Sunday, January 8, 2017

Free Time (?)

“Waktunya lebih fleksibel,” adalah salah satu alasan terbesar orang untuk memulai usahanya sendiri.

Dengan memulai usaha sendiri, memang kita sendiri yang memiliki wewenang penuh untuk mengatur waktu. Mau mulai kerja jam 10:00, boleeeeh. Mau pulang jam 12:00, juga boleeeeh. Bebas. Namanya juga yang punya, bukan karyawan. But, let me explain something to you.

Fleksibilitas waktu yang dielu-elukan itu tidak hanya bersifat positif. It can be fun, but it also can fuck you really hard. Blogpost kali ini terinspirasi dari obrolan saya dengan salah satu teman yang kebetulan beruntung bisa terjun di dunia usaha. Dia bilang kalau dia baru aja balik dari kerja. Waktu itu jarum menunjukkan pukul 22:00. Waktu saya sering lembur di Jakarta aja nggak sampai jam segitu amat pulangnya. Di akhir percakapan, teman saya berujar, “Owner pulang terakhir hal biyasa.”

“OWNER PULANG TERAKHIR HAL BIYASA.”

Kadang orang mengira, dengan memiliki posisi sebagai owner dari sebuah usaha, maka ia akan terbebas dari jeratan waktu. Mau tau-tau liburan, bisaaaa. Lagi males kerja, pengen di rumah aja juga bisaaaaa. SALAH BESAAAR. Yang bener adalah, lebih bebas mengatur waktu. Mengatur, ya, bukan membebaskan diri. Beberapa waktu yang lalu, saya harus mendatangi Malaysia, dalam rangka menengok Upin, Ipin, serta Kak Ros. Karena saya adalah owner, saya tidak perlu ijin siapapun. Saya tidak perlu membuat surat ijin yang menerangkan alasan saya untuk tidak masuk dan segala keribetan lainnya. Stop. Privilege yang saya dapatkan dengan menjadi seorang owner hanya sampai di situ. Sembari nengok Upin Ipin, saya masih harus memantau pekerjaan yang saya tinggal. Kalau saya berposisi sebagai karyawan, pekerjaan yang saya tinggal mungkin hanya memiliki kontribusi sebesar 10% bagi kantor. But, thanks to “co-founder” title on my business card, kontribusi saya ke kantor bisa jadi 80%-100%. So, I can’t completely leave work.

Seperti yang saya bilang di awal, fleksibilitas waktu ini punya dua sisi. Sebuah pandangan yang jarang disadari oleh orang-orang yang kebelet punya usaha supaya waktunya lebih bebas. Jam kerja fleksibel itu bisa berarti:
a. Jam kerja lebih singkat. Kurang dari 8 jam
b. Jam kerja lebih puanjaaaaaaaaang. Bisa jadi 24/7, 365 a year. Nggak sepanjang itu sih. Tapi tetep aja lebih panjang.

Saya lebih sering ngerasain yang opsi B, nih. Boro-boro pulang jam 17:00, tiap hari saya pasti pulang di atas jam 18:00 atau 19:00. Jarang banget saya pulang masih melihat matahari. Tiap pulang pasti hari sudah gelap. Matahari sudah turun dari langit. Weekend? Kalau emang masih ada yang harus dikerjakan, nggak jarang weekend saya serasa weekday. Capek? Ya, capek emang. Tapi emang ini yang harus dilakukan. Harga yang harus dibayar atas tulisan “co-founder” di business card saya. Toh, kalau seluruh pekerjaan berhasil diselesaikan dengan baik, saya sendiri yang merasakan hasilnya.


Jadi, masih yakin dengan konsep FREE TIME seorang pengusaha? Nggak sepenuhnya free memang, tapi worth to try :)

No comments:

Post a Comment