Monday, December 5, 2016

HUSTLE ALL DAY, EVERYDAY!!

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Jarum panjang baru beberapa waktu yang lalu melewati angka 12 ketika saya sampai di rumah. Yak, saya baru aja pulang dari kantor. Orang-orang terdekat saya pasti tahu kebiasaan saya ngantor sampai malem begini. Beberapa bahkan ngomel, “Kerja di Jakarta ama di Solo kok sama aja sering pulang malem?” Memang beberapa waktu yang lalu saya sempat bekerja di ibukota. Mencoba mencari ilmu dan pengalaman di kota yang sering disebut sebagai barometer hal apapun di Indonesia. Baru awal 2016, saya kembali ke Solo untuk menuntaskan kewajiban skripsi sembari merintis sebuah usaha sendiri.

Saya menulis blogpost kali ini karena dua hal. Yang pertama karena nggak ngantuk-ngantuk padahal capek, yang kedua untuk sedikit berbagai pengalaman seputar memulai usaha sendiri. Sekilas, kegiatan pulang larut yang sering saya lakoni ini nggak ada bedanya dengan apa yang sering saya lakukan di Jakarta dulu. Jam kerja dimulai dari jam 10 pagi hingga tak terhingga. Hehe. Di Jakarta dulu, sebagai Account Executive, paling cepet saya pulang dari kantor jam 8 malem. Kayanya pulang sebelum jam itu haram hukumnya. Nah, hal ini terulang lagi di Solo. Iya, di Solo. Kota yang katanya masih santai dan bersahabat dengan waktu. Kok bisa? Bisa dong. Nah, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan kenapa saya bisa sampai pulang malem dan kenapa justru pulang malem itu harus saya lakukan.

Sebelum lebih jauh, perlu digarisbawahi bahwa ada perbedaan yang amat sangat signifikan antara pekerjaan saya di Jakarta dan di Solo. Di Jakarta, saya bekerja sebagai seorang Account Executive di salah satu digital agency. Di Solo, saya punya digital agency sendiri, dimana saya berperan sebagai owner sekaligus managin director. Here we go!

Banyak orang bilang, “Ilah, kerja melulu ngapain, sob?! Jangan gila harta, deh!” Ini kalimat yang paling sering saya temui selama ini. Jujur, di awal membangun usaha, saya juga sering mikir gini. Setiap pulang malem selalu mikir, “Kok kerja melulu, ya? Kapan istirahatnya?” Saya sempat mempertanyakan apa bedanya kerja di Jakarta dan di Solo? Padahal katanya Solo lebih nyantai dan lebih bersahabat dengan waktu. Rupanya saya melupakan suatu hal yang amat sangat mendasar. Di Jakarta, saya bekerja sebagai karyawan. Di Solo, saya berperan sebagai owner!! Di Jakarta dulu, setiap lelah bekerja, saya sering mikir, “Udah, ah! Kerja melulu buat kantor. Besok lagi ah!” Sebuah pemikiran yang wajar, sih. Sebab, mau saya kerja sampai gimana juga, gaji saya tetap akan segitu-segitu aja. Perusahaan lah yang akan mendapatkan benefit secara langsung dan signifikan dari apa yang sudah saya kerjakan. Tapi, ketika saya menjadi owner sebuah usaha. Apa yang saya dapatkan akan sebanding dengan apa yang saya kerjakan. Jika saya bekerja 20 jam bisa menghasilkan 20 juta, maka ketika saya lembur untuk menghasilkan 25 juta, saya adalah orang pertama yang menikmati margin sebesar 5 juta itu. Perbedaan yang sungguh sangat signifikan bukan?

Alasan kedua adalah karena sayalah nahkoda yang menentukan kemana usaha saya ini akan berlabuh. Sebagai owner dan managing director, saya bertanggung jawab atas keselamatan serta kesuksesan usaha saya ini. Bak sebuah kapal, saya adalah nahkodanya. Jika bukan saya, siapa lagi yang akan mengarahkan kapal ini? Bisa-bisa kapal justru akan karam tanpa pernah mencapai tujuannya. Betul? Salah satu teman saya, owner dari Death Pomade pernah berujar, “Ini usaha kita. Kalau bukan kita yang berjuang buat usaha ini, siapa lagi? Ya emang harus kerja keras!” Kalimat itu terus saya ingat hingga saat ini. Terutama ketika saya sedang merasakan lelah yang teramat sangat dalam menjalankan usaha ini.

Alasan yang terakhir ini mungkin kesannya penting nggak penting. Terkadang saya pulang malam tidak hanya karena masih ada kerjaan yang menuntut diselesaikan, tetapi untuk membangun network. Kantor yang berlokasi di Muara, sebuah creative space di Solo, memungkinkan saya untuk bertemu banyak orang setiap harinya. Bagi saya, orang-orang ini adalah prospek bisnis yang sangat menjanjikan. Mungkin tidak secara langsung. Tetapi bisa dikatakan sebagai investasi. Networking adalah sebuah faktor yang sering dilupakan oleh orang-orang. Kita sering lupa bahwa network yang baik bisa saja menjadi pintu masuk untuk rejeki bagi kita. Beberapa kali saya mendapatkan project hanya bermodalkan ‘kenalan’ semata. Hanya karena client saya mendapatkan rekomendasi dari seseorang yang kenal dengan saya. The power of networking is so true!! Networking bukanlah hal sepele yang bisa dipandang sebelah mata. Bagi saya, justru network yang baik adalah modal yang cukup penting dalam mengarungi dunia bisnis. 

Saya nggak pernah mengeluh karena sering pulang larut. Saya menikmat segala proses yang sebetulnya cukup melelahkan ini. Karena saya yakin, pada akhirnya sayalah yang akan menikmati hasil dari seluruh kerja keras ini :)


HUSTLE ALL DAY, EVERYDAY!!

4 comments:

  1. Replies
    1. Aku di semangatin juga dong kak?!!

      Delete
    2. Semangat, kak Eka!! Jangan sampai volume perut mengecilkan semangatmu!!

      Delete