Monday, November 28, 2016

YOU HAVEN’T BEEN THERE. STOP COMPARING

“Wah, dia keren, ya bisa begitu!”
“Kok dia bisa begini, ya?”
“Aku juga pengen dong kaya dia yang bisa ini itu!”

Kalimat di atas sering saya denger dari siapapun yang lagi sama saya ketika kebetulan mengagumi seseorang. To be honest, saya ga jarang juga melontarkan kalimat begitu. Yah, setidaknya di dalam hati yang tulus dan penuh cinta ini ~

Buat saya, kepengen jadi kaya anu, kepengen bisa itu, kepengen punya ini itu nggak masalah. Not a big deal. Selama masih relevan dan realistis sih fine. Kecuali kalo kepengen bisa jadi Super Saiya 4 macem Goku ~

But it become a problem after we’re saying we want to be like someone. We start comparing ourselves with anyone bigger or greater than us. Dengan batasan tertentu, hal ini sunggu sangat baik karena bisa jadi motivasi buat diri sendiri. But if you take comparing to the next level, it could be destructive. Saya sering menemui beberapa orang melakukan komparasi tidak secara menyeluruh dan berimbang. Kebanyakan orang cuma ngeliat ketika orang udah jadi besar. Kita jarang ngeliat ketika orang itu berdarah-darah. Kita nggak menyadari apa yang udah dia korbankan untuk bisa sampai di titik tertingginya saat ini. 

Contoh: Darmin adalah seorang mahasiswa Ilmu Fisika saat ini berhasil menjadi pengusaha ternak lele dengan jumlah tambak mencapai ribuan di seluruh Indonesia. Orang-orang hanya akan melihat Darmin sebagai pengusaha lele sukses. Stop. Period. But we don’t see it deeper. Kalo kita mau menggali lebih dalam lagi soal kesuksesan Darmin, kira-kira seperti ini jadinya.

Darmin adalah seorang mahasiswa Ilmu Fisika yang sukses menjadi peternak lele. Darmin menjadi peternak lele setelah pada tahun keduanya kuliah, dia menyadari bahwa ilmu Fisika bukanlah passionnya. Darmin sadar bahwa selama ini ia telah tersesat. Ilmu Fisika adalah pilihan mantannya, bukan pilihan hatinya. Darmin jatuh cinta pada industri ternak lele karena hobinya jajan pecel lele semasa kuliah. Hampir setiap malam Darmin jajan pecel lele belakang kampusnya. Setelah mengamali pergolakan batin yang amat dahsyat, Darmin memutuskan untuk berhenti kuliah. Darmin merasa sudah cukup jauh ia tersesat. Kini saatnya ia menggeluti hal yang ia cintai. Maka, keluarlah ia dari dunia kuliah. Darmin dicap sebagai mahasiswa gagal karena DO. Hal ini tentunya membuat Darmin frustasi. Belum lagi kenyataan pahit yang baru ia sadari bahwa untuk memulai peternakan Lele, Darmin memerlukan modal yang cukup banyak. Bermodalkan menjual vespa kesayangannya, Darmin memulai usaha ternak lelenya. Rugi, ditipu pelanggan, gagal panen sudah menjadi makanan sehari-hari Darmin. Di suatu malam, Darmin pernah berpikir untuk menghentikan usahanya. Darmin menyesal dulu meninggalkan kuliah Ilmu Fisika pilihan mantannya. Darmin sedih. Lagi-lagi Darmin mengalami pergolakan hati yang teramat dahsyat. Cinta yang menang. Maka Darmin tetap melanjutkan usaha ternak lelenya. Berlahan tapi pasti, usaha Darmin mulai berbuah manis. Hingga akhirnya setelah 7 tahun lamanya, Darmin benar-benar memanen hasil manis dari jerih payahnya selama ini. Sekarang ini Darmin memiliki ribuan tambak lele di seluruh Indonesia. 

Nah, jadi cukup panjang dan penuh derita kan? Ternyata Darmin DO. Ternyata Darmin sering rugi. Ternyata Darmin berulangkali ditipu. Ternyata Darmin nyaris mengubur mimpinya. Hal-hal ini yang jarang kita sadari ketika kita melihat kesuksesan seseorang. 

Saya, saat ini masih belum kelar studinya. Saya tercatat sebagai mahasiswa semester dua digit. Pokoknya semester saya bisa membuat orang tua, dosen atau bahkan mahasiswa lainnya memandang saya sebelah mata. But well, that is the price I need to pay for everything I’ve got. Now, I’m running my own agency. Still a small business tho. But I have my faith in this way. Bahkan sempat mendapat kesempatan untuk berbicara di Pinasthika 2016 mengenai seluk beluk mendirikan agency sendiri. Sesuatu yang bahkan dulu tidak pernah saya impikan. Saya pernah hijrah ke ibukota meninggalkan studi untuk bekerja sementara kawan-kawan saya sibuk menyelesaikan studinya di Solo. Saya tidak pernah menyesali keputusan saya. Karena saya sadar, keputusan-keputusan itulah yang membentuk saya saat ini. Tetapi justru itu yang jarang disadari orang. To be where I stand now, I sacrificed many things. My study, my time, my energy, my thought. You may see me as an owner of digital agency. But you need to know my story behind it. No, we need to know story behind great person. There must be price to paid. Now, every time you see great person, keep this in mind, 


“You haven’t been there. You never know what it takes to be like him or her. You are not him or her. You have your own story and way. So, stop comparing!”

Wednesday, November 23, 2016

Thanks Casey Neistat for Ending Your Vlog

Beberapa hari yang lalu, saya nggak sengaja liat twitnya mas Pandji soal Casey Neistat yang berhenti nge-vlog. Saya sendiri bukan penonton setia channel milik Casey Neistat, tapi melihat fenomena yang aneh ini saya jadi tertarik untuk mampir sejenak di channelnya. Bagaimana tidak, di jaman sekarang ini nge-vlog lagi trend gilak. Rasa-rasanya semua orang berlomba untuk nge-vlog. Tak peduli apakah konten vlog mereka berkualitas atau tidak. Bagi mereka, kualitas nomor dua puluh tujuh, nge-vlog nomor dua, kamu nomor satu. Uhuk. Vlog berubah menjadi sesuatu yang umum. Nge-vlog saat ini mungkin kaya ngetwit beberapa tahun yang lalu. Everybody is on it!! Bahkan, vlog bisa menjadi pundi-pundi rupiah dan pintu gerbang menuju ketenaran. Sudah banyak contoh nyata dari premis tersebut.

Saya hanya beberapa kali menikmati vlog si Casey Neistat, tapi cukup untuk membuat saya sadar bahwa Casey ini getol banget bikin vlog. Rasanya kok hampir setiap hari dia upload vlog baru. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya tau betul gimana beratnya ngedit video. APALAGI KALO SETIAP HARI!! Cuma dua kemungkinannya, antara Casey ini selo banget hidupnya, atau emang dia cinta mati ama vlog. Di video berjudul “I’m Ending The Vlog”, Casey membeberkan rencananya untuk nge-vlog dan alasannya. Sebagai catatan, Casey ini punya subscriber sebanyak 5.862.698 (tertanggal Kamis 24 November)!! Dan rata-rata videonya dilihat jutaan kali. Rasanya makin ga masuk akal kalo orang ini benar-benar mau berhenti nge-vlog. Kalo YouTuber Indonesia berada di posisi Casey, pasti udah memanfaatkan momen ini buat kolaborasi sana sini, bikin project ini itu, jadi buzzer brand anu dan brand inu. Ya karena mereka lagi di puncak karir di dunia YouTube~




Dalam video berdurasi 10 menit ini, Casey menceritakan gimana awalnya dia nge-vlog. He’s doing vlog just to challenge himself. Casey adalah seorang filmmaker. Baginya, vlogging setiap hari bisa menjadi tantangan baru yang menarik. Tantangan yang menuntut dia untuk berkreasi setiap hari. Mencari ide baru untuk vlognya. Casey akan malu kalo konten vlognya caur seadanya. This is the reason why he’s vlogging. Not for the fame nor the money. Menurut Casey, selama dia nge-vlog, dia mendapatkan energi baru setiap harinya. He always wake up with bunch of energy. Like an energizer bunny, he’s working on his vlog. EVERYDAY! NO DAY OFF! Dari vlog terakhirnya ini, saya baru tau kalo Casey sudah berhasil memproduksi sekitar 500 vlog!! So why does he quit? He said that it’s getting easy and bored. He found the pattern. The easiest way to produce vlog. Somehow it takes away the fun. It brings no more energy. It brings no more excitement. So, maybe it’s time to stop. Time to find another new challenge.

