juga pasti ga ada isinya), rambut panjang (melebihi standarisasi sekolah mengenai panjang rambut yang diijinkan) dan yang pasti jarang nongol di kelas karena hampir tiap hari bolos. Kalau kamu punya temen dengan ciri-ciri kaya gini, kamu harus berbangga karena bisa jadi temen kamu itu punya reputasi yang menyeramkan di sekolah dulu. Anak bengal macam ini, cuma jalan di koridor sekolahan aja udah bikin siswa lain minggir berusaha ngasih jalan. Yang pada duduk berjubel di kantin, liat si bengal ini dateng langsung pada angkat pantat memberikan tempat buat dia. Yah, kira-kira kaya gitu deh ciri-ciri orang yang ditakutin siswa.
Tapi, itu dulu. Jaman dulu orang takut karena kondisi fisik (badan gede, tatoan, rambut gondrong, dll). Jaman sekarang orang takut karena pengaruh. Yap, di era modern ini orang lebih takut sama account twitter dengan follower jutaan daripada sama cowok gondrong tatoan. Kenapa oh kenapa? Karena cowok gondrong tatoan paling cuma bisa malakin. Tapi account twitter dengan jutaan follower bisa menyebarkan suatu pesan ke jutaan pengikutnya hanya dengan bermodalkan jempol dan koneksi internet. Dahsyat!! Bayangkan, kalau misalnya kita berantem ama cowok gondrong bertato, paling cuma digebukin (yakali digebukin dibilang ‘paling’). Efeknya paling luka-luka, atau paling mentok dirawat di RS. Seminggu juga sembuh. Tapi kalo kita sampe bermasalah sama selebtwit, perkaranya bisa panjang. Bisa aja si selebtwit ini akan mengupload foto jaman kita masih alay di twitternya. Yang kemudian akan dilihat oleh jutaan followernya. Kalau misalnya followernya nge RT foto kita, maka follower dari follower si selebtwit ini jug akan melihat foto aib kita. Kemudian nama kita akan tercoreng gara-gara foto alay kita beredar bebas di Twitter L Sorry kalau contohnya agak ngaco, tapi kira-kira kaya gitu gambaran betapa menakutkannya orang dengan follower banyak. Orang dengan follower banyak bisa menggerakkan followernya buat melakukan sesuatu atau setidaknya merubah pola pikir followernya. Contoh yang baru aja kejadian sih pas @Shitliciour di Twitter mulai cuap-cuap pakai #hapuskanOSPEKsampah. #hapuskanOSPEKsampah ini tujuannya buat menyadarkan masyarakat kalo ospek yang isinya cuma tugas ga penting, bullying dan hal-hal ga penting lainnya itu sama sekali ga memberi dampak positif buat siswa. Kenapa OSPEK ga diisi dengan kegiatan positif aja? Kira-kira begitu tujuan dari hashtag yang diinisiasi oleh @Shitlicious ini. @Shitlicioius, dengan follower sekitar 600 ribu an berhasil bikin #hapuskanOSPEKsampah ini jadi TT Indonesia dalam jangka waktu yang singkat. Coba bayangin kalau yang ditwit @Shitlicious ini foto aib kita!! Terus foto kita jadi TT Indonesia!! Mau ditaruh dimana muka kita?! Sebaliknya, kalau yang ditwit @Shitlicious adalah kebaikan kita dan jadi TT Indonesia juga, mungkin kita bisa dapet pacar. Mungkin, ya. Baru mungin . . .
#hapuskanOSPEKsampah jadi TT Indonesia
Jadi, pilih adu jotos sama cowok gondrong tatoan atau adu jempol sama selebtwit? Kalau abang sih lebih pilih ngajak serius kamu aja, dek ~




