Tuesday, April 26, 2016

Pemuda, Mimpi dan Tsubasa Ozora

Mimpi adalah bahan bakar bagi setiap insan manusia untuk tetap bertahan menjalani hidup yang kejam ini. Mimpi adalah alasan bagi setiap individu untuk beranjak dari tempat tidur di setiap kali fajar menyingsing. Mimpi adalah hal yang mahal dan mewah. Karena nyatanya tidak semua orang memiliki mimpi. Kartini memiliki mimpi mengenai emansipasi wanita yang menjadi alasannya berjuang meski dari balik kamar pemingitan. Steve Jobs punya mimpi untuk membuat teknologi yang ‘dekat‘ dengan manusia, yang kemudian membawa Apple Inc menjadi salah perusahaan bernilai paling tinggi melebih Google Inc. Mimpi anak muda saat ini? Kerja. Kerja apa? Pokoknya kerja.
Saat ini saya sedang berada di lingkungan para pencari kerja. Ya, teman-teman saya yang sudah meninggalkan saya wisuda duluan sudah mulai sibuk mencari kerja. Dikelilingi oleh para pencari kerja, membuat saya sadar akan fenomena ‘pokoknya kerja‘ ini. Banyak teman saya yang melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan tanpa kenal lelah. Semangatnya sungguh patut untuk ditiru.
Tetapi, hanya sedikit yang punya pegangan mengenai pekerjaan apa yang mereka inginkan. Sangat jarang saya mendapatkan jawaban, “Pokoknya saya harus jadi akuntan publik!“ atau, “Saya maunya jadi graphic designer!“ ketika menanyakan perihal mau kerja apa ke teman-teman saya yang joob seeker ini. Jawaban didominasi oleh, “Pokoknya kerja. Jalanin aja dulu.“ Baiklah, hidup memang kejam. Sangat kejam. Kekejaman hidup masih harus diperparah dengan tekanan dari keluarga soal kapan kerja. Mungkin hal ini yang membuat banyak mahasiswa fresh graduate terombang-ambing saat harus mencari kerja.
Mimipilah yang bisa menjadi pegangan ketika kita dihempas oleh badai kekejaman hidup. Dengan mimpi, kita tidak akan terombang-ambing di tengah banyaknya pilihan hidup. Hidup seringkali memberikan sesuatu yang jauuuh dari harapan serta perencanaan kita. Ketika kita berharap mendapatkan apel, hidup memberikan baju. Dua hal yang amat sangat tidak sinkron. Tetapi, sadarkah kita jika kita bisa menjual baju tersebut dan uangnya kita gunakan untuk membeli apel?
Hal tersebut hanya bisa disadari oleh orang yang memang memimpikan buah apel. Mimpi akan mendorong kita untuk berjuang habis-habisan hingga tetes darah terakhir, bukannya hanya berdiam diri menerima kenyataan yang ada. Jika kita bermimpi untuk menjadi seorang graphic designer, maka pasti kita akan mengambil jalan-jalan yang mendekatkan kita ke mimpi kita. Mungkin kita akan mengikuti les graphic design, mengikuti lomba design, magang di agency atau apapun yang signifikan dengan mimpi kita.
Mari kita berandai-andai kita adalah Tsubasa Ozora, tokoh fiktif kebanggan dunia sepak bola Jepang yang mungkin lebih jago dari Lionel Messi. Bagi Tsubasa, mimpinya adalah mencetak gol di gawang musuh. Oleh karena itu, tak peduli gimana caranya, dia harus bisa sedikit demi sedikit membawa bola mendekati gawang musuh. Tujuannya jelas ada di depan mata. Dia akan terus berlari ke depan, menuju gawang yang dijaga Wakashimazu (anak 90-an pasti tau siapa dia).
Tsubasa tidak akan berhenti berlari hingga ia berhasil mencetak gol di gawang Wakashimazu dengan tendangan pamungkasnya yang sangat epic itu. Seingat saya dulu ada 1 episode yang hanya digunakan untuk menceritakan prosesi Tsubasa sebelum mengeluarkan tendangan maut ini. Epic bukan? Sekarang, bayangkan Tsubasa tanpa tujuan. Kemana ia harus melangkah? Kemana ia harus mengoper bola? Kemana ia harus menendang? Bisa-bisa malah ia salah mencetak gol ke gawang Wakabayashi. Bisa-bisa ia batal jadi juara bersama dan batal mengangkat bendera bareng Kojiro Hyuga. Hayo ini anak 90-an pasti habis baca tulisan ini langsung ke YouTube buat nostalgia.
Without a goal, it’s impossible to score. Jadi, sudah tau gawang mana yang harus dibobol?
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di siksakampus.com :)

Thursday, April 14, 2016

Kerja (?)

