Friday, February 27, 2015

KKN : Di Sebelah Kandang Sapi

DISCLAIMER : POSTINGAN INI AKAN BERBAU ROMANSA, PERCINTAAN, KASIH SAYANG DAN HAL-HAL SERUPA LAINNYA. TIDAK DIANJURKAN UNTUK DIBACA OLEH SEORANG JOMBLO YANG GA SIAP MENTAL. KALO ADA YANG BILANG, “NORAK IH NGEBLOG CINTA-CINTAAN!” COBA DIBACA DULU POSTINGAN PERTAMA SAYA. BLOG INI EMANG FUNGSINYA SEBAGAI REMINDER BUAT SAYA TENTANG WHAT I’VE BEEN THROUGH. SO, THIS IS ONE OF MY STORY J


Gonna write something about KKN. This is my 2nd post about KKN. KKN’s one of my unforgettable experience in life. Met up with lots of new people, found a new family, had so many experiences. Mungkin sebetulnya apa yang saya alamin selama KKN ini dialamin juga oleh ribuan mahasiswa UNS lainnya – yang sangat beruntung – mendapatkan kesempatan untuk KKN. Atau jutaan mahasiswa di seluruh perguruan tinggi yang juga mendapatkan kebahagiaan bisa mengikuti KKN. Tapi dari sekian banyak pengalaman selama KKN, ada satu hal yang saya yakin cuma dirasakan oleh segelintir orang selama KKN.
Ada yang bilang kalo KKN itu kepanjangan dari Kisah Kasih Nyata. Karena selama KKN ada kemungkinan selama KKN akan dipenuhi dengan bumbu-bumbu asmara. Ada yang cinlok sama temen kelompoknya sendiri, ada yang cinlok ama warga setempat, ada yang cinlok ama pak Lurah, mungkin yang extreme sampai ada yang cinlok ama pak Lurahnya sekalian~
Iya, KKN saya juga bisa dibilang Kisah Kasih Nyata. Bukan, bukan cinlok ama warga Cepogo, anak pak Lurah, apalagi ama pak Lurahnya. Hal ini pernah saya tulis di account Path saya