Monday, June 8, 2015

Everything start from a small thing

Coba bayangkan, saat ini dirimu duduk termenung di bawah pohon yang rindang pada siang hari. Menatap langit biru dengan awan putih yang nampak seperti gumpalan kapas. Matahari bersinar cukup terik, tetapi keberadaanmu dilindungi oleh rindangnya pepohonan di atas kepalamu. Sinar matahari menembus malu dedaunan dan ranting, menyentuh kulitmu. Hangat, tetapi tidak panas. Hembusan angin seakan menggodamu untuk memejamkan mata barang sekejap. Matamu masih terus menerawang ke langit, seakan bisa melihat keberadaan yang ada di balik awan. Mencoba membayangkan hari-hari yang akan datang. Dengan satu tarikan nafas yang cukup panjang, pertanyaan itu terucap, “Apakah jalanku sudah benar?”
22 tahun sudah kamu menjalani kehidupan. Sudah begitu banyak hal terjadi di dalam kehidupanmu. Manis, pahit, tawa, tangis, semua pernah kamu rasakan. 22 tahun bukan waktu yang singkat untuk mulai bertanya mengenai kehidupan. Namun waktu yang singkat untuk memahami jawabannya. Wisuda sudah menanti di depan mata, menjadi sebuah langkah awal bagimu memasuki fase baru dalam kehidupan. Lepas sudah statusmu sebagai mahasiswa. Hilang sudah statusmu sebagai anak muda. Selepas berfoto bersama orang tua dengan baju toga itu, kamu resmi menyandang gelar baru. Bukan, bukan gelar sarjanamu. Tetapi gelarmu sebagai seseorang yang sudah dewasa. Gelar yang rasanya lebih menakutkan dibandingkan perjuangan yang harus kamu lakukan untuk mendapatkan gelar sarjanamu.
“Setelah wisuda mau apa?”
“Kerja? Atau kuliah lagi?”
“Kalau kerja, mau kerja jadi apa? Dimana?”
“Kuliah? Universitas mana yang akan kamu tuju?”
“Ke kota mana kamu akan melangkah?”
“Apakah gelar sarjanamu akan menjamin kesejahteraanmu?”
Terlalu banyak pertanyaan yang berebutan untuk dijawab. Pertanyaan yang rasanya terlalu sulit untuk dijawab bagi orang seusiamu. Kamu lebih memilih untuk tenggelam di balik kursi ketika ujian, menatap lembar soal ujian Statistik yang bahkan tidak kamu mengerti sama sekali. Dibandingkan harus menjawab salah satu dari pertanyaan di atas. Otakmu berfikir keras, mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi. “Apakah hanya aku saja yang diganggu dengan pertanyaan semacam ini?”, pikirmu. Sesaat kamu memejamkan  mata. Terlintas memori itu, ketika salah seorang sahabatmu mengutarakan kegundahan hatinya seperti yang kamu rasakan saat ini.
It’s been more than a year. Saat itu, selepas kelas sahabatmu mencurahkan keluh kesahnya mengenai hidup. Ia bingung harus kemana ia melangkah untuk bisa memenangkan kehidupan ini. Saat itu kamu tidak bisa memberikan jawaban apapun. Bahkan, kamu menganggapnya sebagai orang yang aneh. Mengapa harus begitu khawatir dengan kehidupan? Kita masih muda, untuk apa bersusah payah memikirkan masa depan yang masih jauuuh. Lebih baik kita nikmati masa muda dengan bersenang-senang. Begitu pikirmu saat itu. Namun, saat ini kamu sadar. Apa yang dirasakan sahabatmu itu adalah sesuatu yang wajar. Memang seharusnya kita mengkhawatirkan hidup. Agar kita bisa menyiapkan berbagai rencana untuk menghadapi kehidupan yang kadang pahit, kadang manis ini. Kamu mengutuk dirimu sendiri yang saat itu hanya mencemooh pemikiran sahabatmu. Andai saja saat itu kamu sudah memikirkan ini, sekarang kamu pasti sudah memiliki berbagai rencana untuk kehidupanmu.
Kamu coba menggali kembali kenangan itu. Apa kira-kira yang sahabatmu lakukan untuk menjawab pertanyaan yang mengganggu ini? Saat ini, ia sudah menjadi Kepala Cabang di salah satu perusahaan ternama. Bagaimana ia mempersiapkan kehidupannya? Bagaimana ia bisa tahu harus kemana ia melangkah? Semakin lama, seluruh pikiranmu tertuju pada sosok sahabatmu. Lembar demi lembar kisah hidupnya coba kamu buka kembali dan kamu pahami. Pikiranmu terhenti ketika mengingat bagaimana sahabatmu itu berusaha selama 1 tahun belakangan. Ia mencoba banyak hal. Ia pernah menjadi seorang wartawan, fotografer, graphic designer, hingga membantu riset pemasaran yang dilakukan oleh beberapa dosen. Perlahan, kepingan pemikiran yang sudah kamu keluarkan dari kotak kenanganmu mulai tersusun menjadi sebuah jawaban. Sahabatmu, telah mencoba banyak hal. Ia berusaha menemukan jalannya dengan cara mencoba beberapa profesi. Kamu ingat betul bagaimana sahabatmu mengeluh ketika ia menjadi wartawan. Ia mengeluhkan betapa sulitnya untuk mendapatkan sebuah berita. Pun, ketika ia harus begadang demi menyelesaikan revisi design. Di setiap pekerjaannya, ia pasti mengeluhkan sesuatu. Hanya satu pekerjaan yang rasanya tak pernah ia keluhkan. Ketika ia membantu riset pasar yang dilakukan beberapa dosen. Padahal kamu tahu betul betapa berat tugas yang harus ia kerjakan. Dan betapa kecilnya bayaran yang ia terima, jika dibandingkan dengan ratusan lembar kuesioner yang harus ia hadapi setiap harinya. Saat itu, kamu bertanya, mengapa sahabatmu menikmati pekerjaannya membantu riset dosen? Saat ini, kamu baru sadar. Riset yang dahulu bayarannya kecil itu lah yang mengantarkannya menjadi Kepala Cabang. Karena keahliannya di bidang riset pemasaran lah, sahabatmu menikmati jabatannya saat ini.
Pikiranmu kembali ke masa sekarang. Perlahan matamu terbuka, sinar matahari mulai memenuhi pupilmu. Membuatmu harus mengangkat tanganmu untuk mengurangi rasa silau di matamu. Pikiranmu terasa begitu jernih. Rasa-rasanya sudah kamu dapatkan kunci jawaban untuk seluruh pertanyaanmu tadi. “Aku hanya harus mencoba melakukan banyak hal. Agar aku tahu apa yang menjadi passion ku”, ucapmu dalam hati. Passion bukanlah hal yang bisa kamu temukan dengan cara berdiam diri dan membayangkan apa yang sebaiknya kamu kerjakan. Passion adalah hal yang kamu temukan ketika kamu sudah melakukan banyak hal. Kamu sudah merasakan berbagai macam aktvitas, hingga akhirnya kamu bisa memilih mana yang paling kamu sukai. Mana hal yang rasanya terlalu berat untuk ditinggalkan. Hal yang begitu menyenangkan untuk dikerjakan, meski bagi sebagian orang rasanya sungguh berat. Tapi kamu kerjakan dengan penuh senyum. Itulah, passion.

