Tuesday, August 25, 2015

Inside Out : It's okay to be sad

Baru Senin kemarin saya nonton Battle of Surabaya, kemarin sore saya kembali duduk manis di dalam studio menatap layar lebar. Kali ini saya nonton film yang memang sudah saya tunggu kedatangannya. Tak lain dan tak bukan adalah Inside Out. Saya pertama kali tahu Inside Out ketika nonton Ant-Man. Seperti biasa, sebelum film utama main kan ada teaser film yang akan tayang. Nah, di situ saya lihat teaser Inside Out. And my first reaction was : “ I need to watch this movie!! The idea of the story is so cool!!” Buat saya, ide cerita dari Inside Out itu keren banget. Pixar try to explain how our brain works through an animation movie. How cool is that?! Saking penasarannya sama film ini, saya rela volume dompet menipis gara-gara nonton dua film dalam dua hari berturut-turut L
Oke, setelah merelakan sisa uang berpindah tangan ke mbak-mbak penjual tiket, saya duduk manis di dalam studio. Studio lumayan penuh, ga kaya pas nonton Battle of Surabaya L Baru beberapa menit duduk manis, saya sudah dikejutkan oleh film pendek yang diputar sebelum Inside Out. To be honest, this is my first time to watch a short movie before the main movie itself. Judulnya, Lava. A short story about a lonely volcano who dreaming of companion. He sings a hawaiian beautiful song everyday, waiting for his dream come true. Singkat cerita, dengan sedikit drama akhirnya si lonely volcano get his companion. They stand side by side and wish they could grow up together. Keadaan dompet yang udah tipis abis langsung terlupakan begitu saja. This short movie is so cool!! I just can’t wait for the main movie!!
It's a good short movie!!
Film dibuka dengan “Do you ever look at someone and wonder : What is going on inside your head?” Kemudian diikuti dengan scene dimana Riley dilahirkan, bersamaan dengan munculnya Joy di dalam pikirannya. Joy yang bertanggung jawab atas tawa pertama Riley di dunia yang fana ini. Joy thought it will be only Riley and her. And she’s right for 33 seconds. After that, sadness, disgust, fear and anger just come. Inside out is about the struggle of Joy, Sadness, Disgust, Fear and Anger to overcome Riley’s problem. Riley has problem since she moved from Minnesota to San Francisco. You can imagine how it feels if you need to move in a young age. You need to adapt with the new environment, new friend, new school. You’ll miss your old friend, your old home, old city and all the memories you left behind. Joy, merasa bahwa Riley harus tetap bahagia untuk bisa keluar dari masalahnya ini. Anger, Fear dan Disgust mengamini pendapat Joy. So, they put all their best shot just to make Riley happy. And it’s not working well. While they’re working like there’s no tomorrow, sadness come and mess everything up. Semua yang dilakukan oleh Sadness membuat Rilley semakin sedih. It makes Joy upset. Joy tries to fix everything, and suddenly bad thing happened. Joy and Sadness accidentally got dumped to the long term memory. Without Joy, Riley turn into blue. So, Joy and Sadness try to make their way back to headquarter (the place where they belong). And so the journey began!! Saya jatuh cinta dengan cara Pixar mengintepretasikan sistem kerja otak kita dalam sebuah film kartun. Kenangan digambarkan seperti sebuah gundu besar dengan warna berbeda. Core memories yang membentuk pribadi individu digambarkan seperti pulau-pulau. Ada juga imagination land yang bertanggung jawab terhadap semua imajinasi dan khayalan yang pernah kita lakukan. Dan bagian terfavorit saya adalah dream production. Bagian yang berfungsi memproduksi mimpi ini digambarkan seperti studio film di Universal Studio. Ada setting yang biasa digunakan untuk take adegan mimpi. Ada para artis yang sibuk membaca script mimpi. Ada seorang program director, cameraman, floor director. Lengkap, seperti lokasi produksi film pada umumnya.
Seperti film kartun pada umumnya, karakter utama akhirnya berhasil melewati rintangan untuk mencapai tujuannya. Joy dan Sadness berhasil kembali ke headquarter. Yang menarik adalah, selama perjalanannya Joy menyadari fungsi penting dari Sadness. Joy, Anger, Disgust, Fear dan Sadness selalu berpikir bahwa Sadness tidak berguna. Sadness hanya membuat Riley sedih. Sadness hanya membuat emosi Riley memburuk. Sadness mengutuk keberadaan dirinya yang tidak berguna bagi Riley. Dia iri dengan Joy yang selalu bisa membawa senyum dan kebahagiaan untuk Riley. Justru Joy yang menyadari arti penting dari Sadness ketika ia melihat kembali kenangan terindah Riley. Dimana Riley dielu-elukan oleh anggota grup hoki dan kedua orangtuanya. That’s one of the best moment in Riley life. Namun ternyata, sebelum Riley merasakan momen terbaik di dalam hidupnya itu, ia dilanda kesedihan yang luar biasa. Riley merasa sedih karena ia gagal mencetak gol penentu kemenangan grup hokinya. When Riley is sad, her parents and friends come to cheer her up. Joy realized, you can feel happiness if you’ve felt sadness before. On that moment Joy knew how important Sadness is. Right after they back to headquarter, Joy let Sadness to take control. Joy believe Sadness is the answer for Riley’s problem. And Joy’s right. Riley finally cried, she expressed what she felt to her parent. She couldn’t hold it anymore. After all tears and hugs, Riley felt much more better. We’ve been in this situation, haven’t we? Sometimes all we need is cry. Just let all the pain and sadness go with tears. It’s okay to feel sad, it’s okay to cry. Crying doesn’t make you weak. Crying makes you feel better. Just like Joy thought, we will never know what happiness is if we never felt what sadness is. That’s the importance of Sadness. Jujur, di scene Riley nangis sambil berpelukan dengan orangtuanya ini saya sedikit menitikkan air mata. Rasanya saya ikut merasakan beban Riley yang hilang bersama tangisannya :’)