Iya, saya dapet (semoga) jodoh anak Komunikasi pas KKN. Sebetulnya Kisah Kasih Nyata ini ga terjadi karena KKN aja sih. It’s not a short nor easy story like some people might thought. Let’s call her as “dia” (she asked me not to mention her name). Temen sekelas selama 4 tahun kuliah di Komunikasi. Termasuk salah satu temen deket saya di Komunikasi. Dia ini tipe orang yang punya daya tarik sendiri, yang entah kenapa saya sendiri ga bisa jelasin dimana daya tariknya. Yang pasti, sebagai cowok saya ngerasa dia ini cewek yang menarik. What makes me fall into her? Though question. Menurut saya, suka atau sayang ama orang itu ga bisa dijelaskan secara jelas, konkret, apalagi ilmiah. For me, it just ”click”. Mungkin karena banyak kesamaan di antara kami berdua. Pemikiran, interest, pola pikir, dan hal kecil lainnya. Yeah, it just “click”, and I know that I just fall into her J
Jadi, apa hubungan antara saya, dia dan KKN? KKN adalah salah satu momen yang cukup penting buat saya dan dia, dimana kami berdua secara yakin, sadar dan ikhlas memutuskan untuk membangun sebuah komitmen bersama. Bahasa gampangnya, jadian. Dia ini bukan tipe cewek yang mudah untuk diluluhkan hatinya. Hal ini terbukti dari proses pendekatan yang cukup lama dan ditolaknya saya sebanyak 7 kali!! IYA, TUJUH KALI!! Sekali lagi, ah, TUJUH KALI!! Saya ga akan cerita kenapa bisa terjadi penolakan selama TUJUH KALI, dan kenapa saya ngeyel banget sampai rela ditolak selama TUJUH KALI. Tapi pada intinya adalah, we didn’t have an easy and short story. Kami bukan sepasang anak SMP-SMA yang memutuskan untuk pacaran setelah kenalan selama beberapa minggu, atau bahkan hari. Ada banyak hal yang dipertimbangkan satu sama lain hingga akhirnya kami memutuskan untuk berkomitmen. Bagi kami, ketika kami berkomitmen, it’s not only bout us. It’s about people around us, it’s about our family too. So, that’s why there’s a lot to think about J
Setelah TUJUH KALI ditolak, saya akhirnya mencoba lagi untuk yang ke DELAPAN KALI!! 8 Januari 2015, adalah saat dimana saya mencoba untuk yang ke DELAPAN kalinya. Waktu itu saya sengaja main ke desa dimana dia KKN. Desa kami terpisah kurang lebih 45 menit perjalanan pakai motor, kalau jalan kaki ya mungkin beberapa jam ~ Waktu itu sih alesannya mau nyari susu buat keperluan program KKN kelompok saya. Desa tempat dia KKN memang terkenal sebagai salah satu desa penghasil susu. Sebetulnya susu adalah modus bagi saya untuk bisa bertandang ke desanya. I still can remember all the details on that day. Dia, dengan kemeja flannel berwarna pink, kerudung coklat dan celana panjang warna biru donker bercorak daun-daun kelihatan biasa aja pas saya sampai di Sruni. Ternyata dia udah tahu kalau saya mau main ke desanya. Kampret!! Padahal saya udah berusaha sok rahasia-rahasiaan. Niatnya sih biar surprise gitu. Tapi apa daya, ternyata ada temennya yang bocor ngasih tahu kalau saya mau berkunjung. Batal lah surprise saya.
Biarpun surprisenya gagal, dalam hati saya udah bertekad bahwa hari itu juga saya harus mencoba lagi untuk yang ke DELAPAN KALI. Mencoba lagi untuk menanyakan bagaimana hubungan kami akan dijalani. Ibarat buku, kami adalah penulis dari cerita ini. Kami lah yang memutuskan kemana cerita ini akan dibawa. Kami lah yang memutuskan alur dari cerita ini. Kami pula yang akan mengisi lembar dari lembar kisah ini dengan berbagai pengalaman. Kami yang akan membagi kisah ini ke dalam berbagai bab. KAMI, bukan SAYA atau DIA….
Rencana diawali dengan ngobrol-ngobrol tentang KKN yang baru beberapa hari (waktu itu baru hari ketiga KKN), sembari bercanda. Meskipun saya sudah merencanakan segalanya – setiap kalimat yang mau diucapkan, hingga ke titik, koma, tanda seru dan ekspresinya - tetap saja rasanya grogi, deg-degan, mules. Sempat mau mengurungkan niat, tapi dalam hati berkata, “Do it now. Sometimes latter would be never!!” Berbekal kalimat mutiara tadi, saya akhirnya memberanikan diri untuk mengucapkannya. Kalimat pertama bukan main susah untuk diucapkan. Rasanya mendingan disuruh ikutan SNMPTN lagi deh. Kaya orang gagap, ngomongnya terbata-bata. Saya masih ingat, lebih banyak kata “anu” dan “mmm” yang keluar dari mulut saya waktu itu. Tapi setelah kalimat pertama berhasil keluar, kalimat berikutnya terasa lebih mudah diucapkan. Ternyata semua berjalan dengan lancar (ngomongnya). Habis itu masih ada fase yang jauuuuuuuh lebih menegangkan lagi, yaitu nunggu jawabannya!! Ini berasa lagi nunggu hasil pengumuman SNMPTN di web nya yang susah banget buat di akses. Penasaran, tapi takut kalau hasilnya jelek. Dia udah siap mau ngomong, tapi ga jadi. Ini rasanya sama kaya web SNMPTN yang udah ditunggu lama loadingya terus page nya error. Kampret ~ Finally she said some words. She said, somehow she felt more comfort if we hadn’t relationship yet. Ini, rasanya kaya gagal di SNMPTN L Rasanya sedih bukan main, galau, bingung mau ngapain lagi, pokoknya kalut. Tapi saya bukan tipe cowok yang gampang menyerah. Saya coba lagi ngomong ke dia. Ibaratnya ini ikut ujian mandiri di PTN. Dan, memang usaha tidak akan mengingkari. Setelah melewati percakapan yang cukup panjang, menguras keringat dan bikin perut mules, she said “YES!!” Hari itu, di sebelah kandang sapi (mohon maaf, karena terbatasnya sarana dan prasarana), usaha yang selama ini sudah dijalani berbuah manis. Penolakan demi penolakan yang sudah terjadi rasanya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan jawaban yang dia berikan. Kali ini, rasanya kaya KETERIMA DI ILMU KOMUNIKASI UNS!!!!!! Seneng? SENENG BANGEEEET. Bahagia? BAHAGIIAAA ABIIIIS.
Bagi kami, ini adalah awal dari sebuah bab di dalam cerita kami. Bab yang menjadi awal dari cerita panjang kami. Bab yang semoga akan dilanjutkan oleh bab-bab lainnya. Bab yang kelak akan suatu hari nanti akan menjadi kenangan manis untuk kami ingat bersama. Bab yang akan kami ceritakan dengan penuh senyum, tawa kepada siapapun yang bertanya tentang awal dari kisah kami. Bab yang berjudul “Di Sebelah Kandang Sapi”. Oke, judulnya emang ga keren. Tapi yang penting kisah di dalamnya J
It’s just a while for us. It’s like a few first step of a baby who learn to walk. One step to another step. Slowly, constantly we’ll learn how to walk. Soon, we’ll learn how to run. Run and run to catch our dream. We’ll fall sometimes. The path won’t be easy sometimes. But, we’ll get up every time we fall. We won’t give up J

