Friday, November 18, 2016

Masa Kaya Gitu Aja Harganya Segini

“Masa kaya gitu aja harganya segini, mas?”
Adalah sebuah kalimat yang beberapa waktu belakangan ini sering saya temui pas lagi jualan It’s Banana! Well, belakangan ini saya dan partner in crime saya yang bernama Chandra Eka memutuskan untuk membangun digital agency kami sendiri. Kami, berusaha untuk mematahkan stigma bahwa untuk besar di industri periklanan haruslah hijrah ke Jakarta. Solo, akan menjadi panggung besar kami sendiri. Mari kembali ke kalimat yang bersifat ‘maido’ (bagi yang ga paham arti kata maido sila bertanya kepada kenalannya yang berasal dari Jawa) tadi. Serentetan kalimat di atas seringkali tersaji di akhir sesi presentasi mengenai It’s Banana dan ide yang kami bawa kepada client. Dan percayalah, kalimat tersebut bisa menggagalkan project yang sepertinya akan berjalan mulus. Client senang dengan ide yang kami bawa, konsep cukup kreatif, project management jelas, tapi eh tapi semua harus berhenti ketika membicarakan tentang biaya. Entah hanya terjadi di kota tercinta saya, atau juga ditemukan di kota lainnya, tetapi fenomena “protes soal harga sebuah jasa” ini sungguh menyebalkan. 

Bagi banyak orang, jasa periklanan bukanlah sesuatu yang perlu dibayar dengan nominal yang cukup besar. Mungkin, mereka merasa untuk membuat iklan tidak dibutuhkan skill atau bekal yang cukup. “Ah, kan cuma bikin video YouTube. Saya juga bisa asal ada kameranya!” atau, “Ah, kan cuma bikin copy, saya juga bisa kalau cuma nulis-nulis gitu!” Meminjam kalimat punchline dari kolega saya Ray Rainhard Rahendra seorang digital strategist handal, rasanya pengen deh meluk orang yang ngomong kaya gitu terus ngebisikin cerita nabi-nabi. Lebih pengen lagi nampol dan bilang, “YAUDAH KERJAIN AJA SENDIRI. COBA LIAT DEH HASILNYA KAYA APA!”

Mari berkaca kenapa sebuah jasa harus dibayar dengan harga yang pantas. Ketika kita hire seseorang atau suatu company untuk membantu kita, artinya kita sadar bahwa kita butuh bantuan mereka. Artinya lagi, kita sadar bahwa kita nggak punya skill seperti mereka. Sebagai contoh, seorang copywriter butuh waktu yang panjang untuk menghasilkan copy yang sungguh menancap dan catchy. Mulai dari kuliah di jurusan Komunikasi selama kurang lebih 3-5 tahun. Kemudian dilanjutkan dengan jam terbangnya dalam dunia copywriting. Ditambah lagi mungkin copywriter jempolan ini sudah pernah menghandle client besar di ibukota sana. Yah, singkatnya copy yang dianggap sebagai tulis-menulis sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa saja itu tenyata membutuhkan waktu, tenaga dan perjalanan yang tidak sedikit.

Pekerjaan yang kayanya cuma gitu-gitu aja sebetulnya memiliki banyak detail yang perlu dipikirkan. Designer web perlu mempertimbangkan banyak hal, mulai dari interface, experience hingga estetikanya. Berikut salah satu contoh konkret mengenai detail. Kemarin, salah satu client It’s Banana, Death Pomade mengadakan sesi free haircut sebagai bagian dari campaign yang kami ajukan. Singkat cerita, saya juga ikutan free haircut tersebut. Alasan pertama karena ini gratis dan rambut udah panjang banget. Alasan kedua karena saya penasaran dengan barbernya. Untuk hajatan ini, Death Pomade khusus mendatangkan barber dari Bekasi bernama mas Sidiq. Saya penasaran kenapa harus mendatangkan mas Sidiq jauh-jauh dari planet sebelah *dibakar orang Bekasi*. Padahal di Solo juga banyak barber. “Skillnya beda bro!” ucap Amek sang empunya Death Pomade. Baiklah, mari buktikan skill jempolan mas Sidiq ini. Sebelum rambut saya dipotong, saya ngobrol sedikit dengan mas Sidiq soal metode menentukan jenis rambut buat costumer. Jawaban dari mas Sidiq cukup mengejutkan buat saya. 
“Yang pertama sih saya liat bentuk kepala ama jenis rambutnya, mas,” ujar mas Sidiq. Baiklah ini kalimat standar yang sering saya temui pada barber lainnya di Solo. 
“Terus biasanya saya liat dari karakter customernya, mas,” lanjut mas Sidiq.
 Boooom! Ini yang bikin saya terhenyak. Darimana mas Sidiq bisa menilai karakter customernya? Apakah dari wetonnya? Apakah dari namanya? Apakah mas Sidiq kepo social media customernya dulu?! 
“Liat karakternya darimana, mas?” 
“Dari rambutnya sekarang, mas. Kalo rambutnya keliatan ga pernah disentuh ama sisir, ga bakal saya kasih model rambut classic atau pompadour yang lagi hits sekarang. Kan nggak masuk ama karakternya, mas,” terang mas Sidiq.

Jawaban mas Sidiq mulai meyakinkan saya bahwa memang ia pantas didatangkan jauh-jauh dari Bekasi untuk hajatan Death Pomade kali ini. Proses memotong rambut pun berbeda dengan apa yang biasa saya alami. Beberapa kali mas Sidiq berganti ukuran clipper disesuaikan dengan bentuk rambut yang diinginkan. 2 hal yang membuat saya manggut-manggut. Yang pertama, mas Sidiq bener-bener memperhatikan detail karakter customer. Dia nggak main hajar pake gaya rambut yang lagi trend aja. Tapi benar-benar disesuaikan dengan karakter si customer. Hal yang amat sangat jarang terjadi di barbershop saat ini. Yang kedua, peralatan yang digunakan mas Sidiq selama memotong rambut sangat lengkap. Terhitung mungkin sekitar dua kali mas Sidiq berganti clipper. Lagi-lagi hal yang jarang saya temui ketika potong rambut. Alhasil saya sungguh sangat puas dengan hasilnya. Mas Sidiq menghadiahkan model rambut “messy hair” buat saya. 
“Nah yang kaya gini nggak perlu disisir, mas. Cocok buat, mas,” katanya sambil nyengir.

Detail-detail kecil yang dilakukan oleh mas Sidiq mungkin tidak kita sadari. Apakah kita sadar kalo sebelum memulai prosesi potong rambut, mas Sidiq menilai karakter kita terlebih dahulu. Apakah kita sadar kalo mas Sidiq mendapatkan knowledge bahwa untuk memotong rambut memerlukan beberapa ukuran clipper dari pengalamannya selama bertahun-tahun? Detail kecil seperti inilah yang membedakan kualitas potongan rambut mas Sidiq dengan cukur rambut Madura pinggir jalan yang hanya dibandrol sebesar Rp.5.000,00. Sama dengan jasa-jasa lainnya yang sering ditawar mati-matian harganya oleh client. Copywriter perlu mempertimbangkan psikologis audiencenya untuk bisa membuat copy yang menarik minat beli audiencenya. Seorang web designer perlu mengikuti trend terbaru teknologi saat ini untuk bisa membuat website yang up to date. Seorang digital strategist harus meluangkan waktu memantau trend digital untuk bisa membuat strategi digital terbaik untuk clientnya. Sadarkah kita mengenati detail-detail seperti itu?


We all need to realize that when we hire somebody to help us, it's their skill and time we pay. Skill that we don't have.

2 comments: