Tuesday, December 27, 2016

Buzzer: It Comes With Great Responsibility (?)

Well, dunia digital membuka banyak jenis pekerjaan baru. Digital strategist, digital media planner, dan buzzer. Buzzer mulai menjadi suatu hal yang common di masyarakat. Bahkan mungkin sekarang adik-adik kita banyak yang pengen jadi buzzer. Iya lah, dengan rate selangit, bisa dibayangkan berapa banyak penghasilan seorang buzzer.

Oke, sebetulnya apa yang diperlukan untuk menjadi seorang buzzer? Apakah hanya sekedar follower? Atau ada faktor lain. Kebetulan hari ini, saya ngelihat ada produk buzz yang bikin hati ini agak tertohok. Mari kita perhatikan seksama:



Hal apa yang terlintas di pikiran Anda pertama kali ngelihat postingan ini? Nggak ada? Semua terlihat normal? Semua baik-baik saja? Oh, Big Ben nya kok miring, ya?

Di benak saya, yang pertama kali kepikiran adalah: “INI APA HUBUNGANNYA ANTARA SUNLIGHT AMA BIG BEN?”
Yang kemudian berlanjut ke: “INI NGEBUZZ YA NGEBUZZ, TAPI TOLONG DONG AGAK KREATIF DIKIT?”
Saya sebel. Sebel setengah mati sama postingan ini. Tapi rasa sebel ini pelan-pelan berganti menjadi: “Ini kalo ada buzzer yang postingnya sembarangan begini, sebetulnya siapa yang salah? Apakah audiencenya yang katrok? Agencynya yang kurang cermat? Atau brand yang ga terlalu picky?”

Kemudian saya merenung.

Buzzer emang menjadi sebuah pilihan bagi brand untuk membantu mereka menyuarakan apapun yang ingin mereka suarakan.  Saya pernah beberapa kali menggunakan bantuan teman-teman buzzer juga. Dan hasilnya memang sangat efektif. Karena memang waktu itu saya kerjasama dengan buzzer yang sudah terjamin kualitasnya. Sebut saja The Popoh, Clara Devi, Cameo Project, dan sebagainya. Satu hal yang saya salut dengan para influencer ini (saya lebih suka menggunakan istilah ini) adalah dedikasi mereka dalam membuat konten. They craft it with their best effort. Bukan yang sembarangan posting. Bukan yang “Ah, penting brandnya keliatan!” Saya sendiri sempat takjub dengan dedikasi dan effort yang mereka berikan dalam mengerjakan sebuah konten untuk ngebuzz suatu brand. Pundi-pundi yang harus dikeluarkan setimpal dengan rasa senang melihat konten berkualitas.

Tapi semakin hari, saya melihat banyak yang mulai mengclaim dirinya sebagai buzzer dengan bermodalkan followers semata. They think because they have massive number of followers, they can be a buzzer. They think being a buzzer means they could post any kind of content. They don’t think about any further aspects. Di posisi ini, saya merasa sedih. 

Entah siapa yang salah? Apakah audience sebegitu ‘bodoh’nya sehingga dianggap akan baik-baik saja menerima postingan buzz seperti itu?
Apakah brand sudah tutup mata dengan kualitas promotional tools yang menyangkut nama mereka sendiri?
Apakah buzzer yang memang juga tidak peduli dengan konten dan pertanggungjawaban mekera sebagai influencer?

Uncle Ben once said, “With great power, come great responsiblity.” And massive followers means great power.


Fin.

Gojek, the Art of Enjoying a Lil Freedom

Saya berkenalan dengan Gojek kurang lebih setahun yang lalu, ketika saya merantau untuk bekerja di Jakarta. Saat itu, Gojek baru tenar-tenarnya, thanks to promo 15.000 untuk 20km!! Rasanya di setiap lampu merah selalu dipenuhi jaket ijo khas milik Gojek. Saat itu, saya benar-benar terpana dengan keberadaan Gojek. It’s a simple thing with a massive impact for people in big and busy city like Jakarta. I do love Gojek. It is simple and efficient.

Bahkan hingga saya sudah kembali ke Solo, Gojek masih menjadi pilihan bagi saya. Kalau kendaraan di rumah sedang tidak available, saya akan langsung order Gojek sebagai moda transportasi ke kantor. Jujur, bagi saya, Gojek bukan hanya sebuah sarana transportasi yang bisa mengantarkan saya dari titik A ke titik B. Gojek is more personal for me. Buat saya, Gojek memberikan sensasi tersendiri. Gojek gives me minutes to enjoy my ride. Gojek gives me a short espace. A short escape from taking any decision. I don’t have to worry about which way I need to take. I don’t have to worry about insane driver. All I need to is just sit and enjoy the ride. 

I believe we all have a responsibility. We all do. An employee, owner of a company, student, wife, husband. Well, that is life. As I’m starting my own little company, I always face problems. Every single day, I need to find the best solution. Every single day, I need to take decisions. Every single day, I need to make sure this company will survive. And it’s quite exhausting at some points. I need a short break. I need time. I need to be in the position where I don’t need to think just for a while. And Gojek gives me those things.

Berkendara di jalan raya adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Hanya saja, kita seringkali tidak merasakannya. Konsentrasi amat sangat terkuras selama di jalan. Pengendara motor yang main selap-selip di lampu merah, pengayuh becak yang suka nerobos lampu merah, dan insan-insan yang suka belok tanpa ngasih tanda membuat kita harus ekstra hati-hati di jalan. Boro-boro bisa mengistirahatkan pikiran, meleng dikit bisa-bisa kita udah nyundul kendaraan orang lain. Somehow, I find driving a vehicle is exhausting. Gojek, membebaskan saya dari segala hal melelahkan itu. Yang perlu saya lakukan hanyalah order Gojek, setting lokasi tujuan, tunggu driver datang, duduk manis, dan saya tinggal menikmati perjalanan saya!! Bahkan saya baru menyadari ada beberapa bangunan baru di kota Solo, ketika saya menggunakan Gojek. Padahal setiap hari saya melewati jalur itu untuk ke kantor!! I just realize it when I’m using Gojek.


Thank you, Gojek, for giving me a time to enjoy my ride :)

Notes: This is not a paid promote. Simply a honest writing from a Gojek user :)

Monday, December 5, 2016

HUSTLE ALL DAY, EVERYDAY!!

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Jarum panjang baru beberapa waktu yang lalu melewati angka 12 ketika saya sampai di rumah. Yak, saya baru aja pulang dari kantor. Orang-orang terdekat saya pasti tahu kebiasaan saya ngantor sampai malem begini. Beberapa bahkan ngomel, “Kerja di Jakarta ama di Solo kok sama aja sering pulang malem?” Memang beberapa waktu yang lalu saya sempat bekerja di ibukota. Mencoba mencari ilmu dan pengalaman di kota yang sering disebut sebagai barometer hal apapun di Indonesia. Baru awal 2016, saya kembali ke Solo untuk menuntaskan kewajiban skripsi sembari merintis sebuah usaha sendiri.

Saya menulis blogpost kali ini karena dua hal. Yang pertama karena nggak ngantuk-ngantuk padahal capek, yang kedua untuk sedikit berbagai pengalaman seputar memulai usaha sendiri. Sekilas, kegiatan pulang larut yang sering saya lakoni ini nggak ada bedanya dengan apa yang sering saya lakukan di Jakarta dulu. Jam kerja dimulai dari jam 10 pagi hingga tak terhingga. Hehe. Di Jakarta dulu, sebagai Account Executive, paling cepet saya pulang dari kantor jam 8 malem. Kayanya pulang sebelum jam itu haram hukumnya. Nah, hal ini terulang lagi di Solo. Iya, di Solo. Kota yang katanya masih santai dan bersahabat dengan waktu. Kok bisa? Bisa dong. Nah, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan kenapa saya bisa sampai pulang malem dan kenapa justru pulang malem itu harus saya lakukan.

Sebelum lebih jauh, perlu digarisbawahi bahwa ada perbedaan yang amat sangat signifikan antara pekerjaan saya di Jakarta dan di Solo. Di Jakarta, saya bekerja sebagai seorang Account Executive di salah satu digital agency. Di Solo, saya punya digital agency sendiri, dimana saya berperan sebagai owner sekaligus managin director. Here we go!

Banyak orang bilang, “Ilah, kerja melulu ngapain, sob?! Jangan gila harta, deh!” Ini kalimat yang paling sering saya temui selama ini. Jujur, di awal membangun usaha, saya juga sering mikir gini. Setiap pulang malem selalu mikir, “Kok kerja melulu, ya? Kapan istirahatnya?” Saya sempat mempertanyakan apa bedanya kerja di Jakarta dan di Solo? Padahal katanya Solo lebih nyantai dan lebih bersahabat dengan waktu. Rupanya saya melupakan suatu hal yang amat sangat mendasar. Di Jakarta, saya bekerja sebagai karyawan. Di Solo, saya berperan sebagai owner!! Di Jakarta dulu, setiap lelah bekerja, saya sering mikir, “Udah, ah! Kerja melulu buat kantor. Besok lagi ah!” Sebuah pemikiran yang wajar, sih. Sebab, mau saya kerja sampai gimana juga, gaji saya tetap akan segitu-segitu aja. Perusahaan lah yang akan mendapatkan benefit secara langsung dan signifikan dari apa yang sudah saya kerjakan. Tapi, ketika saya menjadi owner sebuah usaha. Apa yang saya dapatkan akan sebanding dengan apa yang saya kerjakan. Jika saya bekerja 20 jam bisa menghasilkan 20 juta, maka ketika saya lembur untuk menghasilkan 25 juta, saya adalah orang pertama yang menikmati margin sebesar 5 juta itu. Perbedaan yang sungguh sangat signifikan bukan?

Alasan kedua adalah karena sayalah nahkoda yang menentukan kemana usaha saya ini akan berlabuh. Sebagai owner dan managing director, saya bertanggung jawab atas keselamatan serta kesuksesan usaha saya ini. Bak sebuah kapal, saya adalah nahkodanya. Jika bukan saya, siapa lagi yang akan mengarahkan kapal ini? Bisa-bisa kapal justru akan karam tanpa pernah mencapai tujuannya. Betul? Salah satu teman saya, owner dari Death Pomade pernah berujar, “Ini usaha kita. Kalau bukan kita yang berjuang buat usaha ini, siapa lagi? Ya emang harus kerja keras!” Kalimat itu terus saya ingat hingga saat ini. Terutama ketika saya sedang merasakan lelah yang teramat sangat dalam menjalankan usaha ini.

Alasan yang terakhir ini mungkin kesannya penting nggak penting. Terkadang saya pulang malam tidak hanya karena masih ada kerjaan yang menuntut diselesaikan, tetapi untuk membangun network. Kantor yang berlokasi di Muara, sebuah creative space di Solo, memungkinkan saya untuk bertemu banyak orang setiap harinya. Bagi saya, orang-orang ini adalah prospek bisnis yang sangat menjanjikan. Mungkin tidak secara langsung. Tetapi bisa dikatakan sebagai investasi. Networking adalah sebuah faktor yang sering dilupakan oleh orang-orang. Kita sering lupa bahwa network yang baik bisa saja menjadi pintu masuk untuk rejeki bagi kita. Beberapa kali saya mendapatkan project hanya bermodalkan ‘kenalan’ semata. Hanya karena client saya mendapatkan rekomendasi dari seseorang yang kenal dengan saya. The power of networking is so true!! Networking bukanlah hal sepele yang bisa dipandang sebelah mata. Bagi saya, justru network yang baik adalah modal yang cukup penting dalam mengarungi dunia bisnis. 

Saya nggak pernah mengeluh karena sering pulang larut. Saya menikmat segala proses yang sebetulnya cukup melelahkan ini. Karena saya yakin, pada akhirnya sayalah yang akan menikmati hasil dari seluruh kerja keras ini :)


HUSTLE ALL DAY, EVERYDAY!!

Monday, November 28, 2016

YOU HAVEN’T BEEN THERE. STOP COMPARING

“Wah, dia keren, ya bisa begitu!”
“Kok dia bisa begini, ya?”
“Aku juga pengen dong kaya dia yang bisa ini itu!”

Kalimat di atas sering saya denger dari siapapun yang lagi sama saya ketika kebetulan mengagumi seseorang. To be honest, saya ga jarang juga melontarkan kalimat begitu. Yah, setidaknya di dalam hati yang tulus dan penuh cinta ini ~

Buat saya, kepengen jadi kaya anu, kepengen bisa itu, kepengen punya ini itu nggak masalah. Not a big deal. Selama masih relevan dan realistis sih fine. Kecuali kalo kepengen bisa jadi Super Saiya 4 macem Goku ~

But it become a problem after we’re saying we want to be like someone. We start comparing ourselves with anyone bigger or greater than us. Dengan batasan tertentu, hal ini sunggu sangat baik karena bisa jadi motivasi buat diri sendiri. But if you take comparing to the next level, it could be destructive. Saya sering menemui beberapa orang melakukan komparasi tidak secara menyeluruh dan berimbang. Kebanyakan orang cuma ngeliat ketika orang udah jadi besar. Kita jarang ngeliat ketika orang itu berdarah-darah. Kita nggak menyadari apa yang udah dia korbankan untuk bisa sampai di titik tertingginya saat ini. 