Ngeliat vlog terakhir Casey ini bikin saya melongo. Casey, adalah orang yang berani melawan zona nyaman. Dia adalah bukti nyata dari quote ala-ala Tumblr soal zona nyaman. He’s literally leaving his comfort zone behind. Ask this to yourself, “If you have 5 millions subscriber with 2 millions average views, will you stop vlogging?” Mungkin cuma segelintir orang yang berani melakukannya. Apalagi dengan alasan untuk menemukan tantangan baru. Casey, bukannya meninggalkan dunia YouTube, he just want to find another kind of content for his channel. The more challenging one. Suatu tantangan yang memberikan energi setiap harinya. A new purpose. A new goal.

Casey jadi pengingat bagi diri saya sendiri dan mungkin bagi siapapun. Do I wake up with energy to pursue my goals? Do I feel excited everyday? Have I found my way? If the answer is NO, maybe it’s time for us to sit and think for a while. Will I just keep walking like this, or it’s time turn my way around?


Saya bisa membayangkan saat ini Casey tengah tersenyum sambil pusing memikirkan konten apa yang akan ia produksi untuk channel YouTubenya. Ingat, dia sedang tersenyum. 

Thanks, Casey, for reminding us how to live our life :)

Friday, November 18, 2016

Masa Kaya Gitu Aja Harganya Segini

“Masa kaya gitu aja harganya segini, mas?”
Adalah sebuah kalimat yang beberapa waktu belakangan ini sering saya temui pas lagi jualan It’s Banana! Well, belakangan ini saya dan partner in crime saya yang bernama Chandra Eka memutuskan untuk membangun digital agency kami sendiri. Kami, berusaha untuk mematahkan stigma bahwa untuk besar di industri periklanan haruslah hijrah ke Jakarta. Solo, akan menjadi panggung besar kami sendiri. Mari kembali ke kalimat yang bersifat ‘maido’ (bagi yang ga paham arti kata maido sila bertanya kepada kenalannya yang berasal dari Jawa) tadi. Serentetan kalimat di atas seringkali tersaji di akhir sesi presentasi mengenai It’s Banana dan ide yang kami bawa kepada client. Dan percayalah, kalimat tersebut bisa menggagalkan project yang sepertinya akan berjalan mulus. Client senang dengan ide yang kami bawa, konsep cukup kreatif, project management jelas, tapi eh tapi semua harus berhenti ketika membicarakan tentang biaya. Entah hanya terjadi di kota tercinta saya, atau juga ditemukan di kota lainnya, tetapi fenomena “protes soal harga sebuah jasa” ini sungguh menyebalkan. 

Bagi banyak orang, jasa periklanan bukanlah sesuatu yang perlu dibayar dengan nominal yang cukup besar. Mungkin, mereka merasa untuk membuat iklan tidak dibutuhkan skill atau bekal yang cukup. “Ah, kan cuma bikin video YouTube. Saya juga bisa asal ada kameranya!” atau, “Ah, kan cuma bikin copy, saya juga bisa kalau cuma nulis-nulis gitu!” Meminjam kalimat punchline dari kolega saya Ray Rainhard Rahendra seorang digital strategist handal, rasanya pengen deh meluk orang yang ngomong kaya gitu terus ngebisikin cerita nabi-nabi. Lebih pengen lagi nampol dan bilang, “YAUDAH KERJAIN AJA SENDIRI. COBA LIAT DEH HASILNYA KAYA APA!”

Mari berkaca kenapa sebuah jasa harus dibayar dengan harga yang pantas. Ketika kita hire seseorang atau suatu company untuk membantu kita, artinya kita sadar bahwa kita butuh bantuan mereka. Artinya lagi, kita sadar bahwa kita nggak punya skill seperti mereka. Sebagai contoh, seorang copywriter butuh waktu yang panjang untuk menghasilkan copy yang sungguh menancap dan catchy. Mulai dari kuliah di jurusan Komunikasi selama kurang lebih 3-5 tahun. Kemudian dilanjutkan dengan jam terbangnya dalam dunia copywriting. Ditambah lagi mungkin copywriter jempolan ini sudah pernah menghandle client besar di ibukota sana. Yah, singkatnya copy yang dianggap sebagai tulis-menulis sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa saja itu tenyata membutuhkan waktu, tenaga dan perjalanan yang tidak sedikit.