So, yes, for me KKN is Kisah Kasih Nyata. KKN is my tipping point J

Wednesday, February 18, 2015

KKN : Kisah Keluarga Nyata


Apa arti keluarga? Sebagian besar orang akan menjawab, "bapak, ibu, anak". Ada juga yang jawab, "orang yang punya hubungan darah ama kita". Tapi cuma sedikit orang yang menyadari bahwa keluarga itu ga cuma tentang bapak, ibu sama anak. Keluarga juga ga cuma sebatas orang yang punya hubungan darah ama kita. Sometimes, family isn't always blood. And lately, I've been in a great experience that make me believe if I have another family out there. The family that not come from the same blood.

Tepat hari ini, saya baru aja menjalani KKN selama 45 hari di desa Cepogo, Boyolali. Iya, bener, 45 hari. Sekali lagi, 45 hari!! Waktu 45 hari, kalau dipake buat ngerjain skripsi mungkin bisa sampai bab 2 kali . Kalau dipake buat bercocok tanam, mungkin tanamannya udah mau panen. Kalau dipake buat mengerami telur ayam, bisa buat 2 periode. (Fyi : telur ayam butuh waktu sekitar 21 hari buat menetas). Kalau dipake buat pdkt ama temen sendiri, mungkin udah sampai fase friendzoned :((

Kok mau sih KKN selama 45 hari? Jawabannya : KARENA DIWAJIBIN AMA KAMPUS!! Ga males gitu KKN selama 45 hari? Jawabannya : MALEEES BGTZ!! Bahkan dulu pas h-1 keberangkatan, rasanya masih ga rela kalo besok harus berangkat KKN. Dulu pas h-1 keberangkatan, timeline twitter, newsfeed facebook, status BBM, postingan path didominasi dengan sambatan tentang KKN. Rata-rata mahasiswa pada males harus menjalani KKN. Saya? Ga ikutan update sambatan, tapi cukup sambat dalam hati.