Contoh: Darmin adalah seorang mahasiswa Ilmu Fisika saat ini berhasil menjadi pengusaha ternak lele dengan jumlah tambak mencapai ribuan di seluruh Indonesia. Orang-orang hanya akan melihat Darmin sebagai pengusaha lele sukses. Stop. Period. But we don’t see it deeper. Kalo kita mau menggali lebih dalam lagi soal kesuksesan Darmin, kira-kira seperti ini jadinya.

Darmin adalah seorang mahasiswa Ilmu Fisika yang sukses menjadi peternak lele. Darmin menjadi peternak lele setelah pada tahun keduanya kuliah, dia menyadari bahwa ilmu Fisika bukanlah passionnya. Darmin sadar bahwa selama ini ia telah tersesat. Ilmu Fisika adalah pilihan mantannya, bukan pilihan hatinya. Darmin jatuh cinta pada industri ternak lele karena hobinya jajan pecel lele semasa kuliah. Hampir setiap malam Darmin jajan pecel lele belakang kampusnya. Setelah mengamali pergolakan batin yang amat dahsyat, Darmin memutuskan untuk berhenti kuliah. Darmin merasa sudah cukup jauh ia tersesat. Kini saatnya ia menggeluti hal yang ia cintai. Maka, keluarlah ia dari dunia kuliah. Darmin dicap sebagai mahasiswa gagal karena DO. Hal ini tentunya membuat Darmin frustasi. Belum lagi kenyataan pahit yang baru ia sadari bahwa untuk memulai peternakan Lele, Darmin memerlukan modal yang cukup banyak. Bermodalkan menjual vespa kesayangannya, Darmin memulai usaha ternak lelenya. Rugi, ditipu pelanggan, gagal panen sudah menjadi makanan sehari-hari Darmin. Di suatu malam, Darmin pernah berpikir untuk menghentikan usahanya. Darmin menyesal dulu meninggalkan kuliah Ilmu Fisika pilihan mantannya. Darmin sedih. Lagi-lagi Darmin mengalami pergolakan hati yang teramat dahsyat. Cinta yang menang. Maka Darmin tetap melanjutkan usaha ternak lelenya. Berlahan tapi pasti, usaha Darmin mulai berbuah manis. Hingga akhirnya setelah 7 tahun lamanya, Darmin benar-benar memanen hasil manis dari jerih payahnya selama ini. Sekarang ini Darmin memiliki ribuan tambak lele di seluruh Indonesia. 

Nah, jadi cukup panjang dan penuh derita kan? Ternyata Darmin DO. Ternyata Darmin sering rugi. Ternyata Darmin berulangkali ditipu. Ternyata Darmin nyaris mengubur mimpinya. Hal-hal ini yang jarang kita sadari ketika kita melihat kesuksesan seseorang. 

Saya, saat ini masih belum kelar studinya. Saya tercatat sebagai mahasiswa semester dua digit. Pokoknya semester saya bisa membuat orang tua, dosen atau bahkan mahasiswa lainnya memandang saya sebelah mata. But well, that is the price I need to pay for everything I’ve got. Now, I’m running my own agency. Still a small business tho. But I have my faith in this way. Bahkan sempat mendapat kesempatan untuk berbicara di Pinasthika 2016 mengenai seluk beluk mendirikan agency sendiri. Sesuatu yang bahkan dulu tidak pernah saya impikan. Saya pernah hijrah ke ibukota meninggalkan studi untuk bekerja sementara kawan-kawan saya sibuk menyelesaikan studinya di Solo. Saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Karena saya sadar, keputusan-keputusan itulah yang membentuk saya saat ini. Tetapi justru itu yang jarang disadari orang. To be where I stand now, I sacrificed many things. My study, my time, my energy, my thought. You may see me as an owner of digital agency. But you need to know my story behind it. No, we need to know story behind great person. There must be price to paid. Now, every time you see great person, keep this in mind, 


“You haven’t been there. You never know what it takes to be like him or her. You are not him or her. You have your own story and way. So, stop comparing!”

Wednesday, November 23, 2016

Thanks Casey Neistat for Ending Your Vlog

Beberapa hari yang lalu, saya nggak sengaja liat twitnya mas Pandji soal Casey Neistat yang berhenti nge-vlog. Saya sendiri bukan penonton setia channel milik Casey Neistat, tapi melihat fenomena yang aneh ini saya jadi tertarik untuk mampir sejenak di channelnya. Bagaimana tidak, di jaman sekarang ini nge-vlog lagi trend gilak. Rasa-rasanya semua orang berlomba untuk nge-vlog. Tak peduli apakah konten vlog mereka berkualitas atau tidak. Bagi mereka, kualitas nomor dua puluh tujuh, nge-vlog nomor dua, kamu nomor satu. Uhuk. Vlog berubah menjadi sesuatu yang umum. Nge-vlog saat ini mungkin kaya ngetwit beberapa tahun yang lalu. Everybody is on it!! Bahkan, vlog bisa menjadi pundi-pundi rupiah dan pintu gerbang menuju ketenaran. Sudah banyak contoh nyata dari premis tersebut.

Saya hanya beberapa kali menikmati vlog si Casey Neistat, tapi cukup untuk membuat saya sadar bahwa Casey ini getol banget bikin vlog. Rasanya kok hampir setiap hari dia upload vlog baru. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya tau betul gimana beratnya ngedit video. APALAGI KALO SETIAP HARI!! Cuma dua kemungkinannya, antara Casey ini selo banget hidupnya, atau emang dia cinta mati ama vlog. Di video berjudul “I’m Ending The Vlog”, Casey membeberkan rencananya untuk nge-vlog dan alasannya. Sebagai catatan, Casey ini punya subscriber sebanyak 5.862.698 (tertanggal Kamis 24 November)!! Dan rata-rata videonya dilihat jutaan kali. Rasanya makin ga masuk akal kalo orang ini benar-benar mau berhenti nge-vlog. Kalo YouTuber Indonesia berada di posisi Casey, pasti udah memanfaatkan momen ini buat kolaborasi sana sini, bikin project ini itu, jadi buzzer brand anu dan brand inu. Ya karena mereka lagi di puncak karir di dunia YouTube~




Dalam video berdurasi 10 menit ini, Casey menceritakan gimana awalnya dia nge-vlog. He’s doing vlog just to challenge himself. Casey adalah seorang filmmaker. Baginya, vlogging setiap hari bisa menjadi tantangan baru yang menarik. Tantangan yang menuntut dia untuk berkreasi setiap hari. Mencari ide baru untuk vlognya. Casey akan malu kalo konten vlognya caur seadanya. This is the reason why he’s vlogging. Not for the fame nor the money. Menurut Casey, selama dia nge-vlog, dia mendapatkan energi baru setiap harinya. He always wake up with bunch of energy. Like an energizer bunny, he’s working on his vlog. EVERYDAY! NO DAY OFF! Dari vlog terakhirnya ini, saya baru tau kalo Casey sudah berhasil memproduksi sekitar 500 vlog!! So why does he quit? He said that it’s getting easy and bored. He found the pattern. The easiest way to produce vlog. Somehow it takes away the fun. It brings no more energy. It brings no more excitement. So, maybe it’s time to stop. Time to find another new challenge.