Semalam saya terlibat di dalam sebuah percakapan dengan salah seorang teman saya sembari menyantap semangkok soto di pinggir jalan raya. Chandra, atau yang dikenal sebagai Chanchan, belakangan ini sering menjadi teman saya dalam banyak hal. Teman makan, teman brainstorm, teman rasan-rasan, teman kerja. Memang sejak awal kami sudah berteman cukup dekat, dan sekarang kami tengah merintis sebuah usaha berdua. Usaha yang coba kami bangun atas nama passion.

Niatnya malam itu, di warung soto, kami mau brainstorm mengenai sebuah project. Yap, bisa dibilang project pertama kami. We take it seriously. Karena ini debut perdana kami. Semangkok soto sudah habis, plus dengan jajanannya,  tapi ternyata ide belum terlontar sama sekali. Selepas meneguk es teh manis, kami justru banyak ngobrol soal ranah pekerjaan. Beberapa hari yang lalu saya sempat datang ke job fair di kampus saya. Obrolan kami berawal ketika saya mendeskripsikan bagaimana kondisi sebuah job fair ke Chanchan. Obrolan kami berlanjut, tetapi tidak membahas soal berapa banyak orang yang ada di job fair atau hal lain tentang job fair. Kami membahas tentang definisi pekerjaan itu sendiri.

Jenis pekerjaan sekarang berkembang begitu pesat. Banyak ranah-ranah pekerjaan baru yang bermunculan. Mungkin 15 tahun yang lalu belum ada yang namanya social media strategist, atau content writer. Karena 15 tahun yang lalu belum ada yang namanya Twitter atau social media lainnya. Walaupun mungkin terdengar janggal atau aneh, tapi pekerjaan baru semacam social media strategist tetaplah pekerjaan. Sebuah profesi yang juga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Percakapan seperti ini mungkin saja terjadi antara seorang anak dan orang tuanya :
Orang tua        : “Kamu kerja apa, le?“
Anak                : “Social media strategist, bu, pak“
Orang tua        : ”Hah? Apa itu?”
Anak                : ”Itu, yang kerjaannya seputar social media”
Orang tua        : “Kamu kerjanya cuma mainan social media? Mau jadi apa?”
Anak                : “……..”


Susah memang menjelaskan pekerjaan-pekerjaan kaya gini. Apalagi bagi orang-orang yang mengambil jalur sebagai freelancer. Duh, bisa dilihat sebagai pengangguran yang cuma merepotkan negara. Kerjaannya cuma di rumah melulu, ga pernah ngantor. Lho, padahal namanya freelancer itu kan bisa kerja dimana aja. Bisa di rumah, bisa di café, di rumah pacar, di mana aja lah. Tapi nampaknya kantor masih jadi parameter sebuah pekerjaan yang umum dan dapat diterima masyarakat. Kalau kamu kerja tanpa ke kantor, rasanya kamu belum afdol untuk dibilang punya kerja.
            
Hal ini pernah diutarakan Chanchan kepada orang tuanya ketika mau merintis bisnis bareng saya. Bisnis yang sedang saya rintis saat ini sangat mungkin mendapatkan pandangan-pandangan orang kaya di atas. Kerjanya di rumah, belum ada kantor, jam kerja amat sangat fleksibel. Sangat jauh dari standar sebuah pekerjaan yang dikenal orang saat ini. Tapi untungnya itu tidak menjadi masalah buat kedua orang tua Chanchan, pun dengan orang tua saya. Bagi mereka, yang penting apa yang kami lakukan itu positif, produktif dan memang kami senangi.
            
Dalam KBBI, pekerjaan diartikan sebagai pencaharian; yang dijadikan pokok penghidupan; sesuatu yang dilakukan untuk mendapat nafkah. Jadi, buat seluruh anak muda yang mungkin jalan hidupnya seperti saya, jangan minder. Selama apa yang kalian lakukan itu menghasilkan, kalian berhak dengan bangga menyebutnya sebagai pekerjaan.

Karena kerja, nggak musti selalu di kantor.