Kamu beranjak dari tempatmu berlindung dari teriknya matahari. Bergegas melangkah pulang ke rumah. Di kepalamu saat ini hanya ada satu hal. Kamu ingin segera mencoba melakukan banyak hal. Seperti apa yang sudah sahabatmu lakukan. Kadang, kita hanya harus berani melangkah, untuk menemukan jalan yang terbaik untuk kira. Some wise man said, “A big step, start from a very small step.” Ketika kamu hanya duduk termenung dan tidak mencoba apapun, jawabanmu mengenai kehidupan tak kan kunjung menghampirimu. Jalan yang benar tidak datang dengan sendirinya, kamu harus berusaha mencarinya. 

You just need to try. Everything, start from a small thing J

Monday, April 20, 2015

Birds of A Feather Flock Together

Si hijau telah digantikan oleh si merah. Seperti barisan bebek yang diangon, hampir semua orang berhenti mematuhi si merah (ada beberapa orang yang sepertinya buta warna tetap nekat jalan menerobos si merah). Sembari menanti si hijau hadir kembali, kepala ini tolah-toleh ke segala penjuru mencari sebuah objek untuk dijadikan pelarian. Mata ini berakhir pada sekawanan burung yang bertengger di kabel listrik. Jumlahnya sangat banyak, mungkin ratusan. Sekawanan burung ini berbaris sangat rapat, mungkin untuk mengusir hawa dingin sore petang itu. Saya tidak tahu jenis burung apa saja itu. Saya yang minim pengetahuan akan burung dan berjarak sekitar 50 meter dari burung, hanya berhasil mengidentifikasi ukuran tubuh burung tersebut. Warnanya sih kayanya coklat atau abu-abu. Yah, suasana gelap menjelang maghrib mengurangi kemampuan mata membedakan warna. Sepertinya sih itu burung gereja, burung yang memang sering ditemui di tengah pemukiman penduduk. Oke, satu jenis burung berhasil teridentifikasi, mari mengidentifikasi jenis lainnya. Mata mulai menyusuri kawanan burung itu, mencari burung selain burung gereja. Dan saya terpaksa kecewa, karena saya tidak menemukan burung selain burung gereja. Ratusan burung yang bertengger di kabel-kabel listrik itu ternyata burung gereja semua. Si hijau sudah menyala kembali, memaksa saya meninggalkan kawanan burung gereja itu…
A wise man once said, “Birds of a feather flock together”. Saya sudah lama tahu kalimat bijak ini, cuma saya baru saja berkesempatan membuktikan kebenaran kalimat itu. Terbukti dari pengalaman mengamati ratusan burung yang ternyata berjenis sama. Kalau burung berkumpul karena bulunya sama, kalau manusia? Rasanya kalau manusia dipersatukan oleh hal-hal yang bersifat psikologis, bukan secara fisik. Ada beberapa hal yang mungkin mempersatukan sekumpulan anak manusia menjadi sebuah kawanan, misalnya : hobi, interest, kepercayaan, sifat, visi dan sebagainya. Secara disadari atau tidak, alam bawah sadar kita menyeleksi lingkungan sekitar kita sesuai dengan hal-hal yang ada di dalam diri kita. Kalau kita suka dengan fotografi, secara otomatis kita akan merasa nyaman dengan lingkungan para pecinta fotografi. Otak kita yang sangat canggih ini bisa memilah begitu banyak informasi yang kita terima sesuai dengan kepentingan kita, termasuk dalam hal memilih teman atau lingkungan bergaul. Nggak percaya? Coba tengok ke dalam diri sendiri dan jawab pertanyaan ini : “Apa hobiku?” Kemudian lihat lingkungan terdekat kita. Pasti kita dikelilingi oleh orang-orang dengan hobi yang serupa dengan kita.
Jadi, keadaan psikologis seseorang yang mempengaruhi proses pemilihan teman bergaul? Gimana kalau sebaliknya? Lingkungan yang mempengaruhi keadaan psikologis kita. Masih ingat petuah orang tua kita dulu? Dulu saya sering dikasih wejangan orang tua untuk nggak deket-deket sama anak yang tergolong nakal. Karena katanya saya bisa ketularan nakal. Dulu sih saya nggak percaya dengan konsep semacam itu. Tapi seiring dengan bertambahnya umur dan pengalaman, konsep itu mulai saya percayai. Saya percaya bahwa lingkungan kita sedikit banyak akan berpengaruh ke diri kita sendiri. Mungkin ada sebagian orang yang berargumen, “Ah, itu kan tinggal pintar-pintarnya kita menjaga diri,” atau “Kalau emang kitanya baik, ya nggak bakal ketularan yang jelek!” Ada betulnya juga sih argument semacam itu. Namun lagi-lagi, otak kita ini super duper canggih. Secara tidak sadar, otak kita mempelajari keadaan di sekitar kita dan nilai-nilai di dalamnya. Dan lagi-lagi otak akan menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang ada. Maka, bisa saja orang yang awalnya menganggap mencontek itu tidak baik jadi ikut-ikutan mencontek karena seluruh teman sekelasnya menghalalkan kegiatan mencontek. Saking dahsyatnya pengaruh lingkungan sekitar kita, ada pepatah yang bilang, “What we’ll become in the next 10 years could be seen by looking who’s our friend”. If we’re surrounded by entrepreneur, we’re likely grow becoming entrepreneur. If we’re surrounded by artist, we’ll tend to be an artist too. What about if we’re surrounded by bad people? Well, I guess it’s clear enough J