Selama 45 hari saya harus terdampar di desa Cepogo, kecamatan Cepogo, Boyolali. Sekedar informasi, awalnya saya ditempatkan di desa Kembangsari, kecamatan Musuk, Boyolali. Tapi, entah apa dosa saya, h-7 KKN saya dipindah ke Cepogo. Makin males KKN karena harus adaptasi sama kelompok baru yang ditempatkan di Cepogo. Sempat sedikit stress, karena pertama kali ketemu kelompok Cepogo itu orangnya pendiem bangeeets. Bisa mati garing nih kalo 45 hari bergaul ama orang-orang pendiem ~

I thought it would be the worst 45 days I ever had in my life. I thought it would felt like living in hell. And the fact, what I thought was true. It's even worse, but only for the first week. Minggu pertama adalah minggu terberat di dalam perjalanan KKN saya kali ini (kali ini? Berarti ada lain kali?). Harus adaptasi ama lingkungan yang dinginnya setara ama dinginnya sikap gebetan ke kita. Harus adaptasi ama temen baru. Harus sok asik ama temen baru. Kampretnya, udah dibelain sok asik, yang di 'sok asik' in diem aja ~
Minggu pertama rasanya pengen pulaaaang..........

Ternyata yang felt like hell cuma di minggu pertama. Minggu kedua? Felt like you live in 2 hells!!!! Nope,just kidding. Perlahan tapi pasti, everything is getting better. Mulai akrab ama temen baru. Mulai keliatan sifat aslinya yang ternyata ga jauh beda ama saya yang suka bercanda ini. Ternyata temen-temen saya ini bukan pendiem, cuma masih sok malu-malu aja. Mereka pada malu kalo dari awal udah ketahuan pada doyan kentut, ngorok, ngigau, dll, dkk, dst, dsb. Setiap hari menghabiskan waktu bareng, bikin saya ngerasa kalau kelompok KKN ini udah bukan sekedar kelompok KKN lagi. We are family. This is the moment I realize that non-blood family does exist, and I had one of my own. 45 hari hidup bareng, bikin kami makin akrab, makin ngerti sifat masing-masing, keburukan dan kebaikan masing-masing. Dan justru semakin kami kenal satu sama lain, semakin kami ga mempermasalahkan perbedaan yang ada. Buat kami yang penting adalah kami bisa membuat waktu selama 45 hari ini terasa begitu cepat dan menyenangkan. Buat saya pribadi, pelajaran terpenting dari KKN bukan tentang gimana ngurus ijin PIRT, bukan tentang gimana nimbang anak di Posyandu, bukan tentang gimana bikin vertikultur . Tapi, tentang kebersamaan. Bagaimana kebersamaan bisa menyatukan perbedaan yang ada. Kelompok saya terdiri dari 9 orang. 9 kepala, 9 latar belakang yang berbeda, 9 sifat yang berbeda pula. Namun, segala perbedaan itu ga berarti apapun ketika kami memahami apa arti kebersamaan. Kami belajar untuk memahami perbedaan, bukan menghilangkan perbedaan. Kami menghargai perbedaan satu sama lain, mencoba untuk memahaminya dan hidup berdampingan dengannya.

Family is not always blood. Family is everybody who understand both your good and bad side. Family is everybody who take care of you, everybody who protect you and everybody who make you smile. I just found a new family through KKN.


Keluarga baru yang membuat 45 hari yang terasa berat di awal, menjadi 45 hari terbaik dalam hidup saya. 45 hari yang kelak akan saya rindukan. 45 hari yang menjadi salah satu memori manis dalam hidup saya. Bagaikan matahari yang selalu bersinar setelah malam pergi, memori itu akan selalu kembali mengisi hati dan otak kanan saya, mengundang sejuta senyum dan tawa.

Now, I'd like to say proudly, "I'm glad that I had my KKN in Cepogo!" :)

Mungkin di postingan selanjutnya saya bakal perkenalkan personil kelompok KKN Cepogo (kalau diijinin ama yang bersangkutan).
Squad KKN Cepogo!!!!