Tuesday, December 27, 2016

Buzzer: It Comes With Great Responsibility (?)

Well, dunia digital membuka banyak jenis pekerjaan baru. Digital strategist, digital media planner, dan buzzer. Buzzer mulai menjadi suatu hal yang common di masyarakat. Bahkan mungkin sekarang adik-adik kita banyak yang pengen jadi buzzer. Iya lah, dengan rate selangit, bisa dibayangkan berapa banyak penghasilan seorang buzzer.

Oke, sebetulnya apa yang diperlukan untuk menjadi seorang buzzer? Apakah hanya sekedar follower? Atau ada faktor lain. Kebetulan hari ini, saya ngelihat ada produk buzz yang bikin hati ini agak tertohok. Mari kita perhatikan seksama:



Hal apa yang terlintas di pikiran Anda pertama kali ngelihat postingan ini? Nggak ada? Semua terlihat normal? Semua baik-baik saja? Oh, Big Ben nya kok miring, ya?

Di benak saya, yang pertama kali kepikiran adalah: “INI APA HUBUNGANNYA ANTARA SUNLIGHT AMA BIG BEN?”
Yang kemudian berlanjut ke: “INI NGEBUZZ YA NGEBUZZ, TAPI TOLONG DONG AGAK KREATIF DIKIT?”
Saya sebel. Sebel setengah mati sama postingan ini. Tapi rasa sebel ini pelan-pelan berganti menjadi: “Ini kalo ada buzzer yang postingnya sembarangan begini, sebetulnya siapa yang salah? Apakah audiencenya yang katrok? Agencynya yang kurang cermat? Atau brand yang ga terlalu picky?”

Kemudian saya merenung.

Buzzer emang menjadi sebuah pilihan bagi brand untuk membantu mereka menyuarakan apapun yang ingin mereka suarakan.  Saya pernah beberapa kali menggunakan bantuan teman-teman buzzer juga. Dan hasilnya memang sangat efektif. Karena memang waktu itu saya kerjasama dengan buzzer yang sudah terjamin kualitasnya. Sebut saja The Popoh, Clara Devi, Cameo Project, dan sebagainya. Satu hal yang saya salut dengan para influencer ini (saya lebih suka menggunakan istilah ini) adalah dedikasi mereka dalam membuat konten. They craft it with their best effort. Bukan yang sembarangan posting. Bukan yang “Ah, penting brandnya keliatan!” Saya sendiri sempat takjub dengan dedikasi dan effort yang mereka berikan dalam mengerjakan sebuah konten untuk ngebuzz suatu brand. Pundi-pundi yang harus dikeluarkan setimpal dengan rasa senang melihat konten berkualitas.

Tapi semakin hari, saya melihat banyak yang mulai mengclaim dirinya sebagai buzzer dengan bermodalkan followers semata. They think because they have massive number of followers, they can be a buzzer. They think being a buzzer means they could post any kind of content. They don’t think about any further aspects. Di posisi ini, saya merasa sedih. 

Entah siapa yang salah? Apakah audience sebegitu ‘bodoh’nya sehingga dianggap akan baik-baik saja menerima postingan buzz seperti itu?
Apakah brand sudah tutup mata dengan kualitas promotional tools yang menyangkut nama mereka sendiri?
Apakah buzzer yang memang juga tidak peduli dengan konten dan pertanggungjawaban mekera sebagai influencer?

Uncle Ben once said, “With great power, come great responsiblity.” And massive followers means great power.


Fin.

5 comments:

  1. untungnya sekarang banyak influencer yg udah organized di 1 network. baik perusahaan gede macem Mavericks, Ogilvy & Publicis, atau.... yg lebih invisible.

    Toh so-called buzzer & opinion leader ini gak cuma masalah promoting barang & effor yg dipake ngepost ky yg dibilang. Tapi mereka juga harus sadar jumlah follower mereka itu banyak & mereka adalah opinion leader, dimana istilahnya cara mereka ngupil/bersin aja ada yg ngikutin.

    HUF.. kejadian yg masih fresh di ingatan ya yg soal buzzing kebakaran hutan beberapa bulan lalu. pelajaran berharga untuk banyak buzzer/influencer di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia, Dit. Opinion Leader itu lho. Mereka jauh lebih berbahaya daripada Venom atau Green Goblin. Ibarat kata mereka bilang bumi itu bentuknya jajar genjang, bisa aja banyak yg percaya, kan.

      Delete
  2. Hi Popon,

    Interesting insight. Aku sekarang kerja di GroupM, meski lebih ke bagian programmatic dan technobabble shit stuffs, tapi juga sering ngelihat gimana digital agency GroupM ngehandle buzzer dan kol kayak gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Daniel,

      Wow. So cool!!
      Padahal setauku buzzer dan KOL ini bener-bener diatur banget sama agency. Ada proses mulai dari guideline smp approval sebelum tayang. Tapi yg ini kok gini, ya?

      Delete
    2. Eciye ada yang reunian :)))
      (Telat nonton dua puluh dua hari)

      Kadang aku kurang sreg juga gimana mereka promosi sesuatu tapi dibikin dalam bentuk games kayak main hashtag yang bau-bau curhat gitu, tanpa ngasih tahu bahwa itu sebenernya kempen tertentu. Tapi bisa jadi ini perasaanku aja sih... Secara pribadi, aku lebih seneng dikasih tahu dari awal kalau hashtag A adalah kempen yang dibawa sama brand X, gitu. Karena ya seperti yang kamu bilang, kadang mereka cuma ngandelin jumlah followers (yang nggak semuanya aware kalau lagi dimanfaatin ketidaktahuannya .__.)

      Delete