Your environment have a big impact to yourself. If it’s good, it’ll turn you into a better person. If you feels like you’re not improving, try to change your environment. Try to find another new circle. A new environment might change you. Try to find the best environment that suit you. Remember, BIRDS OF A FEATHER FLOCK TOGETHER J

Friday, February 27, 2015

KKN : Di Sebelah Kandang Sapi

DISCLAIMER : POSTINGAN INI AKAN BERBAU ROMANSA, PERCINTAAN, KASIH SAYANG DAN HAL-HAL SERUPA LAINNYA. TIDAK DIANJURKAN UNTUK DIBACA OLEH SEORANG JOMBLO YANG GA SIAP MENTAL. KALO ADA YANG BILANG, “NORAK IH NGEBLOG CINTA-CINTAAN!” COBA DIBACA DULU POSTINGAN PERTAMA SAYA. BLOG INI EMANG FUNGSINYA SEBAGAI REMINDER BUAT SAYA TENTANG WHAT I’VE BEEN THROUGH. SO, THIS IS ONE OF MY STORY J


Gonna write something about KKN. This is my 2nd post about KKN. KKN’s one of my unforgettable experience in life. Met up with lots of new people, found a new family, had so many experiences. Mungkin sebetulnya apa yang saya alamin selama KKN ini dialamin juga oleh ribuan mahasiswa UNS lainnya – yang sangat beruntung – mendapatkan kesempatan untuk KKN. Atau jutaan mahasiswa di seluruh perguruan tinggi yang juga mendapatkan kebahagiaan bisa mengikuti KKN. Tapi dari sekian banyak pengalaman selama KKN, ada satu hal yang saya yakin cuma dirasakan oleh segelintir orang selama KKN.
Ada yang bilang kalo KKN itu kepanjangan dari Kisah Kasih Nyata. Karena selama KKN ada kemungkinan selama KKN akan dipenuhi dengan bumbu-bumbu asmara. Ada yang cinlok sama temen kelompoknya sendiri, ada yang cinlok ama warga setempat, ada yang cinlok ama pak Lurah, mungkin yang extreme sampai ada yang cinlok ama pak Lurahnya sekalian~
Iya, KKN saya juga bisa dibilang Kisah Kasih Nyata. Bukan, bukan cinlok ama warga Cepogo, anak pak Lurah, apalagi ama pak Lurahnya. Hal ini pernah saya tulis di account Path saya