Ngeliat vlog terakhir Casey ini bikin saya melongo. Casey, adalah orang yang berani melawan zona nyaman. Dia adalah bukti nyata dari quote ala-ala Tumblr soal zona nyaman. He’s literally leaving his comfort zone behind. Ask this to yourself, “If you have 5 millions subscriber with 2 millions average views, will you stop vlogging?” Mungkin cuma segelintir orang yang berani melakukannya. Apalagi dengan alasan untuk menemukan tantangan baru. Casey, bukannya meninggalkan dunia YouTube, he just want to find another kind of content for his channel. The more challenging one. Suatu tantangan yang memberikan energi setiap harinya. A new purpose. A new goal.

Casey jadi pengingat bagi diri saya sendiri dan mungkin bagi siapapun. Do I wake up with energy to pursue my goals? Do I feel excited everyday? Have I found my way? If the answer is NO, maybe it’s time for us to sit and think for a while. Will I just keep walking like this, or it’s time turn my way around?


Saya bisa membayangkan saat ini Casey tengah tersenyum sambil pusing memikirkan konten apa yang akan ia produksi untuk channel YouTubenya. Ingat, dia sedang tersenyum. 

Thanks, Casey, for reminding us how to live our life :)

Friday, November 18, 2016

Masa Kaya Gitu Aja Harganya Segini

“Masa kaya gitu aja harganya segini, mas?”
Adalah sebuah kalimat yang beberapa waktu belakangan ini sering saya temui pas lagi jualan It’s Banana! Well, belakangan ini saya dan partner in crime saya yang bernama Chandra Eka memutuskan untuk membangun digital agency kami sendiri. Kami, berusaha untuk mematahkan stigma bahwa untuk besar di industri periklanan haruslah hijrah ke Jakarta. Solo, akan menjadi panggung besar kami sendiri. Mari kembali ke kalimat yang bersifat ‘maido’ (bagi yang ga paham arti kata maido sila bertanya kepada kenalannya yang berasal dari Jawa) tadi. Serentetan kalimat di atas seringkali tersaji di akhir sesi presentasi mengenai It’s Banana dan ide yang kami bawa kepada client. Dan percayalah, kalimat tersebut bisa menggagalkan project yang sepertinya akan berjalan mulus. Client senang dengan ide yang kami bawa, konsep cukup kreatif, project management jelas, tapi eh tapi semua harus berhenti ketika membicarakan tentang biaya. Entah hanya terjadi di kota tercinta saya, atau juga ditemukan di kota lainnya, tetapi fenomena “protes soal harga sebuah jasa” ini sungguh menyebalkan. 

Bagi banyak orang, jasa periklanan bukanlah sesuatu yang perlu dibayar dengan nominal yang cukup besar. Mungkin, mereka merasa untuk membuat iklan tidak dibutuhkan skill atau bekal yang cukup. “Ah, kan cuma bikin video YouTube. Saya juga bisa asal ada kameranya!” atau, “Ah, kan cuma bikin copy, saya juga bisa kalau cuma nulis-nulis gitu!” Meminjam kalimat punchline dari kolega saya Ray Rainhard Rahendra seorang digital strategist handal, rasanya pengen deh meluk orang yang ngomong kaya gitu terus ngebisikin cerita nabi-nabi. Lebih pengen lagi nampol dan bilang, “YAUDAH KERJAIN AJA SENDIRI. COBA LIAT DEH HASILNYA KAYA APA!”

Mari berkaca kenapa sebuah jasa harus dibayar dengan harga yang pantas. Ketika kita hire seseorang atau suatu company untuk membantu kita, artinya kita sadar bahwa kita butuh bantuan mereka. Artinya lagi, kita sadar bahwa kita nggak punya skill seperti mereka. Sebagai contoh, seorang copywriter butuh waktu yang panjang untuk menghasilkan copy yang sungguh menancap dan catchy. Mulai dari kuliah di jurusan Komunikasi selama kurang lebih 3-5 tahun. Kemudian dilanjutkan dengan jam terbangnya dalam dunia copywriting. Ditambah lagi mungkin copywriter jempolan ini sudah pernah menghandle client besar di ibukota sana. Yah, singkatnya copy yang dianggap sebagai tulis-menulis sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa saja itu tenyata membutuhkan waktu, tenaga dan perjalanan yang tidak sedikit.

Pekerjaan yang kayanya cuma gitu-gitu aja sebetulnya memiliki banyak detail yang perlu dipikirkan. Designer web perlu mempertimbangkan banyak hal, mulai dari interface, experience hingga estetikanya. Berikut salah satu contoh konkret mengenai detail. Kemarin, salah satu client It’s Banana, Death Pomade mengadakan sesi free haircut sebagai bagian dari campaign yang kami ajukan. Singkat cerita, saya juga ikutan free haircut tersebut. Alasan pertama karena ini gratis dan rambut udah panjang banget. Alasan kedua karena saya penasaran dengan barbernya. Untuk hajatan ini, Death Pomade khusus mendatangkan barber dari Bekasi bernama mas Sidiq. Saya penasaran kenapa harus mendatangkan mas Sidiq jauh-jauh dari planet sebelah *dibakar orang Bekasi*. Padahal di Solo juga banyak barber. “Skillnya beda bro!” ucap Amek sang empunya Death Pomade. Baiklah, mari buktikan skill jempolan mas Sidiq ini. Sebelum rambut saya dipotong, saya ngobrol sedikit dengan mas Sidiq soal metode menentukan jenis rambut buat costumer. Jawaban dari mas Sidiq cukup mengejutkan buat saya. 
“Yang pertama sih saya liat bentuk kepala ama jenis rambutnya, mas,” ujar mas Sidiq. Baiklah ini kalimat standar yang sering saya temui pada barber lainnya di Solo. 
“Terus biasanya saya liat dari karakter customernya, mas,” lanjut mas Sidiq.
 Boooom! Ini yang bikin saya terhenyak. Darimana mas Sidiq bisa menilai karakter customernya? Apakah dari wetonnya? Apakah dari namanya? Apakah mas Sidiq kepo social media customernya dulu?! 
“Liat karakternya darimana, mas?” 
“Dari rambutnya sekarang, mas. Kalo rambutnya keliatan ga pernah disentuh ama sisir, ga bakal saya kasih model rambut classic atau pompadour yang lagi hits sekarang. Kan nggak masuk ama karakternya, mas,” terang mas Sidiq.