Pekerjaan yang kayanya cuma gitu-gitu aja sebetulnya memiliki banyak detail yang perlu dipikirkan. Designer web perlu mempertimbangkan banyak hal, mulai dari interface, experience hingga estetikanya. Berikut salah satu contoh konkret mengenai detail. Kemarin, salah satu client It’s Banana, Death Pomade mengadakan sesi free haircut sebagai bagian dari campaign yang kami ajukan. Singkat cerita, saya juga ikutan free haircut tersebut. Alasan pertama karena ini gratis dan rambut udah panjang banget. Alasan kedua karena saya penasaran dengan barbernya. Untuk hajatan ini, Death Pomade khusus mendatangkan barber dari Bekasi bernama mas Sidiq. Saya penasaran kenapa harus mendatangkan mas Sidiq jauh-jauh dari planet sebelah *dibakar orang Bekasi*. Padahal di Solo juga banyak barber. “Skillnya beda bro!” ucap Amek sang empunya Death Pomade. Baiklah, mari buktikan skill jempolan mas Sidiq ini. Sebelum rambut saya dipotong, saya ngobrol sedikit dengan mas Sidiq soal metode menentukan jenis rambut buat costumer. Jawaban dari mas Sidiq cukup mengejutkan buat saya. 
“Yang pertama sih saya liat bentuk kepala ama jenis rambutnya, mas,” ujar mas Sidiq. Baiklah ini kalimat standar yang sering saya temui pada barber lainnya di Solo. 
“Terus biasanya saya liat dari karakter customernya, mas,” lanjut mas Sidiq.
 Boooom! Ini yang bikin saya terhenyak. Darimana mas Sidiq bisa menilai karakter customernya? Apakah dari wetonnya? Apakah dari namanya? Apakah mas Sidiq kepo social media customernya dulu?! 
“Liat karakternya darimana, mas?” 
“Dari rambutnya sekarang, mas. Kalo rambutnya keliatan ga pernah disentuh ama sisir, ga bakal saya kasih model rambut classic atau pompadour yang lagi hits sekarang. Kan nggak masuk ama karakternya, mas,” terang mas Sidiq.

Jawaban mas Sidiq mulai meyakinkan saya bahwa memang ia pantas didatangkan jauh-jauh dari Bekasi untuk hajatan Death Pomade kali ini. Proses memotong rambut pun berbeda dengan apa yang biasa saya alami. Beberapa kali mas Sidiq berganti ukuran clipper disesuaikan dengan bentuk rambut yang diinginkan. 2 hal yang membuat saya manggut-manggut. Yang pertama, mas Sidiq bener-bener memperhatikan detail karakter customer. Dia nggak main hajar pake gaya rambut yang lagi trend aja. Tapi benar-benar disesuaikan dengan karakter si customer. Hal yang amat sangat jarang terjadi di barbershop saat ini. Yang kedua, peralatan yang digunakan mas Sidiq selama memotong rambut sangat lengkap. Terhitung mungkin sekitar dua kali mas Sidiq berganti clipper. Lagi-lagi hal yang jarang saya temui ketika potong rambut. Alhasil saya sungguh sangat puas dengan hasilnya. Mas Sidiq menghadiahkan model rambut “messy hair” buat saya. 
“Nah yang kaya gini nggak perlu disisir, mas. Cocok buat, mas,” katanya sambil nyengir.

Detail-detail kecil yang dilakukan oleh mas Sidiq mungkin tidak kita sadari. Apakah kita sadar kalo sebelum memulai prosesi potong rambut, mas Sidiq menilai karakter kita terlebih dahulu. Apakah kita sadar kalo mas Sidiq mendapatkan knowledge bahwa untuk memotong rambut memerlukan beberapa ukuran clipper dari pengalamannya selama bertahun-tahun? Detail kecil seperti inilah yang membedakan kualitas potongan rambut mas Sidiq dengan cukur rambut Madura pinggir jalan yang hanya dibandrol sebesar Rp.5.000,00. Sama dengan jasa-jasa lainnya yang sering ditawar mati-matian harganya oleh client. Copywriter perlu mempertimbangkan psikologis audiencenya untuk bisa membuat copy yang menarik minat beli audiencenya. Seorang web designer perlu mengikuti trend terbaru teknologi saat ini untuk bisa membuat website yang up to date. Seorang digital strategist harus meluangkan waktu memantau trend digital untuk bisa membuat strategi digital terbaik untuk clientnya. Sadarkah kita mengenati detail-detail seperti itu?


We all need to realize that when we hire somebody to help us, it's their skill and time we pay. Skill that we don't have.

Wednesday, November 9, 2016

Daily Digital Dose

Perjalanan menghadiri Pinasthika membekali saya dengan banyak hal. Sejumlah pemikiran, ide dan gagasan muncul di dalam benak saya sepulang dari Jogjakarta. Salah satunya adalah ide untuk memulai sebuah blog yang secara khusus membahas dunia digital. Ide untuk memulai blog baru terkesan sangat tidak relevan karena blog yang satu ini aja udah jarang-jarang update. Tapi justru itu poinnya! Pertama, saya suka ngulik dunia digital. Dan rasanya berbagi mengenai hal-hal yang saya ketahui tentang dunia digital adalah perbuatan yang baik. Siapa tau ada orang yang membutuhkan informasi mengenai dunia digital. Lagipula setahu saya belum banyak blog di Indonesia yang secara khusus membahas dunia digital.