Iya, saya dapet (semoga) jodoh anak Komunikasi pas KKN. Sebetulnya Kisah Kasih Nyata ini ga terjadi karena KKN aja sih. It’s not a short nor easy story like some people might thought. Let’s call her as “dia” (she asked me not to mention her name). Temen sekelas selama 4 tahun kuliah di Komunikasi. Termasuk salah satu temen deket saya di Komunikasi. Dia ini tipe orang yang punya daya tarik sendiri, yang entah kenapa saya sendiri ga bisa jelasin dimana daya tariknya. Yang pasti, sebagai cowok saya ngerasa dia ini cewek yang menarik. What makes me fall into her? Though question. Menurut saya, suka atau sayang ama orang itu ga bisa dijelaskan secara jelas, konkret, apalagi ilmiah. For me, it just ”click”. Mungkin karena banyak kesamaan di antara kami berdua. Pemikiran, interest, pola pikir, dan hal kecil lainnya. Yeah, it just “click”, and I know that I just fall into her J
Jadi, apa hubungan antara saya, dia dan KKN? KKN adalah salah satu momen yang cukup penting buat saya dan dia, dimana kami berdua secara yakin, sadar dan ikhlas memutuskan untuk membangun sebuah komitmen bersama. Bahasa gampangnya, jadian. Dia ini bukan tipe cewek yang mudah untuk diluluhkan hatinya. Hal ini terbukti dari proses pendekatan yang cukup lama dan ditolaknya saya sebanyak 7 kali!! IYA, TUJUH KALI!! Sekali lagi, ah, TUJUH KALI!! Saya ga akan cerita kenapa bisa terjadi penolakan selama TUJUH KALI, dan kenapa saya ngeyel banget sampai rela ditolak selama TUJUH KALI. Tapi pada intinya adalah, we didn’t have an easy and short story. Kami bukan sepasang anak SMP-SMA yang memutuskan untuk pacaran setelah kenalan selama beberapa minggu, atau bahkan hari. Ada banyak hal yang dipertimbangkan satu sama lain hingga akhirnya kami memutuskan untuk berkomitmen. Bagi kami, ketika kami berkomitmen, it’s not only bout us. It’s about people around us, it’s about our family too. So, that’s why there’s a lot to think about J
Setelah TUJUH KALI ditolak, saya akhirnya mencoba lagi untuk yang ke DELAPAN KALI!! 8 Januari 2015, adalah saat dimana saya mencoba untuk yang ke DELAPAN kalinya. Waktu itu saya sengaja main ke desa dimana dia KKN. Desa kami terpisah kurang lebih 45 menit perjalanan pakai motor, kalau jalan kaki ya mungkin beberapa jam ~ Waktu itu sih alesannya mau nyari susu buat keperluan program KKN kelompok saya. Desa tempat dia KKN memang terkenal sebagai salah satu desa penghasil susu. Sebetulnya susu adalah modus bagi saya untuk bisa bertandang ke desanya. I still can remember all the details on that day. Dia, dengan kemeja flannel berwarna pink, kerudung coklat dan celana panjang warna biru donker bercorak daun-daun kelihatan biasa aja pas saya sampai di Sruni. Ternyata dia udah tahu kalau saya mau main ke desanya. Kampret!! Padahal saya udah berusaha sok rahasia-rahasiaan. Niatnya sih biar surprise gitu. Tapi apa daya, ternyata ada temennya yang bocor ngasih tahu kalau saya mau berkunjung. Batal lah surprise saya.
Biarpun surprisenya gagal, dalam hati saya udah bertekad bahwa hari itu juga saya harus mencoba lagi untuk yang ke DELAPAN KALI. Mencoba lagi untuk menanyakan bagaimana hubungan kami akan dijalani. Ibarat buku, kami adalah penulis dari cerita ini. Kami lah yang memutuskan kemana cerita ini akan dibawa. Kami lah yang memutuskan alur dari cerita ini. Kami pula yang akan mengisi lembar dari lembar kisah ini dengan berbagai pengalaman. Kami yang akan membagi kisah ini ke dalam berbagai bab. KAMI, bukan SAYA atau DIA….
Rencana diawali dengan ngobrol-ngobrol tentang KKN yang baru beberapa hari (waktu itu baru hari ketiga KKN), sembari bercanda. Meskipun saya sudah merencanakan segalanya – setiap kalimat yang mau diucapkan, hingga ke titik, koma, tanda seru dan ekspresinya - tetap saja rasanya grogi, deg-degan, mules. Sempat mau mengurungkan niat, tapi dalam hati berkata, “Do it now. Sometimes latter would be never!!” Berbekal kalimat mutiara tadi, saya akhirnya memberanikan diri untuk mengucapkannya. Kalimat pertama bukan main susah untuk diucapkan. Rasanya mendingan disuruh ikutan SNMPTN lagi deh. Kaya orang gagap, ngomongnya terbata-bata. Saya masih ingat, lebih banyak kata “anu” dan “mmm” yang keluar dari mulut saya waktu itu. Tapi setelah kalimat pertama berhasil keluar, kalimat berikutnya terasa lebih mudah diucapkan. Ternyata semua berjalan dengan lancar (ngomongnya). Habis itu masih ada fase yang jauuuuuuuh lebih menegangkan lagi, yaitu nunggu jawabannya!! Ini berasa lagi nunggu hasil pengumuman SNMPTN di web nya yang susah banget buat di akses. Penasaran, tapi takut kalau hasilnya jelek. Dia udah siap mau ngomong, tapi ga jadi. Ini rasanya sama kaya web SNMPTN yang udah ditunggu lama loadingya terus page nya error. Kampret ~ Finally she said some words. She said, somehow she felt more comfort if we hadn’t relationship yet. Ini, rasanya kaya gagal di SNMPTN L Rasanya sedih bukan main, galau, bingung mau ngapain lagi, pokoknya kalut. Tapi saya bukan tipe cowok yang gampang menyerah. Saya coba lagi ngomong ke dia. Ibaratnya ini ikut ujian mandiri di PTN. Dan, memang usaha tidak akan mengingkari. Setelah melewati percakapan yang cukup panjang, menguras keringat dan bikin perut mules, she said “YES!!” Hari itu, di sebelah kandang sapi (mohon maaf, karena terbatasnya sarana dan prasarana), usaha yang selama ini sudah dijalani berbuah manis. Penolakan demi penolakan yang sudah terjadi rasanya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan jawaban yang dia berikan. Kali ini, rasanya kaya KETERIMA DI ILMU KOMUNIKASI UNS!!!!!! Seneng? SENENG BANGEEEET. Bahagia? BAHAGIIAAA ABIIIIS.
Bagi kami, ini adalah awal dari sebuah bab di dalam cerita kami. Bab yang menjadi awal dari cerita panjang kami. Bab yang semoga akan dilanjutkan oleh bab-bab lainnya. Bab yang kelak akan suatu hari nanti akan menjadi kenangan manis untuk kami ingat bersama. Bab yang akan kami ceritakan dengan penuh senyum, tawa kepada siapapun yang bertanya tentang awal dari kisah kami. Bab yang berjudul “Di Sebelah Kandang Sapi”. Oke, judulnya emang ga keren. Tapi yang penting kisah di dalamnya J
It’s just a while for us. It’s like a few first step of a baby who learn to walk. One step to another step. Slowly, constantly we’ll learn how to walk. Soon, we’ll learn how to run. Run and run to catch our dream. We’ll fall sometimes. The path won’t be easy sometimes. But, we’ll get up every time we fall. We won’t give up J