Jawaban mas Sidiq mulai meyakinkan saya bahwa memang ia pantas didatangkan jauh-jauh dari Bekasi untuk hajatan Death Pomade kali ini. Proses memotong rambut pun berbeda dengan apa yang biasa saya alami. Beberapa kali mas Sidiq berganti ukuran clipper disesuaikan dengan bentuk rambut yang diinginkan. 2 hal yang membuat saya manggut-manggut. Yang pertama, mas Sidiq bener-bener memperhatikan detail karakter customer. Dia nggak main hajar pake gaya rambut yang lagi trend aja. Tapi benar-benar disesuaikan dengan karakter si customer. Hal yang amat sangat jarang terjadi di barbershop saat ini. Yang kedua, peralatan yang digunakan mas Sidiq selama memotong rambut sangat lengkap. Terhitung mungkin sekitar dua kali mas Sidiq berganti clipper. Lagi-lagi hal yang jarang saya temui ketika potong rambut. Alhasil saya sungguh sangat puas dengan hasilnya. Mas Sidiq menghadiahkan model rambut “messy hair” buat saya. 
“Nah yang kaya gini nggak perlu disisir, mas. Cocok buat, mas,” katanya sambil nyengir.

Detail-detail kecil yang dilakukan oleh mas Sidiq mungkin tidak kita sadari. Apakah kita sadar kalo sebelum memulai prosesi potong rambut, mas Sidiq menilai karakter kita terlebih dahulu. Apakah kita sadar kalo mas Sidiq mendapatkan knowledge bahwa untuk memotong rambut memerlukan beberapa ukuran clipper dari pengalamannya selama bertahun-tahun? Detail kecil seperti inilah yang membedakan kualitas potongan rambut mas Sidiq dengan cukur rambut Madura pinggir jalan yang hanya dibandrol sebesar Rp.5.000,00. Sama dengan jasa-jasa lainnya yang sering ditawar mati-matian harganya oleh client. Copywriter perlu mempertimbangkan psikologis audiencenya untuk bisa membuat copy yang menarik minat beli audiencenya. Seorang web designer perlu mengikuti trend terbaru teknologi saat ini untuk bisa membuat website yang up to date. Seorang digital strategist harus meluangkan waktu memantau trend digital untuk bisa membuat strategi digital terbaik untuk clientnya. Sadarkah kita mengenati detail-detail seperti itu?


We all need to realize that when we hire somebody to help us, it's their skill and time we pay. Skill that we don't have.

Wednesday, November 9, 2016

Daily Digital Dose

Perjalanan menghadiri Pinasthika membekali saya dengan banyak hal. Sejumlah pemikiran, ide dan gagasan muncul di dalam benak saya sepulang dari Jogjakarta. Salah satunya adalah ide untuk memulai sebuah blog yang secara khusus membahas dunia digital. Ide untuk memulai blog baru terkesan sangat tidak relevan karena blog yang satu ini aja udah jarang-jarang update. Tapi justru itu poinnya! Pertama, saya suka ngulik dunia digital. Dan rasanya berbagi mengenai hal-hal yang saya ketahui tentang dunia digital adalah perbuatan yang baik. Siapa tau ada orang yang membutuhkan informasi mengenai dunia digital. Lagipula setahu saya belum banyak blog di Indonesia yang secara khusus membahas dunia digital.

Daily Digital Dose akan berisikan fenomena-fenomena yang terjadi di dunia digital disertai dengan sedikit analisis dari perspektif komunikasi, khususnya advertising. Kenapa daily? I hope I can write something about digital daily. Semoga embel-embel daily ini bisa memotivasi saya untuk menulis secara rutin setiap hari. Sementara ini, saya hanya akan menulis sesuatu tentang digital yang menurut saya menarik. Tidak ada guideline menganai  platform khusus apa yang akan dibahas. As long as it happens in digital I will write it on my blog.

Hope you all will enjoy Daily Digital Dose :)

Sunday, November 6, 2016

Pinasthika 2016: Awake On!!

Bagi para penikmat pariwara, Pinasthika adalah salah satu acara yang rasanya tidak boleh dilewatkan. Bersama dengan Caraka dan Citra Pariwara, Pinasthika masuk ke dalam agenda wajib hadir para insan pariwara. Ketiganya selalu menjadi benchmark bagi pelaku industri kreatif. Kurang afdol rasanya diri ini menyandang status sebagai pelaku periklanan, jika belum pernah berlaga di panggung Pinasthika, Caraka ataupun Citra Pariwara.

Saya, sebagai orang yang mengaku sebagai advertising enthusiast, tentu juga mendambakan untuk bisa mendapatkan sorot lampu pada panggung Pinasthika. Yang sayangnya hingga tahun ini belum bisa saya dapatkan. Tetapi justru tahun ini saya mendapatkan sebuah kesempatan emas untuk terlibat di dalam Pinasthika 2016 sebagai pengisi acara pada acara “Student Day”. Saya terpilih untuk sharing pengalaman dalam membangun agency saya sendiri yang bernama It’s Banana.



Pinasthika 2016, dipenuhi oleh para peminat pariwara. Rasanya saya jadi mengerti kenapa acara yang satu ini begitu ditunggu oleh banyak orang. Sejak awal saya tiba di lokasi, atmosfer kreatif sungguh sangat terasa. Sejauh mata memandang, saya melihat orang-orang yang sangat berminat dengan dunia kreatif dan periklanan. Telinga ini dipenuhi oleh obrolan-obrolan mengenai iklan yang dilontarkan oleh nyaris seluruh orang di lokasi acara. WOW. Luar biasa!!

Selama mengikuti rangkaian acara Pinasthika 2016, saya mendapatkan banyak insight dari seminar yang diadakan. Mulai dari paparan mengenai trend dari Muhammad Faisal (Indonesia Youth Lab) hingga belajar menjadi janggal bersama Dedy Vansophie (BukaLapak), dan materi-materi lainnya. 