Daily Digital Dose akan berisikan fenomena-fenomena yang terjadi di dunia digital disertai dengan sedikit analisis dari perspektif komunikasi, khususnya advertising. Kenapa daily? I hope I can write something about digital daily. Semoga embel-embel daily ini bisa memotivasi saya untuk menulis secara rutin setiap hari. Sementara ini, saya hanya akan menulis sesuatu tentang digital yang menurut saya menarik. Tidak ada guideline menganai  platform khusus apa yang akan dibahas. As long as it happens in digital I will write it on my blog.

Hope you all will enjoy Daily Digital Dose :)

Sunday, November 6, 2016

Pinasthika 2016: Awake On!!

Bagi para penikmat pariwara, Pinasthika adalah salah satu acara yang rasanya tidak boleh dilewatkan. Bersama dengan Caraka dan Citra Pariwara, Pinasthika masuk ke dalam agenda wajib hadir para insan pariwara. Ketiganya selalu menjadi benchmark bagi pelaku industri kreatif. Kurang afdol rasanya diri ini menyandang status sebagai pelaku periklanan, jika belum pernah berlaga di panggung Pinasthika, Caraka ataupun Citra Pariwara.

Saya, sebagai orang yang mengaku sebagai advertising enthusiast, tentu juga mendambakan untuk bisa mendapatkan sorot lampu pada panggung Pinasthika. Yang sayangnya hingga tahun ini belum bisa saya dapatkan. Tetapi justru tahun ini saya mendapatkan sebuah kesempatan emas untuk terlibat di dalam Pinasthika 2016 sebagai pengisi acara pada acara “Student Day”. Saya terpilih untuk sharing pengalaman dalam membangun agency saya sendiri yang bernama It’s Banana.



Pinasthika 2016, dipenuhi oleh para peminat pariwara. Rasanya saya jadi mengerti kenapa acara yang satu ini begitu ditunggu oleh banyak orang. Sejak awal saya tiba di lokasi, atmosfer kreatif sungguh sangat terasa. Sejauh mata memandang, saya melihat orang-orang yang sangat berminat dengan dunia kreatif dan periklanan. Telinga ini dipenuhi oleh obrolan-obrolan mengenai iklan yang dilontarkan oleh nyaris seluruh orang di lokasi acara. WOW. Luar biasa!!

Selama mengikuti rangkaian acara Pinasthika 2016, saya mendapatkan banyak insight dari seminar yang diadakan. Mulai dari paparan mengenai trend dari Muhammad Faisal (Indonesia Youth Lab) hingga belajar menjadi janggal bersama Dedy Vansophie (BukaLapak), dan materi-materi lainnya. 

Bagi saya, Pinasthika memberikan saya dua pelajaran. Yang pertama, Pinasthika menyadarkan saya bahwa di atas langit masih ada langit. Bertemu dengan begitu banyak orang hebat di bidang periklanan membuat saya sadar betapa kecilnya saya saat ini. Masih ada begitu banyak hal yang harus saya pelajari. Saya masih harus berkembang untuk bisa survive di dunia periklanan ini. Mengingatkan saya untuk tidak mudah puas dan besar kepala. Yang kedua, saya semakin mengerti arti penting menjalin koneksi. Di Pinasthika saya bertemu dengan begitu banyak orang dengan berbagai macam latar belakang dan pengalaman. Saat ini, saya mungkin hanya berkenalan dengan mereka. Mungkin hanya sebatas bertukar kartu nama sambil menikmati secangkir kopi di Starbukcs. Namun, entah apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bisa saja, pertukaran kartu nama itu menjadi salah satu jalan bagi perkembangan karir saya. Who knows? Semangat kolaborasi ini yang coba disampaikan oleh Pinasthika tahun ini, tercermin jelas pada kalimat berikut:
"Mulai berkarya dengan penuh kesadaran, kemudian lakukan yang mungkin lewat kolaborasi & tiba-tiba kita akan bisa melakukan hal yang mustahil bersama-sama #AwakeON"


Pinasthika 2016 sungguh sangat menginspirasi. Semoga saya selalu berkesempatan untuk hadir di tahun-tahun berikutnya. Siapa tau sebagai finalis :)