So, yes, for me KKN is Kisah Kasih Nyata. KKN is my tipping point J

Wednesday, February 18, 2015

KKN : Kisah Keluarga Nyata


Apa arti keluarga? Sebagian besar orang akan menjawab, "bapak, ibu, anak". Ada juga yang jawab, "orang yang punya hubungan darah ama kita". Tapi cuma sedikit orang yang menyadari bahwa keluarga itu ga cuma tentang bapak, ibu sama anak. Keluarga juga ga cuma sebatas orang yang punya hubungan darah ama kita. Sometimes, family isn't always blood. And lately, I've been in a great experience that make me believe if I have another family out there. The family that not come from the same blood.

Tepat hari ini, saya baru aja menjalani KKN selama 45 hari di desa Cepogo, Boyolali. Iya, bener, 45 hari. Sekali lagi, 45 hari!! Waktu 45 hari, kalau dipake buat ngerjain skripsi mungkin bisa sampai bab 2 kali . Kalau dipake buat bercocok tanam, mungkin tanamannya udah mau panen. Kalau dipake buat mengerami telur ayam, bisa buat 2 periode. (Fyi : telur ayam butuh waktu sekitar 21 hari buat menetas). Kalau dipake buat pdkt ama temen sendiri, mungkin udah sampai fase friendzoned :((

Kok mau sih KKN selama 45 hari? Jawabannya : KARENA DIWAJIBIN AMA KAMPUS!! Ga males gitu KKN selama 45 hari? Jawabannya : MALEEES BGTZ!! Bahkan dulu pas h-1 keberangkatan, rasanya masih ga rela kalo besok harus berangkat KKN. Dulu pas h-1 keberangkatan, timeline twitter, newsfeed facebook, status BBM, postingan path didominasi dengan sambatan tentang KKN. Rata-rata mahasiswa pada males harus menjalani KKN. Saya? Ga ikutan update sambatan, tapi cukup sambat dalam hati.

Selama 45 hari saya harus terdampar di desa Cepogo, kecamatan Cepogo, Boyolali. Sekedar informasi, awalnya saya ditempatkan di desa Kembangsari, kecamatan Musuk, Boyolali. Tapi, entah apa dosa saya, h-7 KKN saya dipindah ke Cepogo. Makin males KKN karena harus adaptasi sama kelompok baru yang ditempatkan di Cepogo. Sempat sedikit stress, karena pertama kali ketemu kelompok Cepogo itu orangnya pendiem bangeeets. Bisa mati garing nih kalo 45 hari bergaul ama orang-orang pendiem ~

I thought it would be the worst 45 days I ever had in my life. I thought it would felt like living in hell. And the fact, what I thought was true. It's even worse, but only for the first week. Minggu pertama adalah minggu terberat di dalam perjalanan KKN saya kali ini (kali ini? Berarti ada lain kali?). Harus adaptasi ama lingkungan yang dinginnya setara ama dinginnya sikap gebetan ke kita. Harus adaptasi ama temen baru. Harus sok asik ama temen baru. Kampretnya, udah dibelain sok asik, yang di 'sok asik' in diem aja ~
Minggu pertama rasanya pengen pulaaaang..........