Bagi saya, Pinasthika memberikan saya dua pelajaran. Yang pertama, Pinasthika menyadarkan saya bahwa di atas langit masih ada langit. Bertemu dengan begitu banyak orang hebat di bidang periklanan membuat saya sadar betapa kecilnya saya saat ini. Masih ada begitu banyak hal yang harus saya pelajari. Saya masih harus berkembang untuk bisa survive di dunia periklanan ini. Mengingatkan saya untuk tidak mudah puas dan besar kepala. Yang kedua, saya semakin mengerti arti penting menjalin koneksi. Di Pinasthika saya bertemu dengan begitu banyak orang dengan berbagai macam latar belakang dan pengalaman. Saat ini, saya mungkin hanya berkenalan dengan mereka. Mungkin hanya sebatas bertukar kartu nama sambil menikmati secangkir kopi di Starbukcs. Namun, entah apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bisa saja, pertukaran kartu nama itu menjadi salah satu jalan bagi perkembangan karir saya. Who knows? Semangat kolaborasi ini yang coba disampaikan oleh Pinasthika tahun ini, tercermin jelas pada kalimat berikut:
"Mulai berkarya dengan penuh kesadaran, kemudian lakukan yang mungkin lewat kolaborasi & tiba-tiba kita akan bisa melakukan hal yang mustahil bersama-sama #AwakeON"


Pinasthika 2016 sungguh sangat menginspirasi. Semoga saya selalu berkesempatan untuk hadir di tahun-tahun berikutnya. Siapa tau sebagai finalis :)

Friday, October 14, 2016

Which Way (?)

If you sought for a perfection,
You would never found peace.
If you decided to found peace, 
You probably won't get perfection.


So, what do we look for in this world? In this single trip journey, where will we go? What is really matter the most for us? Perfection or peace?

The glory for being number one, the perfect one, the great one. Or, the ability to accept whatever you've become. Living a simple, nice, peace life. But, maybe far from perfection.

Whatever way you choose, it will come along with all the consequences. Nothing come without price. Nothing.

So, which one do you choose?

Tuesday, August 23, 2016

It’s Not What You Do, It’s About How You Do It


Good things, become bad when you do it in a wrong way
Great ideas, become cheap when you don’t know to execute it
Wonderful thinking, left behind when you don’t know how to express it
Average things, become great if you bring it in a spectacular way

Maybe I’m not the best person in the world. I’m not an expertise in this “not what you, but how you do” field. Yet, I experienced the differences made by how you do it. As a bboy, I know that a simple moves like six-step, cc’s, or shuffles can be a great moves when it done right. Bboy Focus from Flow Mo once told me the same thing, “It’s not about what you do, it’s about how it done.”

It goes the same way in daily life. Good things may go wrong when it’s done wrong. Good think may be gone when it spoken wrong. Sometimes, people doing or speaking in a wrong way unconsciously. And sometimes it is the reason why everything goes wrong. Of course I did the same mistake. I’m doing and will do it. But, it’s never too late to learn. To be better. Remember, it’s not about what you do, it’s about how you do it.

Tuesday, April 26, 2016

Pemuda, Mimpi dan Tsubasa Ozora

Mimpi adalah bahan bakar bagi setiap insan manusia untuk tetap bertahan menjalani hidup yang kejam ini. Mimpi adalah alasan bagi setiap individu untuk beranjak dari tempat tidur di setiap kali fajar menyingsing. Mimpi adalah hal yang mahal dan mewah. Karena nyatanya tidak semua orang memiliki mimpi. Kartini memiliki mimpi mengenai emansipasi wanita yang menjadi alasannya berjuang meski dari balik kamar pemingitan. Steve Jobs punya mimpi untuk membuat teknologi yang ‘dekat‘ dengan manusia, yang kemudian membawa Apple Inc menjadi salah perusahaan bernilai paling tinggi melebih Google Inc. Mimpi anak muda saat ini? Kerja. Kerja apa? Pokoknya kerja.
Saat ini saya sedang berada di lingkungan para pencari kerja. Ya, teman-teman saya yang sudah meninggalkan saya wisuda duluan sudah mulai sibuk mencari kerja. Dikelilingi oleh para pencari kerja, membuat saya sadar akan fenomena ‘pokoknya kerja‘ ini. Banyak teman saya yang melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan tanpa kenal lelah. Semangatnya sungguh patut untuk ditiru.
Tetapi, hanya sedikit yang punya pegangan mengenai pekerjaan apa yang mereka inginkan. Sangat jarang saya mendapatkan jawaban, “Pokoknya saya harus jadi akuntan publik!“ atau, “Saya maunya jadi graphic designer!“ ketika menanyakan perihal mau kerja apa ke teman-teman saya yang joob seeker ini. Jawaban didominasi oleh, “Pokoknya kerja. Jalanin aja dulu.“ Baiklah, hidup memang kejam. Sangat kejam. Kekejaman hidup masih harus diperparah dengan tekanan dari keluarga soal kapan kerja. Mungkin hal ini yang membuat banyak mahasiswa fresh graduate terombang-ambing saat harus mencari kerja.
Mimipilah yang bisa menjadi pegangan ketika kita dihempas oleh badai kekejaman hidup. Dengan mimpi, kita tidak akan terombang-ambing di tengah banyaknya pilihan hidup. Hidup seringkali memberikan sesuatu yang jauuuh dari harapan serta perencanaan kita. Ketika kita berharap mendapatkan apel, hidup memberikan baju. Dua hal yang amat sangat tidak sinkron. Tetapi, sadarkah kita jika kita bisa menjual baju tersebut dan uangnya kita gunakan untuk membeli apel?
Hal tersebut hanya bisa disadari oleh orang yang memang memimpikan buah apel. Mimpi akan mendorong kita untuk berjuang habis-habisan hingga tetes darah terakhir, bukannya hanya berdiam diri menerima kenyataan yang ada. Jika kita bermimpi untuk menjadi seorang graphic designer, maka pasti kita akan mengambil jalan-jalan yang mendekatkan kita ke mimpi kita. Mungkin kita akan mengikuti les graphic design, mengikuti lomba design, magang di agency atau apapun yang signifikan dengan mimpi kita.
Mari kita berandai-andai kita adalah Tsubasa Ozora, tokoh fiktif kebanggan dunia sepak bola Jepang yang mungkin lebih jago dari Lionel Messi. Bagi Tsubasa, mimpinya adalah mencetak gol di gawang musuh. Oleh karena itu, tak peduli gimana caranya, dia harus bisa sedikit demi sedikit membawa bola mendekati gawang musuh. Tujuannya jelas ada di depan mata. Dia akan terus berlari ke depan, menuju gawang yang dijaga Wakashimazu (anak 90-an pasti tau siapa dia).
Tsubasa tidak akan berhenti berlari hingga ia berhasil mencetak gol di gawang Wakashimazu dengan tendangan pamungkasnya yang sangat epic itu. Seingat saya dulu ada 1 episode yang hanya digunakan untuk menceritakan prosesi Tsubasa sebelum mengeluarkan tendangan maut ini. Epic bukan? Sekarang, bayangkan Tsubasa tanpa tujuan. Kemana ia harus melangkah? Kemana ia harus mengoper bola? Kemana ia harus menendang? Bisa-bisa malah ia salah mencetak gol ke gawang Wakabayashi. Bisa-bisa ia batal jadi juara bersama dan batal mengangkat bendera bareng Kojiro Hyuga. Hayo ini anak 90-an pasti habis baca tulisan ini langsung ke YouTube buat nostalgia.
Without a goal, it’s impossible to score. Jadi, sudah tau gawang mana yang harus dibobol?
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di siksakampus.com :)

Thursday, April 14, 2016

Kerja (?)