This made me cry :')
Well, overall Inside Out is a very good movie to watch!! Good animation (dude, you can’t doubt Pixar), good story, good interpretation about our minds. Cuma menurut saya, meskipun Inside Out ini film animasi, rasanya kurang cocok untuk ditonton anak kecil. Karena ada konsep-konsep tentang pikiran, kenangan dan perasaan yang mungkin sulit dipahami oleh anak kecil. 

Remember, it's okay to be sad. It's okay to cry :)

Monday, August 24, 2015

BATTLE OF SURABAYA : No Glory In War

            Semalam saya dan dua teman saya memutuskan untuk nonton sebuah film karya anak bangsa yang sempat jadi buah bibir di dunia maya. Battle of Surabaya, sebuah film animasi bertemakan perjuangan yang digarap oleh mahasiswa-mahasiswa AMIKOM Jogjakarta. Cerita film ini diadaptasi dari kisah Perang 10 November 1945 di Surabaya yang jadi cikal bakal hari Pahlawan. Ketika pertama kali diajak teman untuk nonton film ini, saya ngerasa sangat excited. Penasaran seperti apa sih film animasi lokal yang bisa ikutan mejeng di bioskop-bioskop. Bahkan sebelum nonton saya sempet googling tentang film ini, dan banyak komentar positif tentang film ini di dunia maya. Saya makin semangat!! Saya berencana nonton jam 18:30. Karena melihat animo yang amat positif di dunia maya tentang film ini, saya dan teman saya berasumsi pasti bakal banyak banget yang mau nonton Battle of Surabaya. Karena kami adalah generasi yang penuh perhitungan, maka kami memutuskan untuk datang satu jam sebelum film dimulai. Supaya kebagian tiket dan bisa milih tempat yang strategis. Heheheheh
            Tepat 18:30 saya masuk ke studio. Ekspektasi saya tentang jumlah penonton film ini salah besar. Studio cuma berisikan kurang dari 30 orang. Rasanya sedih banget melihat film lokal yang menurut saya (berdasarkan riset di dunia maya) berkualitas ini sepi penonton. Yah, nampaknya orang Indonesia masih memandang sebelah mata karya anak bangsanya sendiri L Rasa sedih saya langsung terhapuskan ketika film dibuka dengan logo AMIKOM Jogjakarta. Jujur, rasanya merinding banget ketika logo AMIKOM Jogjakarta terpampang di layar lebar. Ada perasaan bangga bercampur ga nyangka kalau film yang akan saya tonton ini merupakan buah tangan teman-teman di kota sebelah. Adegan dibuka dengan peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki, kemudian diikuti dengan penjelasan singkat kronologis kemerdekaan RI. Saya cuma bisa melongo. GAMBARNYA BAGUUUUS BANGET!!!! GAMBARNYA MELEBIHI EKSPEKTASI SAYA!!!! Buat perbandingan, menurut saya gambar Battle of Surabaya ini 11-12 dengan gambar kartun Avatar the Legend of Aang. Serius, gambarnya bagus banget!! Ada salah satu adegan yang memperlihatkan armada kapal perang Inggris mendekati pelabuhan Tanjung Perak yang langsung mengingatkan saya pada adegan ketika kapal perang Negara Api mau menyerang suku Air di Avatar Aang!! Secara visual, Battle of Surabaya layak diacungi jempol!!