Ternyata yang felt like hell cuma di minggu pertama. Minggu kedua? Felt like you live in 2 hells!!!! Nope,just kidding. Perlahan tapi pasti, everything is getting better. Mulai akrab ama temen baru. Mulai keliatan sifat aslinya yang ternyata ga jauh beda ama saya yang suka bercanda ini. Ternyata temen-temen saya ini bukan pendiem, cuma masih sok malu-malu aja. Mereka pada malu kalo dari awal udah ketahuan pada doyan kentut, ngorok, ngigau, dll, dkk, dst, dsb. Setiap hari menghabiskan waktu bareng, bikin saya ngerasa kalau kelompok KKN ini udah bukan sekedar kelompok KKN lagi. We are family. This is the moment I realize that non-blood family does exist, and I had one of my own. 45 hari hidup bareng, bikin kami makin akrab, makin ngerti sifat masing-masing, keburukan dan kebaikan masing-masing. Dan justru semakin kami kenal satu sama lain, semakin kami ga mempermasalahkan perbedaan yang ada. Buat kami yang penting adalah kami bisa membuat waktu selama 45 hari ini terasa begitu cepat dan menyenangkan. Buat saya pribadi, pelajaran terpenting dari KKN bukan tentang gimana ngurus ijin PIRT, bukan tentang gimana nimbang anak di Posyandu, bukan tentang gimana bikin vertikultur . Tapi, tentang kebersamaan. Bagaimana kebersamaan bisa menyatukan perbedaan yang ada. Kelompok saya terdiri dari 9 orang. 9 kepala, 9 latar belakang yang berbeda, 9 sifat yang berbeda pula. Namun, segala perbedaan itu ga berarti apapun ketika kami memahami apa arti kebersamaan. Kami belajar untuk memahami perbedaan, bukan menghilangkan perbedaan. Kami menghargai perbedaan satu sama lain, mencoba untuk memahaminya dan hidup berdampingan dengannya.

Family is not always blood. Family is everybody who understand both your good and bad side. Family is everybody who take care of you, everybody who protect you and everybody who make you smile. I just found a new family through KKN.


Keluarga baru yang membuat 45 hari yang terasa berat di awal, menjadi 45 hari terbaik dalam hidup saya. 45 hari yang kelak akan saya rindukan. 45 hari yang menjadi salah satu memori manis dalam hidup saya. Bagaikan matahari yang selalu bersinar setelah malam pergi, memori itu akan selalu kembali mengisi hati dan otak kanan saya, mengundang sejuta senyum dan tawa.

Now, I'd like to say proudly, "I'm glad that I had my KKN in Cepogo!" :)

Mungkin di postingan selanjutnya saya bakal perkenalkan personil kelompok KKN Cepogo (kalau diijinin ama yang bersangkutan).
Squad KKN Cepogo!!!!


Wednesday, January 7, 2015

Tak Jealous Maka Tak Sayang?!

Tak Kenal Jealous Maka Tak Sayang?!

Postingan kali ini akan dibuka dengan salam hangat dari kawasan Cepogo, Boyolali. Setelah tidak merasakan liburan semester 5 & 6 karena magang dan bantuin penelitian dosen, liburan kali ini kembali terenggut program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jadi setiap mahasiswa dikirim ke daerah-daerah tertentu untuk mengabdi di sana. Maksudnya sih mengembangkan atau memperbaiki kondisi daerah tujuan tiap mahasiswa. Dan kebetulan saya kebagian di daerah Cepogo, Boyolali. Tempatnya kaya ala-ala Tawangmangu atau Puncak gitu sih. Yaudah deh, anggep aja KKN di Cepogo ini sebagai liburan semester kali ini

            Judul postingan kali ini sedikit menyadur frase yang sering digunakan orang-orang buat basa-basi pas kenalan. Siapa yang ga pernah denger pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang?” dan menggunakannya buat bumbu-bumbu pas kenalan sama temen baru, gebetan baru, atau mungkin pacarnya mantan yang baru #sejutakisahmantan (ini mah kerjaan jaman dulu). Saya pribadi sih mengamini pepatah itu. Emang bener kalo kita ga kenal sama seseorang gimana kita bisa sayang. Lha tau namanya aja ga, tau alamatnya aja ga, tau hobinya aja juga ga, gimana mau sayang. Oleh karena itu, maka bersayang-sayanglah sama orang udah yang bener-bener kalian kenal baik buruknya, contohnya : temen sekelas *uhuk*, tetangga atau temennya kakak. Tapi jangan sama saudara sendiri ya *uhuk lagi*. Cuma, menurut saya ada frasa yang lebih pas daripada “Tak Kenal Maka Tak Sayang”, yang tidak lain dan tidak bukan, adalah “Tak Jealous Maka Tak Sayang”. Kenapa harus jealous? Kenapa posisi kenal harus digantikan oleh jealous yang identik dengan hal-hal negatif lainnya semacam curigaan, posesif, dll?