Semalam saya terlibat di dalam sebuah percakapan dengan salah seorang teman saya sembari menyantap semangkok soto di pinggir jalan raya. Chandra, atau yang dikenal sebagai Chanchan, belakangan ini sering menjadi teman saya dalam banyak hal. Teman makan, teman brainstorm, teman rasan-rasan, teman kerja. Memang sejak awal kami sudah berteman cukup dekat, dan sekarang kami tengah merintis sebuah usaha berdua. Usaha yang coba kami bangun atas nama passion.

Niatnya malam itu, di warung soto, kami mau brainstorm mengenai sebuah project. Yap, bisa dibilang project pertama kami. We take it seriously. Karena ini debut perdana kami. Semangkok soto sudah habis, plus dengan jajanannya,  tapi ternyata ide belum terlontar sama sekali. Selepas meneguk es teh manis, kami justru banyak ngobrol soal ranah pekerjaan. Beberapa hari yang lalu saya sempat datang ke job fair di kampus saya. Obrolan kami berawal ketika saya mendeskripsikan bagaimana kondisi sebuah job fair ke Chanchan. Obrolan kami berlanjut, tetapi tidak membahas soal berapa banyak orang yang ada di job fair atau hal lain tentang job fair. Kami membahas tentang definisi pekerjaan itu sendiri.

Jenis pekerjaan sekarang berkembang begitu pesat. Banyak ranah-ranah pekerjaan baru yang bermunculan. Mungkin 15 tahun yang lalu belum ada yang namanya social media strategist, atau content writer. Karena 15 tahun yang lalu belum ada yang namanya Twitter atau social media lainnya. Walaupun mungkin terdengar janggal atau aneh, tapi pekerjaan baru semacam social media strategist tetaplah pekerjaan. Sebuah profesi yang juga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Percakapan seperti ini mungkin saja terjadi antara seorang anak dan orang tuanya :
Orang tua        : “Kamu kerja apa, le?“
Anak                : “Social media strategist, bu, pak“
Orang tua        : ”Hah? Apa itu?”
Anak                : ”Itu, yang kerjaannya seputar social media”
Orang tua        : “Kamu kerjanya cuma mainan social media? Mau jadi apa?”
Anak                : “……..”


Susah memang menjelaskan pekerjaan-pekerjaan kaya gini. Apalagi bagi orang-orang yang mengambil jalur sebagai freelancer. Duh, bisa dilihat sebagai pengangguran yang cuma merepotkan negara. Kerjaannya cuma di rumah melulu, ga pernah ngantor. Lho, padahal namanya freelancer itu kan bisa kerja dimana aja. Bisa di rumah, bisa di café, di rumah pacar, di mana aja lah. Tapi nampaknya kantor masih jadi parameter sebuah pekerjaan yang umum dan dapat diterima masyarakat. Kalau kamu kerja tanpa ke kantor, rasanya kamu belum afdol untuk dibilang punya kerja.
            
Hal ini pernah diutarakan Chanchan kepada orang tuanya ketika mau merintis bisnis bareng saya. Bisnis yang sedang saya rintis saat ini sangat mungkin mendapatkan pandangan-pandangan orang kaya di atas. Kerjanya di rumah, belum ada kantor, jam kerja amat sangat fleksibel. Sangat jauh dari standar sebuah pekerjaan yang dikenal orang saat ini. Tapi untungnya itu tidak menjadi masalah buat kedua orang tua Chanchan, pun dengan orang tua saya. Bagi mereka, yang penting apa yang kami lakukan itu positif, produktif dan memang kami senangi.
            
Dalam KBBI, pekerjaan diartikan sebagai pencaharian; yang dijadikan pokok penghidupan; sesuatu yang dilakukan untuk mendapat nafkah. Jadi, buat seluruh anak muda yang mungkin jalan hidupnya seperti saya, jangan minder. Selama apa yang kalian lakukan itu menghasilkan, kalian berhak dengan bangga menyebutnya sebagai pekerjaan.

Karena kerja, nggak musti selalu di kantor.