            Battle of Surabaya menceritakan seorang penyemir sepatu bernama Musa yang bekerja merangkap sebagai kurir pesan rahasia. Maklum, jaman itu belum ada LINE atau BBM. Sepanjang film Musa akan ditemani oleh dua sahabatnya, Yumna (Maudy Ayunda) & Mas Danu (Reza Rahardian). Yumna harus kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil karena dibunuh oleh tentara Jepang. Mas Danu lah yang merawat Yumna sejak kecil. Di dalam film ini dikisahkan ada sebuah organisasi bawah tanah bentukan Jepang yang bernama Kipas Hitam. Saya ga tau apakah ini hanya rekaan fiktif belaka atau memang ada organisasi bernama Kipas Hitam. Organisasi Kipas Hitam ini memiliki tujuan untuk melindungi kepentingan Jepang. Dan ternyata Mas Danu dan Yumna adalah anggota dari organisasi ini!! Musa mengetahui fakta tentang mas Danu dan Yumna, kemudian menganggap mereka sebagai pengkhianat bangsa. Namun setelah melewati beberapa konflik dan drama, mas Danu dan Yumna kembali berpihak pada Indonesia. Menurut saya, dari segi alur cerita, film ini masih kurang kuat. Saya sempat bingung di beberapa bagian karena ada sedikit bagian yang jumping. Perpindahan dari tiap scene juga masih kurang baik, menurut saya. Ketika saya masih mencoba memahami satu scene, saya sudah diajak berpindah ke scene selanjutnya. Oh iya, meskipun ini film tentang perang, tapi justru adegan perangnya kurang begitu banyak. Plus ada bumbu romansa di film ini. Seperti layaknya FTV, Musa, Yumna dan Mas Danu terlibat dalam cinta segitiga. Musa dan mas Danu jatuh hati pada Yumna. Yumna, menyayangi mas Dani, tapi hanya sebagai seorang kakak. Dan entah bagaimana perasaan Yumna ke Musa.
            Selain aspek visual, satu hal yang patut diacungi jempol untuk film ini adalah aspek humornya!! Saya ga berhenti ketawa terpingkal-pingkal dengan humor yang dibawakan oleh Cak Soleh, seorang tentara dengan logat Surabaya yang kental. Humor di dalam film ini membawa kearifan lokal, menurut saya. Beberapa humor memanfaatkan logat-logat yang ada di Indonesia. Saya sebagai orang Jawa spontan tertawa ketika pada suatu adegan mas Danu berseloroh menggunakan frasa “Mbahmu!” kepada Cak Soleh. Secara keseluruhan saya puas membelanjakan uang saya untuk menonton film ini. Tapi menurut teman saya, pengisi suara untuk Yumna dan Mas Danu kurang cocok. Mungkin karena Reza Rahardian dan Maudy Ayunda memang ga terbiasa jadi dubber. Teman saya berpendapat akan lebih baik kalau saja dubbernya menggunakan tenaga ahli yang sudah terbiasa mengisi suara film animasi. Yah, kehadiran Reza Rahardian dan Maudy Ayundya kan memang dijadikan sebagai nilai jual dari film ini. Yang saya lihat dari setiap promosinya memang Reza Rahardian dan Maudy Ayundya menjadi bahan “jualan” utama film ini. Ironis, ketika sebuah film lokal harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat. Jujur, saya pribadi nonton film Battle of Surabaya karena film ini dibuat oleh anak bangsa. Bukan produk Hollywood.

Setelah film habis diputar, saya masih duduk termenung di kursi empuk berwarna merah menyala. Mata saya masih belum lepas dari credit title yang terus berjalan. Perasaan bangga menyelimuti hati saya diiringi dengan merinding di area tengkuk. Rasanya sungguh terharu bisa menjadi saksi salah satu karya anak bangsa. Saya yakin, ke depannya masih banyak produk lokal bekualitas yang akan muncul. Tidak hanya pada ranah film saja. Semoga, ketika waktu itu datang, masyarakat lebih bisa menghargai karya keringat anak bangsa. Semoga, ketika ada film seperti Battle of Surabaya lagi, studio akan penuh sesak oleh penonton. Sama seperti ketika kita menonton film-film milik Hollywood J