Karena kenal ga selalu bakal jadi sayang, tapi kalo jealous udah pasti sayang :)

            Coba kita telaah dulu dua kalimat di atas ini. Dimulai dari karena kenal ga selalu bakal jadi sayang. Ada berapa banyak orang yang kita kenal selama hidup kita ini? Pasti banyak kan. Saya yang udah hidup selama 21 tahun aja kalo disuruh ngitung udah kenal berapa banyak orang, pasti bakal kewalahan. Temen TK, temen SD, temen SMP, temen SMA, temen kuliah, tetangga, orang kantor pas magang dulu, temen di organisasi, temen KKN, temen tapi mesra. Mungkin jumlahnya bisa ratusan. Tapi bukan berarti karena saya kenal ratusan orang itu, secara otomatis saya akan sayang sama ratusan orang itu. Karena sayang itu ga sesederhana kenal doang, bro. Ada banyak hal dan proses panjang yang harus dilalui orang untuk bisa sayang ama orang. Tentang kenapa orang bisa sayang ama orang lain ga perlu dijelasin lah ya. I bet all of you know about it J Sayang di sini ga cuma tentang sayang ke pacar, tapi sayang secara general. Bisa sayang ke orang tua, sayang ke saudara, sayang ke temen atau sayang ke pacar. Semuanya itu bentuk dari rasa sayang, cuma dengan tingkatan dan bentuk yang beda-beda aja. Mungkin sampai di sini ada yang udah mengamini kata-kata “kenal ga selalu bakal jadi sayang”
           
         Karena kalimat pertama udah dijelaskan, kita beranjak ke kalimat kedua, “kalo jealous udah pasti sayang”. Suatu ketika, sahabat saya, Chandra pernah upload artwork nya tentang cemburu di account instagramnya,
Ini dia  karya sahabat saya, Chandra.
Masih banyak karyanya yang bisa dicek di jurnalchanchan.blogspot.com


dan saya secara spontan memberikan komentar yang sedikit berbau ngerohi (bahasa jawa dari ngeledek atau ngebully). Setelah berbalas comment, Chandra mengutarakan bahwa “jealous is the cutest emotion” yang dengan segera saya tanggapi dengan balasan “jealous itu sebetulnya indikator dari rasa sayang, kalo ga sayang ga bakal jealous”. 

Saya bisa ngomong kaya gitu karena menurut saya jealous itu emang salah satu bentuk dari rasa sayang. Biasanya orang akan ngerasa jealous karena takut kehilangan atau untuk mempertahankan hal yang dia sayang. Contoh yang paling nyata adalah ketika kita jealous sama pacar kita. That’s it!! I know all of you who had been in a relationship will understand this. Kita jealous karena kita sayang sama suatu hal atau orang, dan kita sama sekali ga mau kehilangan hal atau orang itu.

Dulu, saya pernah diceritain ibu saya kalo kakak saya sendiri jealous setengah mati sama saya yang baru aja lahir. Lha, salah saya apa? Baru lahir kok udah jadi korban jealous kakak sendiri. Ternyata masalahnya bukan di saya, tapi kakak saya jealous karena dia takut kehilangan orang yang dia sayang (orang tua). Ya namanya punya anak bayi, orang tua kan pasti lebih perhatian ama si bayi daripada anaknya yang udah gede kan ya. Nah, kakak saya itu takut kalah saing ama saya dan kehilangan orang yang dia sayang, yaitu orang tua saya sendiri. Sama dengan yang terjadi pas kita jealous sama pacar kita. That’s how jealousy works!!

Kalo kita ga sayang ama seseorang sih peduli amat dia mau pergi dari kita atau mau ngapain juga. Justru karena kita sayang sama seseorang dan ga mau kehilangan dia, maka kita berusaha melindunginya yang salah satu caranya dengan jealous. Tapi kalo over ga sehat juga sih. Bisa bikin insecure, curigaan dan over protective. Jadi, kalo pacar kita tau-tau senewen sendiri karena jealous, disyukurin aja. It indicates he/she really love you J

Postingan ini ditulis karena saya ga bisa tidur sendiri, sementara temen-temen KKN saya pada tewas dengan suksesnya setelah dari pagi muter-muter daerah Cepogo