Wednesday, March 16, 2016

YOLO

Semalam, saya terlibat di dalam sesi brainstorm bersama salah satu rekan saya di Cangwit Creative Space. Oh iya, Cangwit Creative Space ini dulu awalnya pasar tradisional yang telah disulap menjadi ruang publik yang menyenangkan bagi anak muda. Ada banyak ruang bagi anak-anak muda yang membutuhkan tempat berkarya, ditemani bermacam-macam booth jajanan yang mencegah perut keroncongan. Sok lah main langsung ke Cangwit kalau penasaran. Bisa juga intip-intip dulu Instagramnya disini.
Niatnya, semalam itu saya dan rekan saya mau brainstorm untuk suatu project. Tapi brainstorm hanyalah label.  Kenyataannya dari 3 jam sesi brainstorm, 50% diisi dengan obrolan ngalor ngidul di luar topik brainstorm itu sendiri. Bagian ngobrol ngalor ngidul ini ga kalah seru daripada sesi brainstormnya. Bahkan terkadang justru ide muncul dari obrolan yang entah kemana arah dan tujuannya ini. Semalam kami ngobrol ngalor ngidul mengenai paham YOLO. Yak, frasa You Only Live Once belakangan lagi santer dielu-elukan banyak orang. YOLO dijadikan tameng untuk pemakluman banyak hal.
“Yaelah bro, hidup cuma sekali. Jangan kerja mulu kenapa. Dasar gila harta. Liburan dong!“
“Hidup ini cuma sekali, makanya kerja yang bener biar hidup bisa sejahtera. Jangan main melulu!“
See? YOLO bisa digunakan untuk membenarkan segala hal. Dan saya sendiri sulit menganlisis yang mana sebetulnya penggunaan frasa YOLO yang sebenarnya. Dengan berbekal mie goreng dan melon squash seharga kurang dari 20 ribu rupiah, saya dan teman saya berhasil mengidentifikasi 3 jenis orang yang sering menggunakan frasa YOLO di setiap langkah hidupnya.
YOLO WORKAHOLIC
YOLO WORKAHOLIC ini merupakan tipe YOLO yang paling produktif. Pernah punya kenalan yang doyan banget kerja? Ciri-cirinya : doyan banget kerja, menemukan rasa senang dari kerja, jam kerjanya abstrak (bisa dari pagi ketemu pagi, bisa dari siang sampe malem) dan ambisius bukan main. YOLO tipe ini menyadari bahwa hidup itu cuma sekali, oleh karena itu dia harus bisa jadi sosok yang baik selama hidupnya. Kurang lebih motonya sih, “I have to be the best“. YOLO tipe ini sangat well prepared dan percaya bahwa kerja kerasnya sekarang ini akan berbuah manis kelak. Kerja keras di usia muda, menikmati hasilnya di usia senja. Saya pribadi kenal beberapa orang yang masuk kategori pertama ini. Memang mereka yang YOLO WORKAHOLIC ini bener-bener gila dalam hal kerja. Salah satu kenalan saya pernah bilang ke saya, “Dan, kalo kamu sehari masih tidur selama 6 jam, artinya kerja kamu kurang keras. Dulu jaman saya seumuran kamu, jatah tidur saya paling cuma 3-4 jam.” Gila? Tapi kalo melihat achievement yang sudah diraih dan kehidupannya yang sudah amat sangat settle, rasanya kerja keras di masa mudanya ga sia-sia.  YOLO tipe ini biasanya paling sering dibully dengan kata-kata :
“Kerja mulu, deh”
“Kalem dong hidupnya“
“Ga punya kehidupan sosial ya?”
Tapi ingatlah, yang menikmati buah manis kerja kerasnya bukan orang-orang yang doyan bully itu.
YOLO 50:50
Ini adalah tipe YOLO yang seimbang kaya timbangan gula di pasar tradisional. Mereka yakin hidup itu harus seimbang. Ya ada waktu buat main, ada waktu buat kerja, ada waktu buat ga ngapa-ngapain, waktu buat pacaran. Pokoknya harus seimbang. Tipe ini ga mau mendedikasikan seluruh waktunya buat kerja kaya tipe YOLO WORKAHOLIC. Prinsip hidupnya adalah, hidup biasa aja tidak masalah, yang penting seimbang. Hidup itu kaya yin dan yang. Harus seimbang di setiap sisi kehidupannya. Kerja dapet, main dapet. Serius dapet, senang-senang juga ga kelupaan. Ini merupakan tipe YOLO yang paling banyak saya temui. Bisa dibilang tipe average lah. Karena rasanya hampir tiap orang punya pikiran kaya YOLO 50:50.
POKOKNYA YOLO
Kalau yang ini adalah tipe yang paling santai. Pokoknya YOLO! Hidup itu cuma sekali, nikmatin aja semaksimal mungkin. Caranya? Bersenang-senanglah!! Tipe yang satu ini perasaan hidupnya senang-senang melulu, liburan teruuus. Soal apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan ga jadi masalah buat penganut POKOKNYA YOLO. Yang paling penting adalah gimana caranya menikmati hari ini sebaik mungkin. Karena hidupnya dijalani dengan penuh suka cita, tipe ini merupakan tipe yang paling jarang stress. Social medianya dipenuhi updatean lagi main, lagi liburan, lagi nonton atau lagi ngegame. Buat yang ngerasa ragu apakah tipe ini ada beneran. Coba inget-inget di kampus, pasti kalian punya teman yang santainya bukan main dalam menjalani perkuliahan. Tugas ngerjainnya mepet deadline. Itu aja juga baru tau karena malemnya nanya, “besok ada tugas ga?” Yak, itulah indikasi simple dari para penganut POKOKNYA YOLO!!!

Demikian hasil analisis yang sebetulnya kurang penting ini. Seluruh hasil analisis merupakan intisari dari observasi serta pengamatan langsung peneliti selama hidupnya. Ketiga tipe YOLO ini merupakan temuan asli yang peneliti jumpai di dalam kehidupan nyata. Peneliti memiliki teman, rekan kerja atau sekedar kenalan yang merepresentasikan masing-masing tipe. Meskipun begitu, jangan terlalu anggap serius temuan ini. Karena temuan ini merupakan hasil obrolan serampangan di antara kunyahan mie goreng dan tegukan melon squash.

Sunday, January 24, 2016

A Really Note to Myself

Holaa……
It’s been almost 6 months since I start my first job. September, was my first time had my job as an Account Executive in a digital agency. Well, sometimes life offers you thing you never expect before. I never thought that I would leave my final paper for works. Yap, currently I left my paper. Unfinished. I will come back for it. Later.

One thing that I know about working, it’s not always fun. It is tough, it is hard and sometimes it slaps you right on your face. As a young man, I haven’t got much experiences in this cruel world. Well, we know people says “experience is your best teacher”. So we can say I just have not-the-best teacher. And by time, I realize that experience is not the best teacher. It is the evilest teacher you could have. We all must have a very scary teacher when we’re child. Can you remember your most scary teacher? Try to remember his or her face. Imagine he or she is sitting right in front of you, watching you as you work on some papers. He or she bring a long steel ruler. Like a batter, he or she is ready hit you like a home run if you made a mistake. Even a very small mistake. And when you think you’re doing it right, BAAAAAAAM, your teacher just have a home run, on your face!!! Without information what’s wrong with your work, your teacher just slap you. Bring you down to the deepest and coldest place you could ever imagine. No sign, no warning, just a hook right on your belly. Leaving you laying on the floor, crying, holding on your belly. Well, that sums up how experience teaches you.

And that happens recently in my life. A lot. The hardest thing about this is not how you face the “home run”. You will just feel hurt a little bit while your teacher slap you. But it is the post-home-run process that really hard. I must admit, it could be really hard to get up once again after you’ve been hit really hard. You will feel so scared. You will feel inferior. You start thinking that you’re just a piece of shit in this big bad world and no one will like you. You will see other person like they have a bad thought about you. These all are caused by a mistake. Mistake that could happened to everyone. I’ve figured out a way to overcome this post-home-run syndrome and I got nothing. Until I watched this video from TED. 

This video says that the only person could help you from post-home-run syndrome is yourself. You have to believe in yourself that you could get up once again. If you don’t believe it, no one else will. Question : “How can I convince myself if I still could get up when I’m still laying on the floor?” The answer is : letter for yourself. We – you and I – have done lot of things and unfortunately also lot of mistakes. But, we all must have done lot of great things. This is the point we need to remember. Beside the mistakes we made, we also had achievements. First thing you need to is : type a letter that congrats you for every good thing you’ve done and send it yourself. Sounds like a personal brag list, isn’t it? It’s okay. That’s the point. Try to type letter to yourself as much as possible. It will be your personal supporting team when you’re down. When you really need supports but nobody’s there. Your letter will always be there. You can send it to your mail or hang it beside your mirror. It could be anywhere. Every time you need it, just open it. Every time life gets harder, you have your personal back up.

Well, I think I will start doing this letter to myself method. Since I believe that I will have lot of hard situation in the future. And where will I keep it? I will keep all my letters in this blog. I don’t know if it’s a coincidence or not, but you can see that my blog have a title “Note to Myself”.

So, let’s start sending your own self letters.